Jumat, 05 Juni 2015

Perlunya Perlindungan Kesehatan Untuk Keluarga


Ilustrasi Sederhana
Asuransi? Sejak kecil keluarga saya sudah mengikuti program asuransi. Dari kecil sampai duduk di bangku SMA saya masih bertanya-tanya, apa sih manfaatnya asuransi? Di pikiran saya saat itu, asuransi adalah hal-hal yang tidak ada manfaatnya sama sekali dan menurut saya hanya buang-buang duit karena tiap bulan harus membayar uang premi kepada perusahaan asuransi.

Selain berpikiran seperti di atas, waktu itu saya juga berpendapat bahwa saya dan keluarga tidak membutuhkan asuransi kesehatan. Saat itu bisa dikatakan kalau saya berpikiran konyol. Di dalam benak saya, saya berpikiran kalau saya dan keluarga kan jarang sakit, selama masih ada tabungan semua pasti gampang diurus dan semua masalah bisa terselesaikan. Lantas untuk apa memiliki asuransi? Kurang lebih seperti itulah yang saya pikirkan.

Namun, seiring berjalannya waktu, saya pun mulai mengerti sedikit demi sedikit tentang asuransi. Pemikiran konyol sewaktu kecil sampai SMA pun mulai terbantahkan. Selain itu, saya di sadarkan oleh pengalaman-pengalaman dan kejadian-kejadian mengenai masalah kesehatan, mulai dari diri pribadi sendiri sampai kejadian yang menimpa keluarga besar saya. 

Pengalaman Pertama 

Pada tahun 2006, saya baru sadar kalau mata saya yang sebelah kanan tidak berfungsi normal seperti mata sebelah kiri. Saat itu saya bercita-cita ingin menjadi polisi. Salah satu syarat untuk tes menjadi anggota polisi adalah kesehatan mata harus berfungsi dua-duanya sebagaimana mestinya. Dari situlah awal mula saya mengetahui kelainan pada mata saya. Nah… Lantas apa hubungannya dengan asuransi.

Demi mengejar cita-cita menjadi seorang taruna polisi, saya pun mulai mengecek kesehatan di PUSKESMAS (maklum di kampung tidak ada rumah sakit). Setelah pemeriksaan selesai, dokter mengatakan kalau mata saya yang sebelah kanan tidak berfungsi dengan baik. Sang dokter pun memberikan rujukan ke rumah sakit yang ada di BAU-BAU, dengan tujuan agar hasil pemeriksaan lebih akurat dan bisa di obati.

Atas rujukan tersebut, saya dan kedua orangtua berangkat ke BAU-BAU. Sesampainya di BAU-BAU, besoknya saya langsung ke rumah sakit sesuai dengan tertera dalam surat rujukan.  Setelah seharian di rumah sakit mengikuti pemeriksaan dan menunggu hasilnya, ternyata hanya resep obat dan rujukan ke RS. Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar.

Saya pun melanjutkan perjalanan sampai ke Makassar untuk memeriksaan kesehatan saya (mata). Sesampainya di Makassar dan setelah besoknya saya mengikuti prosedur pemeriksaan, hasilnya tetap seperti sebelum-sebelumnya dan dokter ahli mata mengatakan tidak bisa menyimpulkan karena informasi yang mereka dapatkan masih kurang.

Untuk pembaca ketahui, selama melakukan pemeriksaan dari awal sampai berakhir di Makassar, saya hanya membayar setengah dari total semua biaya selama pemeriksaan. Semua itu karena keluarga saya menggunakan asuransi kesehatan. 

Pengalaman Kedua 

Pengalaman ini terjadi kurang lebih beberapa tahun yang lalu. Saat itu ada keluarga saya yang sakit dan langsung di rujuk ke RS. Dr. Wahidin Sudirohusodo. Sesampainya di Makassar, kami sekeluarga tidak langsung ke rumah sakit karena hari itu bertepatan dengan hari libur. Besoknya baru kami ke rumah sakit melakukan pemeriksaan. Selama kurang lebih seminggu, kami harus bolak balik ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan mulai dari cek darah, ronsen sampai menunggu hasilnya.

Seminggu sudah berlalu dan dengan deg-degan kami menunggu hasil analisa para dokter. Setelah kurang lebih satu jam mengantri menunggu panggilan, kami pun di panggil dan yang boleh masuk hanya dua orang, sudah termasuk pasien. Saat mereka keluar dan menjelaskan hasil analisa dari dokter, kami sangat kaget. Dari hasil analisa dan pemeriksaan selama seminggu, dokter menyatakan pasien terkena batu ginjal dan harus segera di operasi kalau tidak ingin penyakitnya tambah parah.

Setelah pulang dan berembuk, keluarga memutuskan untuk mengikuti apa yang dikatakan dokter meskipun biayanya mahal. Besoknya kami kembali ke rumah sakit dan sesuai saran dari dokter, pasien dirawat inap mulai hari itu juga. Setelah menunggu empat hari, pasien baru bisa di operasi karena hari itu ruangan tidak ada yang operasi seperti hari sebelumnya yang full.

Waktu yang di nanti-nanti pun tiba. Dokter melakukan tugasnya dengan baik dan operasi berjalan dengan lancar. Setelah operasi, dokter menyampaikan kepada kami sekeluarga kalau pasien harus masih berada di rumah sakit sekitar seminggu lagi. Hal itu di lakukan berdasarkan pengamatan dokter kepada pasien.

Selama seminggu menginap, pasien ternyata membutuhkan banyak darah agar kondisinya cepat pulih. Selama seminggu itu juga, pasien masih berada di ruang ICU. Memasuki minggu kedua setelah operasi, pasien baru bisa di pindahkan ke ruang rawat inap. Hal ini disebabkan pasien lambat dalam penyembuhan pasca operasi.

Hari demi hari berlalu. Tak terasa, dari awal masuk sampai pasien keluar ternyata memakan waktu sebulan. Waktu yang di khawatirkan pun tiba. Apalagi kalau bukan pembayaran semua administrasi dan semua biaya selama masuk, operasi dan rawat inap pasca operasi sampai keluar. Seperti yang kami duga, semuanya memakan biaya yang tidak sedikit.

Sebagai keluarga yang pas-pasan, tentu kami tidak mampu membayar semua itu. Namun, lagi-lagi berkat asuransi yang dimiliki oleh pasien, biaya yang dibayar hanya satu kantong darah karena saat itu stok di rumah sakit kosong akibat banyaknya pasien yang melakukan operasi.

Alhamdulillah, berkat Asuransi keluarga kami bisa lega dan tidak khawatir lagi dengan biaya kesehatan. Dan saya sendiri mendapatkan pelajaran yang sangat berharga lewat asuransi. Sejak saat itu, pikiran secara perlahan-lahan mulai berubah dan saya menyimpulkan bahwa perlindungan kesehatan untuk keluarga itu penting. Salah satunya lewat Asuransi.

Semoga pengalaman yang sedikit ini bisa bermanfaat untuk para pembaca. Jangan takut untuk mendaftarkan diri di asuransi. Apalagi saat ini sudah banyak asuransi yang ditawarkan, tinggal pintarnya kita untuk memilih dan memutuskan mengikuti asuransi yang mana dan tentu saja sesuai dengan penghasilan kita juga. 

Makassar, 5 Juni 2015
Catatan :
*Tulisan lama yang mengendap di word

16 komentar:

  1. Bener ya, pengalaman itu emang guru yang terbaik.

    BalasHapus
  2. Iya memang asuransi itu penting juga... terutama asuransi kesehatan karena kita tidak tahu kapan kita sakit, tapi yg lebih penting lagi menjaga pola hidup yang sehat.. ya nggak ? ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pola hidup sehat tetap di jaga dan merupakan hal yang wajib, tapi bagaimana pun juga harus tetap ada rencana untuk jangka panjang.

      Hapus
  3. Jadi keingat dulu waktu SMK, aku PSG-nya di kantor asuransi. Hehe.
    Asuransi memang mengatasi kebutuhan untuk mendatang yang tak terduga ya, Mas. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, lebih tepatnya seperti itu. Setidaknya untuk jaga-jaga di masa yang akan datang.

      Hapus
  4. Skrg sepertinya udh bnyak yg sadar akan pentingnya ngasuransi...slh satunya daku..
    Sbg antisipasi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe... udah pada melek informasi jaman sekarang.

      Hapus
  5. asuransi memang sangat penting ya apa lagi asuransi kesehatan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lumayan penting juga, apalagi jaman sekarang bermunculan berbagai macam penyakit dengan gampang dan cepat.

      Hapus
  6. Asuransi kalo diingat-ingat memang tidak begitu menonjol manfaatnya, tapi jika suatu waktu kita mengalami hal yang tidak diinginkan dalam kategori kesehatan, disitulah yang namanya asuransi menampakkan diri..
    keren mas pengalamannya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih untuk apresiasinya.
      Itulah kenapa perlu yang namanya rencana jangka panjang. Walaupun manfaat asuransi gak begitu kelihatan, tapi di masa depan kita gak tau apa yang terjadi. Ketika kita tiba-tiba sakit, asuransi baru akan terlihat perannya.

      Hapus
  7. pengalaman yang sangat menarik dan bermanfaat mas. Ternyata asuransi sangat penting sekali :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih untuk apresiasinya. Lumayan penting juga mas, walaupun manfaatnya gak langsung di dapatkan saat itu juga.

      Hapus
  8. Tengkiu yak udh berbagi pengalaman berharganya..
    Aku jg sdg mempertimvangkan yg satu ini selain dana utj pendidikan si kecil..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama.
      Perlu juga tuh dana untuk pendidikan, sehingga ke depan tidak lagi ribet atau kelabakan jika membutuhkan dana darurat.

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...