Untukmu
yang setia di seberang pulau sana. Masih ingat saat pertama kali kita bertemu,
dimana untuk pertama kalinya dalam hidupmu bepergian jauh dan bela-belain
menunggu di bandara hampir sejam lamanya. Dengan was-was dan penuh tanda tanya,
kamu tetap menungguku hingga akhirnya muncul juga di pintu keluar Bandara
Soekarno-Hatta.
Tampilkan postingan dengan label Sosok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosok. Tampilkan semua postingan
Jumat, 25 November 2016
Jumat, 09 September 2016
Ketika Raim La Ode Harus Terhenti di Empat Besar
Tebakan
orang-orang ternyata benar, kalau Raim La Ode yang bakal keluar di 4 besar.
Semua itu sudah terbaca jelas ketika memasuki 5 besar, kata mereka yang
menyaksikan dan memantau terus acara Stand Up Comedy Academi (SUCA) Sesion 2
ini. Entah itu yang selalu nangkring depan TV menyaksikan acara ini Live maupun
mereka yang memanfaatkan teknologi, seperti menonton lewat youtube, video yang
dibagikan di facebook atau media online lainnya.
Jumat, 21 Agustus 2015
Gara-Gara Foto Ini Raditya Dika Di Bully
![]() |
| Sumber : Facebook Raditya Dika |
"Apa
yang salah dengan foto ini?", itulah judul foto yang di upload oleh
komedian ternama Indonesia, Raditya Dika di salah satu akun media sosial
miliknya.
Siapa
sangka berkat foto ini, Raditya Dika sukses menarik perhatian banyak orang.
Namun sayangnya, bukan pujian yang ia dapatkan melainkan bullyan, baik dari
fans sejati maupun fans abal-abal alias fans ikut-ikutan. Tanpa saya jelaskan
pun pasti teman-teman bisa menebak langsung bullyan apa saja yang di terima
oleh Raditya Dika.
Selain
menjadi bahan bullyan, foto Raditya Dika dengan Putri Indonesia ini juga
dijadikan bahan lucu-lucuan, yang dalam bahasa keren anak zaman sekarang adalah
meme. Dimana hanya dengan modal bisa photoshop atau program semacamnya, foto
tersebut bisa berubah menjadi berbagai bentuk yang unik dan lucu.
Minggu, 09 Agustus 2015
Kisah Sang Legenda Hidup "Manny Pacquiao"
![]() |
| Manny Pacquiao |
Manny Pacquiao sepertinya akan jadi legenda yang sulit ditandingi. Petinju Filipina yang hari ini genap berusia 33 tahun itu merupakan petinju pertama yang juara dunia di delapan kelas berbeda. Kedelapan juara itu ia peroleh dari enam badan tinju dunia yaitu WBA, WBC, WBO, IBF, IBO, dan The Ring.
Kamis, 06 Agustus 2015
Adam Khoo, "Si Anak Bodoh" Yang Sukses Jadi Milyarder
![]() |
| Sumber Gambar : Fanpage Adam Khoo |
Pernahkah anda merasa susah dan sulit untuk meraih kesuksesan? Jika ya, maka anda tidak sendirian. What? Karena orang-orang sukses pernah juga mengalami hal demikian. Salah satunya seperti kisah sukses dan penuh inspirasi dari salah seorang milyarder, dimana dulunya ia menganggap dirinya adalah "Anak Bodoh". Orang-orang mengenalnya dengan nama "Adam Khoo".
Jumat, 31 Juli 2015
Memetik Hikmah Dari Kisah Hidup Sukses Nick Vujicic
![]() |
| Memetik Hikmah Dari Kisah Hidup Sukses Nick Vujicic |
Nick Vujicic
adalah seorang sosok yang terlahir cacat dengan banyak kekurangan. Namun
demikian, hal itu tidak menghalanginya untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi
sekitarnya. Bahkan ia sempat depresi dan ingin bunuh diri saat masih berusia 8
tahun. Akan tetapi, kemudian ia sadar bahwa hidup ini harus disyukuri, apapun
keadaannya. Sehingga dengan perlahan-lahan tapi pasti, Nick menjadi seorang
motivator hebat bahkan mendunia dan berhasil memotivasi jutaan orang di seluruh
dunia untuk terus meraih mimpi.
Minggu, 26 Juli 2015
Bill Gates Dan Ramalannya Yang Terbukti
Saya memilih orang yang malas untuk
melakukan pekerjaan yang sulit karena orang malas akan menemukan cara mudah
untuk melakukannya. (Bill Gates Quotes)
Siapa sih yang tidak kenal dengan sosok yang satu ini. Apalagi
belum lama ini kembali dinobatkan sebagai orang paling kaya di dunia. Bahkan terbanyak
menyandang predikat ini dalam kurun waktu dua dekade terakhir ini, yakni
sebanyak 16 kali. Dimana kekayaannya berhasil melampui dan memutus dominasi
pesaing terberatnya Carlos Slim yang selama 4 tahun terakhir selalu menyandang
gelar nomor wahid di dunia dalam hal kekayaan.
Minggu, 31 Mei 2015
Nurdin Abdullah, Sang Pembawa Perubahan di Tanah Bantaeng
![]() |
| Saya, Teman-Teman Kompasianer, dan Bupati Bantaeng, Dok. Ambae |
Di
Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, terdapat seorang sosok yang begitu
mengagumkan. Seorang sosok yang berhasil mengubah wajah kabupaten yang dulunya
tertinggal menjadi indah, rapi, bersih, hijau dan nyaman serta semakin maju.
Semenjak ia di percaya untuk menjadi pemimpin, wajah Bantaeng secara
perlahan-lahan berubah menjadi lebih baik. Berkat ilmu pengetahuan dan
pengalamannya, ia mendedikasikan hari-harinya untuk mengubah Bantaeng menjadi
lebih indah dan nyaman.
Jumat, 29 Mei 2015
Wakaf Untuk Ibu Tercinta
![]() |
| Ilustrasi |
Kasih sayang Ibu terus mengalir dalam setiap doanya dan rasa khawatirnya tentang keadaan kita. Sepanjang hayat kasihnya itu tak kan terbalas dengan apa pun jua. Di setiap darah yang mengalir di tubuh kita saat ini, di setiap aktivitas yang kita lakukan kini, di dalamnya ada jasa Ibu.
Pernahkah terpikir untuk membalas jasa Ibu dengan balasan maksimal yang bisa kita berikan? Mengalirkan pahala untuknya sebagaimana beliau alirkan cinta dan kasihnya kepada kita sepanjang hayat.
Dari Abu Hurairah r.a. bahwa beliau berkata, “Seseorang datang kepada
Rasulullah Saw dan berkata, 'Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus
berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab,
‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’
Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut
bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang
tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu
‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.'” (HR. Bukhari)
Kemudian Rasulullah Saw juga pernah bersabda dalam hadist, dari Abu
Hurairah r.a. bahwa Nabi Muhammad s.a.w bersabda: "Apabila seorang anak
Adam mati putuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, atau
ilmu yang memberi manfaat kepada orang lain atau anak yang soleh yang
berdoa untuk kedua orangtuanya." (Hadits Sahih - Riwayat Muslim dan
lain-lainnya)
Sedekah Jariyah dalam hadits tersebut kita biasa
menyebutnya dengan WAKAF, yakni menyedekahkan harta untuk
kepentingan umat. Harta wakaf tidak boleh berkurang nilainya,
tidak boleh dijual dan tidak boleh diwariskan. Setiap aset wakaf yang
dimanfaatkan untuk kepentingan umat akan mengalirkan pahala kepada
mufakif (orang yang berwakaf) secara terus menerus selama manfaatnya
masih dirasakan oleh umat.
Coba bayangkan! Jika harta Wakaf tersebut atas nama Ibu
kita dan bermanfaat serta untuk kepentingan umat, maka wakaf tersebut Insya Allah akan mengalirkan pahala
terus menerus kepada beliau.
Di saat Ibu menjalani usia senja,
bukan sekadar rumah yang nyaman dan tenang yang beliau butuhkan,
melainkan sebuah lahan pahala yang akan menjadi bekalnya kelak bertemu
dengan Sang Khalik. Bahkan selama aset wakaf atas nama ibu masih
terus bermanfaat bagi umat setelah beliau wafat, pahala itu akan terus
mengalir mengangkat derajatnya.
Wakaf untuk Ibu tercinta adalah sebuah upaya terbaik membalas kebaikannya sekaligus sebagai ungkapan bakti dan cinta terbaik kita kepadanya.
Makassar, 29 Mei 2015
Catatan :
*Di sadur dari status yang ditulis oleh Dompet Dhuafa. Kembali saya tuliskan ke dalam blog pribadi saya sebagai bentuk bantuan, di mana mereka berharap artikel ini di share*
Sabtu, 23 Mei 2015
Di Gedung Bank Indonesia Mimpi Itu Akhirnya Terwujud
Duh, rasanya pagi ini seperti tinggal di desa terpencil. Padahal ini kan salah kota besar di Indonesia loh. Kok bisa ya, tiba-tiba saja berubah mendadak sepi. Rasanya gak seperti hari-hari sebelumnya yang selalu ramai, di mana warga sekitar setiap pagi sudah bersiap-siap untuk menjalani hari dengan berbagai aktivitasnya masing-masing. Dalam keadaan yang masih setengah sadar karena roh alias nyawa belum terkumpul sepenuhnya, aku pun bertanya dalam hati. Apakah gerangan yang terjadi dengan hari ini?
Sambil bertanya-tanya dalam hati, aku pun bangkit dari kasur empuk yang masih saja berusaha sekuat tenaga menggodaku untuk kembali ke dalam pangkuannya. Namun godaan tersebut aku tepis dan segera bangkit menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Setelah cuci muka dan nyawa hampir terisi penuh, aku baru sadar kalau hari ini adalah hari libur alias weekend lagi. Hhhmmm... benar-benar anak rantau yang gak bisa di andalkan plus masuk kategori payah dan sudah mendekati minta ampun.
Sambil bertanya-tanya dalam hati, aku pun bangkit dari kasur empuk yang masih saja berusaha sekuat tenaga menggodaku untuk kembali ke dalam pangkuannya. Namun godaan tersebut aku tepis dan segera bangkit menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Setelah cuci muka dan nyawa hampir terisi penuh, aku baru sadar kalau hari ini adalah hari libur alias weekend lagi. Hhhmmm... benar-benar anak rantau yang gak bisa di andalkan plus masuk kategori payah dan sudah mendekati minta ampun.
Saat nyawa udah terkumpul semua dan sudah 100% persen sadar, segera saja aku menuju halaman depan rumah untuk melakukan sedikit pemanasan dan olahraga. Sesuai kebiasaanku, di mana untuk pemanasan aku melakukan gerakan-gerakan ringan seperti senam atau semacamnya dengan maksud untuk meregangkan otot-otot yang masih kaku. Sedangkan untuk olahraga, karena hari ini tidak jadi lari pagi maka sebagai gantinya aku melakukan push up, loncat-loncat, dan pull up alias bergelantungan (untung saja gak sambil makan pisang).
Oh iya, seperti yang aku katakan di awal memulai tulisan ini, yakni rasanya bagaikan tinggal di daerah terpencil. Pasti ada yang bertanya-tanya dan penasaran kan! Aku mengatakan demikian karena suasana pagi ini begitu menggambarkan suasana pedesaan yang kita semua tahu seperti apa. Kurang lebih seperti itulah suasananya, di mana jauh dari hiruk pikuk kendaraan, udara yang segar dan disambut dengan cuaca yang cerah ceria plus pemandangan pagi yang tak kalah indahnya. Sungguh anugerah yang patut di syukuri dan sayang kalau di biarkan lewat begitu saja.
Ketika sedang asyik-asyiknya menikmati suasana itu, aku baru teringat pada salah satu acara yang kebetulan lokasinya sama dengan daerah aku tinggal saat ini serta diselenggarakan di hari yang sama dengan hari ini, yakni Sabtu 23 Mei 2015. Sebuah acara yang menurut saya sayang bila terlewatkan begitu saja. Tak hanya itu saja, acara ini terbilang penting karena menyangkut masalah perekonomian sebuah negara. Di mana narasumbernya adalah orang-orang yang kompeten, berpengalaman serta mendedikasikan dirinya untuk kemajuan bangsa.
Oh iya, seperti yang aku katakan di awal memulai tulisan ini, yakni rasanya bagaikan tinggal di daerah terpencil. Pasti ada yang bertanya-tanya dan penasaran kan! Aku mengatakan demikian karena suasana pagi ini begitu menggambarkan suasana pedesaan yang kita semua tahu seperti apa. Kurang lebih seperti itulah suasananya, di mana jauh dari hiruk pikuk kendaraan, udara yang segar dan disambut dengan cuaca yang cerah ceria plus pemandangan pagi yang tak kalah indahnya. Sungguh anugerah yang patut di syukuri dan sayang kalau di biarkan lewat begitu saja.
Ketika sedang asyik-asyiknya menikmati suasana itu, aku baru teringat pada salah satu acara yang kebetulan lokasinya sama dengan daerah aku tinggal saat ini serta diselenggarakan di hari yang sama dengan hari ini, yakni Sabtu 23 Mei 2015. Sebuah acara yang menurut saya sayang bila terlewatkan begitu saja. Tak hanya itu saja, acara ini terbilang penting karena menyangkut masalah perekonomian sebuah negara. Di mana narasumbernya adalah orang-orang yang kompeten, berpengalaman serta mendedikasikan dirinya untuk kemajuan bangsa.
![]() | |
| Moderator (Mas Nurulloh) dan Tiga Narasumber, Dok. Hajrah Dwi Anjani |
Acara ini juga di sponsori oleh instansi yang sama, yakni Bank Indonesia yang bekerja sama dengan Kompasiana. Sebagai warga Kompasiana, saya sangat senang dengan diselenggarakannya acara ini. Apalagi ini merupakan acara yang ke-4 yang diselenggarakan oleh Kompasiana di kota Makassar dalam kurun waktu dua bulan terakhir ini. Perasaan senang itu semakin meningkat lagi karena saya pasti akan bertemu lagi dengan salah satu admin Kompasiana.
Singkat cerita, karena tidak ingin ketinggalan acara, saya segera bergegas menuju lokasi. Bahkan saking tidak mau ketinggalan, saya berangkat 45 menit sebelum acara di mulai. Jaraknya sih gak jauh-jauh amat karena bisa di tempuh dengan waktu 15-20 menit jika menggunakan kendaraan pribadi. Apalagi momennya pas bangad, yakni bertepatan dengan weekend, di mana kendaraan yang lalu lalang tak seramai hari senin-jum'at.
Sesampainya di lokasi, saya pun segera bertanya ke satpam mengenai perihal berlangsungnya acara. Dalam hal ini di ruangan mana dan lantai berapa? Karena ini merupakan yang pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Gedung Bank Indonesia wilayah Makassar. Usai bertanya dan benar-benar paham dengan penjelasan satpam, saya pun dengan segera bergegas menuju tempat yang di maksud.
Ternyata... untuk sampai di ruangan yang di maksud harus melewati beberapa pengamanan plus pintu metal detektor. Untung saja barang-barang yang berhubungan dengan dunia Arsitektur, seperti cutter gak ada di dalam tas, sehingga saya bisa melenggang masuk dengan santai tanpa rasa was-was akan di tahan oleh penjaga yang berada di dalam gedung.
Untuk mempersingkat waktu dan berhubung acaranya berada di lantai 4, saya pun memilih menggunakan lift sebagai alternatif. Saat sampai di lantai 4, saya segera menuju meja registrasi yang dijaga oleh seorang wanita cantik (sayang lupa di potret). Di meja itu ternyata terdapat 3 pilihan untuk registrasi, yakni untuk Kompasianer, Mahasiswa dan Komunitas juga (lupa namanya). Walaupun saya masih mahasiswa, tapi saat mendaftar menggunakan akun Kompasiana sehingga registrasinya harus di berita acara milik Kompasiana.
Untuk mempersingkat waktu dan berhubung acaranya berada di lantai 4, saya pun memilih menggunakan lift sebagai alternatif. Saat sampai di lantai 4, saya segera menuju meja registrasi yang dijaga oleh seorang wanita cantik (sayang lupa di potret). Di meja itu ternyata terdapat 3 pilihan untuk registrasi, yakni untuk Kompasianer, Mahasiswa dan Komunitas juga (lupa namanya). Walaupun saya masih mahasiswa, tapi saat mendaftar menggunakan akun Kompasiana sehingga registrasinya harus di berita acara milik Kompasiana.
![]() |
| Peserta Nangkring GNNT Bareng Kompasiana & BI, Sumber Foto : Twitter BI |
Bahkan yang mengejutkan dan sedikit membanggakan disertai sedikit senyuman, yakni saya di kira seorang dosen muda oleh si penjaganya . Ini dikarenakan mereka yang telah dulu datang sebelum saya rata-rata yang sudah memiliki karir, seperti bekerja di sebuah perusahaan, wartawan, dan dosen. Setelah melakukan registrasi, saya segera menuju ruangan dan ternyata di dalam sudah banyak yang hadir. Sambil menunggu acara dimulai, saya menyempatkan diri untuk menyeruput secangkir kopi yang telah disediakan oleh pihak Bank Indonesia sebagai hidangan pembuka dan kebetulan juga saya gak sempat sarapan. Hehehe...
![]() |
| Saya & Kang Pepih Nugraha (CEO Kompasiana), Dok. Pri |
Ketika sedang asyik menyeruput secangkir kopi, tak sengaja melihat seorang sosok yang saya idolakan dalam dunia kepenulisan. Seorang sosok yang dalam kesehariannya selain sebagai penulis, juga merupakan seorang wartawan senior sekaligus CEO Kompasiana. Bagi saya, apa yang saya lihat sungguh merupakan berkah yang tak disangka-sangka. Mengapa? Karena dua hari sebelum acara ini, saya sempat mengomentari statusnya di facebook dan berharap bisa bertemu di acara nangkring tanggal 23 Mei yang di adakan di Makassar.
Siapa sangka, mimpi itu akhirnya terwujud juga di acara nangkring Gerakan Nasional Non Tunai bersama Kompasiana dan Bank Indonesia yang di selenggarakan di Gedung Bank Indonesia wilayah Makassar.
Kesempatan langka ini pun tidak saya sia-siakan, al hasil secangkir kopi yang sebelumnya saya seruput segera saya tinggalkan di atas meja dan bergegas menuju sang idola. Sebagai warga Kompasiana, tak lupa saya memperkenalkan diri sebelum ngobrol singkat dengannya karena sepertinya acara tak lama lagi akan di mulai.
Namun obrolan tak berhenti sampai di situ saja, karena saya masih sempat melanjutkan obrolan setelah acara selesai yang dilanjutkan dengan mengabadikan momen langka saat sedang bersamanya. Dari obrolan singkat itu, satu hal yang saya kagumi, yakni orangnya cerdas, ramah, rendah hati, suka bercanda dan tak sungkan untuk membagikan ilmunya kepada siapa pun.
Siapa sangka, mimpi itu akhirnya terwujud juga di acara nangkring Gerakan Nasional Non Tunai bersama Kompasiana dan Bank Indonesia yang di selenggarakan di Gedung Bank Indonesia wilayah Makassar.
Kesempatan langka ini pun tidak saya sia-siakan, al hasil secangkir kopi yang sebelumnya saya seruput segera saya tinggalkan di atas meja dan bergegas menuju sang idola. Sebagai warga Kompasiana, tak lupa saya memperkenalkan diri sebelum ngobrol singkat dengannya karena sepertinya acara tak lama lagi akan di mulai.
Namun obrolan tak berhenti sampai di situ saja, karena saya masih sempat melanjutkan obrolan setelah acara selesai yang dilanjutkan dengan mengabadikan momen langka saat sedang bersamanya. Dari obrolan singkat itu, satu hal yang saya kagumi, yakni orangnya cerdas, ramah, rendah hati, suka bercanda dan tak sungkan untuk membagikan ilmunya kepada siapa pun.
Makassar, 23 Mei 2015
Catatan :
*Artikel ini saya tulis setelah pulang dari acara nangkring GNNT, lebihnya tepatnya selesai shalat ashar dan baru bisa di posting karena sesuatu hal yang tak bisa di tinggalkan*
Jumat, 22 Mei 2015
Cantik Itu Berani Memutuskan Sesuatu Dengan Tulus dan Ikhlas
![]() |
| Cantik Itu Ialah Berani Memutuskan Pilihan Dengan Tulus |
Banyak orang
menilai segala sesuatunya melalui tampang yang dilihatnya, misalnya mengatakan
cantik pada seorang wanita hanya karena baru melihat wajahnya. Padahal tak
selamanya yang terlihat baik dari luar akan baik juga di dalamnya. Sedangkan
kecantikan yang sesungguhnya adalah terpancar dari lubuk hati yang paling
dalam. Itu menurut saya pribadi, entah bagaimana dengan penilaian orang lain.
Sabtu, 16 Mei 2015
Resensi Buku Revolusi Dari Desa
![]() |
| Dokumen Pribadi |
Judul buku : Revolusi dari Desa (Saatnya dalam Pembangunan Percaya Sepenuhnya Kepada Rakyat)
Penulis : DR.Yansen TP., M.Si.
Editor : Dodi Mawardi
Penerbit : PT Elex Media Komputindo
Tahun Terbit : Cetakan Pertama, 2014
Tebal Buku : xxviii + 180 halaman dan Lampiran 14 halaman
ISBN : 978-602-02-5099-1
Harga : Rp. 57.500,-
Saat
pertama kali melihat judul buku ini, aku jadi teringat kembali akan
kritikan yang di balut dalam sebuah lawakan. Kritikan seorang warga
negara yang lahir di desa dan melihat belum meratanya pembangunan di
negeri ini, khususnya di wilayah pelosok atau desa-desa. Lewat sebuah
acara yang bernama Stand Up Comedy, dia mengutarakan kekecewaan,
kritikan dan saran terhadap pembangunan di negeri ini.
Sebagai
sesama anak desa, aku pun merasakan hal yang sama. Sejak kecil dan
sampai saat ini, aku selalu bermimpi “kapan bisa merasakan apa yang
orang kota rasakan”. Setidaknya bisa merasakan jalanan yang bagus,
aliran air dari pipa PDAM, dan indahnya cahaya lampu saat malam hari.
Tiga hal utama yang selalu di impikan oleh orang desa, bukan hanya aku
seorang.
Namun
apa daya dari tahun ke tahun, keberadaan desa seakan tersisihkan.
Seringkali kemajuan dan perkembangan perkotaan dijadikan tolak ukur
keberhasilan oleh kebanyakan pemerintah. Padahal tanpa disadari desa
juga mempunyai andil dalam kemajuan bangsa ini. Tapi mau bagaimana lagi
fakta mengatakan demikian, keberadaan desa seakan hanya sebagai
pelengkap saja. Bahkan desa seringkali di identikkan dengan
ketidak modernan, terpinggirkan dan keterbelakangan, serta masih menganut
budaya yang di anggap sudah kuno alias ketinggalan zaman.
Akibatnya,
kemajuan dan perkembangan di desa seakan berjalan di tempat dari waktu
ke waktu. Hal ini pula yang menyebabkan kesenjangan sosial semakin jelas
terlihat, yang kaya semakin kaya sedangkan yang miskin tetap dengan
kemiskinannya. Sebuah kondisi yang sudah mengakar begitu lama. Kenyataan
ini menimbulkan pertanyaan besar dan membutuhkan jawaban dengan segera.
Sebuah kenyataan yang harus segera pula dicarikan solusi untuk
mengatasinya.
Permasalahan-permasalahan
di desa pun tidak kalah kompleks dengan masalah di daerah perkotaan.
Tapi apa yang kita lihat, pemerintah lebih banyak memperhatikan masalah
yang di hadapi di perkotaan dan seakan mengesampingkan permasalahan di
desa. Akibatnya, hampir semua pemberitaan yang kita lihat di media
adalah permasalahan orang kota. Bahkan sampai orang desa pun tahu semua
permasalahan yang dialami di perkotaan. Sedangkan orang kota belum tentu
tahu masalah yang di alami oleh orang desa.
Revolusi Dari Desa Ala DR. Yansen
Melihat
persoalan di desa yang demikian kompleks, DR. Yansen TP, M.Si pun
tertantang untuk mengatasi permasalahan yang sudah berpuluh-puluh tahun
mengakar, terutama di Kabupaten Malinau yang beliau pimpin. Dengan
berbekal pengalaman yang panjang dalam dunia praktik pemerintahan dan
dekat dengan masyarakat, membuat beliau cepat memahami
permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat desa, baik
mengenai masalah pemerataan pembangunan maupun kemiskinan yang dari
tahun ke tahun mengalami peningkatan.
Selama
memimpin Malinau, Dr. Yansen TP, M.Si menawarkan gagasan baru agar
pembangunan di negeri ini sebaiknya di mulai dari bawah. Dalam hal ini
pembangunan yang berbasis pedesaan, yang mana bertujuan untuk membangun
desa secara sungguh-sungguh dengan memberikan kepercayaan sepenuhnya
pada masyarakat desa. Sebuah gagasan hasil pemikiran dan pengalaman yang
kini di wujudkan dalam bentuk buku dengan judul “Revolusi dari Desa”.
Revolusi
bila di artikan ke dalam bahasa indonesia memiliki makna perubahan
sosial dan kebudayaan yang berlangsung secara cepat dan menyangkut
pokok-pokok kehidupan masyarakat. Melalui buku “Revolusi dari Desa” ini,
DR. Yansen TP, M.Si ingin mengingatkan pemerintah dalam hal ini
pemerintah pusat bahwa selama ini ada yang salah dengan konsep
pembangunan kita, terutama dalam hal pembangunan di desa-desa. Sebagai
contoh, di era reformasi saat ini pembangunan justru lebih banyak
dilakukan di perkotaan. Salah satu penyebabnya karena masyarakat desa
tidak memiliki akses ke para pembuat kebijakan publik.
Lewat
buku ini, DR. Yansen TP, M.Si menunjukkan pengalaman nyata bukan
sekadar toeri belaka lewat langkah-langkah yang di sebut “revolusioner”
dalam dunia pembangunan. Sebuah konsep yang berbeda dari sebelumnya,
yang mana dilandasi dengan semangat juang untuk menyatukan daya dan
energi demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Bukan
tanpa dasar DR. Yansen TP, M.Si menuangkan buah pikiran dan
pengalamannya ke dalam bentuk buku. Hal ini dilakukan sebagai wujud
tanggung jawabnya untuk generasi yang akan datang.
Pengalaman-pengalamannya tidak perlu diragukan lagi. Beliau telah
mengabdi selama dua puluh enam tahun sebagai seorang birokrat dan di
awali sebagai seorang praktisi di daerah-daerah terpencil. Jabatan camat
dan sekretaris daerah Kabupaten Malinau pun beliau pernah duduki,
sehingga membuat beliau tahu apa yang dibutuhkan oleh masyarakat.
GERDEMA Sebagai Konsep Awal Revolusi dari Desa
Revolusi
dari desa merupakan sebuah gerakan yang dimulai dari bawah, yang juga
bisa diartikan sebagai gerakan dari rakyat untuk kesejahteraan rakyat.
Melalui gerakan revolusi ini, DR. Yansen TP, M.Si mengajak kita untuk
memikirkan kembali konsep pembangunan desa yang selama ini lebih banyak
mengalami kegagalan dibandingkan keberhasilannya.
Lewat
buku ini pula, DR. Yansen TP, M.Si mengajak kita untuk mengubah
paradigma berpikir yang selama ini hanya terpaku pada kebijakan yang
dibuat oleh pemerintah pusat. Padahal belum tentu kebijakan yang dibuat
sesuai dengan karakteristik, potensi, dan permasalahan yang dihadapi
masing-masing daerah.
Tanpa
disadari, DR. Yansen TP, M.Si seakan memberikan peringatan bahwa tidak
selamanya pemerintah pusat mengerti semua kebutuhan masyarakat pedesaan.
Karena sesungguhnya hanyalah desa itu sendiri yang mengerti apa yang
mereka butuhkan. Hal lain yang ingin disampaikan adalah agar masyarakat
memiliki inisiatif, kreatifitas dan inovasi dalam membangun desa dan
mengubah wajah desa masing-masing.
Untuk
itulah, DR. Yansen TP, M.Si dengan ide revolusionernya yang
menginginkan perubahan paradigma berpikir dalam pembangunan menggagas
sebuah gerakan yang dinamakan “Gerakan Desa Membangun”. Sebuah gerakan yang lebih populer disebut GERDEMA,
yang mana dilandasi dengan semangat berjuang untuk meningkatkan
kesejahteraan rakyat. Sebuah program yang tujuan utamanya dari rakyat,
oleh rakyat, dan untuk rakyat. Gerakan ini memiliki cara pandang yang
spesifik dan difokuskan untuk mengatasi pembangunan, serta permasalahan
yang dihadapi oleh masyarakat desa.
Program
GERDEMA sejalan dengan inti pembangunan, yang mana tujuannya adalah
memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada rakyat, yaitu dari rakyat, oleh
rakyat, dan untuk rakyat. Alasan lain berdirinya GERDEMA karena saat
ini semua masalah pembangunan terletak di desa, sehingga fokus
pembangunan harus dimulai dari desa pula.
GERDEMA
merupakan sebuah paradigma baru yang memberikan kepercayaan sepenuhnya
kepada masyarakat desa untuk mengelola dan membangun desa masing-masing.
DR. Yansen TP, M.Si sangat menyadari bahwa masyarakat harus belajar
untuk mandiri dan aktif berpartisipasi dalam pembangunan. Untuk itu,
bimbingan, arahan dan dukungan diberikan oleh pemerintah daerah demi
tercapai gerakan yang digagas oleh bupati Malinau. Ini dilakukan dengan
tujuan agar masyarakat desa memiliki kreatifitas, inisiatif dan inovasi,
sehingga menghasilkan pemerintahan desa yang mandiri.
Meskipun
demikian, DR. Yansen TP, M.Si tetap membutuhkan dukungan peran
pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk mensukseskan program yang
telah beliau gagas. Dalam hal ini arahan dan masukan dari keduanya
sangat bermakna, sehingga tujuan dan sasaran pembangunan tercapai.
Banyak
hal positif dari program GERDEMA yang telah terbukti keberhasilannya,
yang mana seperti dituangkan dalam buku ini. Melalui GERDEMA, kita
diberikan gambaran bahwa dalam pembangunan pemerintah tidak boleh
menyepelekan kekuatan rakyat. Kolaborasi antara pemerintah dan rakyat
perlu ditingkatkan, sehingga kebijakan yang di ambil oleh pemerintah
benar-benar berpihak kepada rakyat dan pembangunan yang diharapkan dapat
tercapai.
Kelebihan dan Kekurangan Buku Revolusi dari Desa
Kelebihan
Buku ini sangat menarik karena mengangkat tema
“Revolusi dari Desa”. Sebuah tema yang mengangkat semua permasalahan yang sudah
mengakar selama puluhan tahun dan disertai dengan solusi untuk menghadapi
permasalahan yang ada. Mengajak kita untuk mengubah paradigma berpikir yang
selama ini seakan tetap ditempat ke arah yang lebih baik lagi. Sedangkan kelebihan lainnya yaitu sampul buku yang menarik, isi
buku yang mendetail, logis dan lengkap.
Kekurangan
Bahasa yang digunakan kebanyakan bahasa ilmiah, yang
mana membutuhkan waktu berulang-ulang untuk membacanya. Butuh pemahaman yang
lebih mendalam untuk mencernanya, sehingga membuat pembaca terlambat dalam
menyerap isi dan maksud yang disampaikan oleh buku tersebut.
Kesimpulan
Buku
“Revolusi dari Desa” bisa dijadikan referensi oleh daerah lain di
seluruh Indonesia, baik mulai tingkat provinsi, kabupaten, kota madya,
kecamatan, maupun pedesaan untuk dijadikan panduan dalam mengelola
daerah masing-masing, sehingga kesejahteraan masyarakat yang di
idam-idamkan dapat terwujud. Utamanya untuk daerah yang banyak memiliki
permasalahan pembangunan.
Makassar, 16 Mei 2015
Catatan :
*Di sadur dari akun Kompasiana Saya dan di daur ulang kembali sekaligus memperbaiki beberapa kesalahan dalam penulisan, khususnya dalam penggunaan kata*
Langganan:
Postingan (Atom)













