Selasa, 17 Maret 2015

Budayakan Membaca Sebelum Komentar?

Budayakan Membaca Sebelum Komentar?
Di jaman modern ini, hampir semua yang kita inginkan bisa didapatkan dengan mudah. Segalanya sudah serba modern, canggih, mudah bahkan tersedia dengan instan. Salah satunya saat kita ingin mendapatkan informasi serta menambah pengetahuan yang dimiliki.

Untuk mendapat semua itu, kita tidak perlu bersusah payah lagi, baik saat ingin mendapatkan informasi masa lampau maupun terbaru. Dengan kecanggihan teknologi saat ini, semuanya bisa kita dapatkan dalam sekejap. Bahkan telah di sajikan dalam berbagai pilihan, sehingga tinggal memilih yang mana yang sesuai dengan selera masing-masing. Semuanya tersedia dalam media cetak dan elektronik. Sedangkan media elektronik masih terbagi lagi menjadi dua, yaitu televisi dan internet yang biasa kita kenal dunia maya.

Ketika berbicara soal dunia maya, pasti semua sudah kenal bahkan mungkin akrab dengan jejaring sosial yang saat ini menjadi fenomenal. Ya… apalagi kalau bukan Facebook dan Twitter. Keduanya bagaikan Romeo dan Juliet yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari dan keberadaannya telah menghipnotis setiap penggunanya.

Seiring berjalannya waktu, pengguna kedua jejaring sosial ini semakin bertambah bahkan media-media lain pun ikut menjadi penggunanya, contohnya seperti media massa. Kehadiran keduanya tidak di sia-siakan oleh media massa untuk menarik minat masyarakat dalam mendapatkan informasi yang up to date. Demi untuk memperoleh pembaca yang banyak, media massa pun ikut ambil bagian untuk menjadi anggota kedua jejaring sosial tersebut.

Akan tetapi, jika diperhatikan dari hari ke hari kadang berita yang di keluarkan antara judul dan isinya bertolak belakang bahkan mengundang kontroversi. Entah itu merupakan bagian dari strategi dalam menarik minat pembaca atau bukan, hanya merekalah yang tahu!

Semakin miris lagi saat melihat komentar yang bermunculan. Banyak pembaca ikut hanyut dengan judul yang berbau kontroversi. Namun ada yang semakin parah lagi, yakni ketika pembaca hanya berpatokan pada judul tanpa membaca dahulu isi dari berita/informasi tersebut. Akibatnya, komentar asal-asalan pun keluar, kadang ada yang menghujat, mencaci, serta mengeluarkan kata-kata sumpah serapah, belum lagi ditambah dengan komentar bernada negatif lainnya. Padahal belum tentu informasi yang diperoleh itu benar adanya.

Mengomentari, menilai dan mengkritik memang merupakan kegiatan yang sangat mudah. Karena yang dilakukan hanyalah berbicara seideal serta sesempurna mungkin seakan-akan paling tahu segalanya untuk sesuatu yang dikomentari. Bahkan tidak jarang untuk selalu mencari kelemahan dan kesalahan.

Hal lain yang sering kita temukan adalah kurangnya minat untuk membaca terlebih dahulu. Memang tidak ada yang melarang atau mengharamkan untuk mengkritik, akan tetapi apa susahnya untuk membiasakan terlebih dahulu membaca sebelum mengomentari informasi yang diterima. Karena dengan membaca terlebih dahulu, komentar, saran dan kritik yang kita ungkapkan menjadi tepat sasaran.

Apa susahnya untuk memberikan komentar sesuai dengan informasi yang di peroleh dan tidak melakukan hal sebaliknya, yang mana kadang memiliki tujuan untuk mencari-cari kesalahan. Dalam berkomentar pun ada etikanya, setidaknya berpikir logis dan sopanlah. Tidak harus menggunakan kata-kata kasar dan semacamnya, tanpa memberikan solusi pula.

So… Apa susahnya untuk membaca terlebih dahulu sebelum memberikan komentar?

Makassar, 17 Maret 2015

34 komentar:

  1. nah mas, setuju!
    budayakan membaca, kemudian berkomentar sesuai isi dari artikelnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe.... sepakat sekali mas, harusnya begitu.

      Hapus
    2. Jangan di jos yah... ntar asyiknya jadi berkurang. Hihihihi...

      Hapus
  2. Itulah sebabnya aku males buka fb dn twitter n fb, mending ngeblog byk tulisan bermanpaat

    BalasHapus
    Balasan
    1. sy sepakat dengan mbak gustyanita pratiwi... di blog lebih byk tulisan yg bernas

      Hapus
    2. Setuju Mba Gustyanita Pratiwi. Lebih baik ngeblog aja karena lebih banyak memberikan manfaat.

      Hapus
  3. begitulah seharusnya, baca artikelnya baru kita komentar
    bukannya mengometari komentar :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mau bagaimana lagi Mba Imerlina, kebiasaan kaya gitu kayanya masih belum bisa di tinggalkan.

      Hapus
  4. betul mas, selain membaca judul harus juga membaca isinya dengan seksama. baru di komen. tapi kalau saya lihat di fb. orang mudah terpancing untuk komen kalau dengan judulnya. terutama kalau berbau politik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak di pancing lagi udah menjadi kebiasaan mas. Kalau mengenai politik kebanyakan masih mendewakan jagoannya masing-masing sehingga seperti itu jadinya. Hanya bermodal pada judul langsung menyerang satu sama lain.

      Hapus
    2. hahahah itulah kenyataan mas :)
      ya itu juga berlaku sama kita mas .
      tapi ada ingin ketawa sama geram plus gemas lihat komen sesama pengguna media.

      Hapus
    3. Cuma ada di Indonesia loh... pengguna media sosialnya banyak macam modelnya. Contoh saat membahas masalah politik dan jagoannya masing-masing dan gak ada yang mau berpikir logis, maunya menang sendiri

      Hapus
    4. betul mas, only in indonesia . heheh

      Hapus
    5. Hehehe... lama-lama kebiasaan demikian bakalan jadi barang langka.

      Hapus
  5. betul mas, kadang saya ngakak sendiri lihat comment di sebuah berita politik
    yang di komentari gak sesuai isi artikel nya, ketahuan cuman baca judul saja :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selain ketahuan cuma baca judulnya, ketahuan juga dodolnya dan kebiasaannya yang gak suka membaca.

      Hapus
  6. Hahaha ini nih... Yang perlu bnyak orang tau. Terutama yg suka komen2 kyak ga berpendidikan itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya udah pada tahu, tapi sayang kebiasaan lama masih gak bisa di tinggalkan saking menempelnya kaya di las.

      Hapus
  7. Judul kadang sengaja dibikin yang kontroversi atau dramatis untuk menarik minat orang, padahal isinya beda

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah... di situlah kejelian pembaca di uji. Apakah mereka suka membaca atau gak.

      Hapus
  8. Setuju mas. Jangan hanya karena judul langsung komen dan akhirnya bablas. Jauh dari isi yang sebenarnyanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu dia yang harus segera di hindari.

      Hapus
  9. kadang artikel sama komentar nya gak nyambung, itu namanya komentar oot..hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehehe.... sudah sering nemuin yang kaya gitu ya Mba Dewi. Kalau saya sendiri bisa di bilang hampir tiap hari.

      Hapus
  10. suka sebel juga kalo nemu artikel yang judulnya berbeda jauh sama isinya, apalagi kalo pas cari referensi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lebih sebel dan kesel lagi kalau isi artikelnya ternyata iklan.

      Hapus
  11. betul sekali, baca terlebih dahulu baru bisa berkomentar, kalau tidak komentarnya akan berbelok-belok. Menurut saya meskipun informasi sekarang mudah di dapat, tetapi terkadang tidak relevan dengan informasi yang di inginkan oleh pengguna, karena itu tugas pustakawan, bukan search engine.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Relevan gak relevan harus siap di terima mas. Semuanya kembali lagi pada pribadi masing-masing dalam mengolah setiap informasi yang di dapatkan.

      Kalau menunggu tugas pustakawan kelamaan mas. Sekarang ini sudah zaman serba teknologi, apalagi abad 21 akan dijadikan abad dunia digital. Mau gak mau semua orang akan selalu berhadapan dengan search engine.

      Hapus
  12. Judul berita di media online banyakan emang geje badai :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya kurang lebih seperti itulah kenyataannya yang terjadi sekarang ini. Media online berlomba-lomba untuk menarik lebih banyak pembaca dengan memberikan judul yang sedikit kontroversi, heboh dan lain sebagainya.

      Hapus
  13. emang sekarang tuh media online suka pasang judul yang cetar membahana, biar narik yang baca, tapi lucunya yang komen nyolot karena terpancing sama judulnya saja. tapi bukan di medsos saja sih, di blog juga banyak nemuin kek gni -,- apalagi yang cuma pengen dikunbal doang, ups

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah... itu dia yang suka nyolot, pengen bangad saya comot kalau ketemu. Mang di blog ada juga yang kaya gitu ya mbak iilajah. Jangan-jangan.... gue lagi, ampun ya mbak.

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...