Sabtu, 09 April 2016

Yang Mulai Hilang Dari Indonesia


Yang Mulai Hilang Dari Indonesia
Kata orang-orang di luar sana (wisatawan), Indonesia itu unik. Di mana hal itu jelas terlihat dari beragamnya budaya, agama, suku, bahasa, dan banyaknya pulau yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Tak hanya itu saja, penduduk Indonesia juga dikenal akan keramahannya dan juga sopan santunnya.

Sayang, di era modern ini, keramahan dan sopan santun itu mulai terkikis perlahan-lahan tanpa di sadari.

Penyebabnya pun banyak sekali, seperti kurangnya didikan dan perhatian dari sebagian para orangtua, hadirnya kemajuan teknologi yang tak bisa di bendung dan membuat kita jadi kaget, dikit-dikit melanggar HAM, dan tak kalah menarik adalah urusan didik mendidik dianggap hanyalah tugas seorang tenaga pengajar alias guru.

Setuju atau tidak, itulah fakta yang terlihat saat ini dan sebagian dari kita tak bisa memungkiri hal itu, karena memang seperti itulah yang terjadi. Salah satu contohnya baru saja terjadi beberapa hari yang lalu, tepat menjelang hari terakhir ujian nasional. Pasti semua tahulah siapa yang saya maksud, karena saya yakin semua sudah melihatnya di televisi atau media sosial masing-masing.

Sikap yang ditunjukkan beberapa hari lalu itu sangat berbeda jauh sekali dengan masa saya kecil dahulu di daerah pedalaman sana alias kampung halaman (Tomia, Wakatobi). Itu menurut pengamatan saya, entah bagaimana dengan pandangan orang lain.

Atau yang lebih ekstrim lagi sangat berbeda jauh dengan zaman tempo dulu. Contohnya seperti yang terjadi pada foto di atas.

Apa yang kamu saksikan pada foto di atas adalah pemandangan yang lazim terjadi tempo dulu. Kala anak-anak murid mau memasuki sekolah tempat menimba ilmu.

Mereka melewati pintu depan yang sudah ditunggu oleh tuan guru. Semua berjalan menunduk sebagai bentuk hormat dan "ngajeni" atau menghargai yang lebih tua.

Berjalan membungkuk bukan hanya sekedar tata cara penghormatan. Tapi juga sebuah simbol mau merendahkan diri kepada manusia lain yang dinilai lebih berat "isinya". Bisa ilmunya, bisa usianya, atau bisa juga karena maqom (kedudukan) yang dimilikinya.

Namun sekarang, hal seperti itu nampaknya sudah mulai hilang dan mungkin saja secara perlahan-lahan hanya tinggal cerita, yang tentunya untuk dikenang serta didengar oleh generasi penerus. Itu pun jika para generasi penerus itu mau mendengarkan.

Saat ini, pendekatan guru sebagai teman terkadang berakibat pada kebablasan. Tak ada lagi sikap sungkan. Atau dalam adat Jawa tak ada lagi ewuh pekewuh (hormat) kepada sang guru. Mengapa? Ya itu tadi, karena sang guru hanya dianggap sebagai teman dan sekadar fasilitator pendidikan saja.

Akibatnya, ketika sang murid melakukan kesalahan dan sang guru menegur bahkan mungkin berujung pada pemberian hukuman, maka sang murid pun nggak terima.

Contoh, di tempeleng. Percaya atau tidak pasti ada saja murid yang melapor komnas HAM. Katanya sih melanggar HAM, padahal kadang kelakuan si murid sudah sangat meresahkan, tak bisa di tolerir, dan sebagainya.

Namun ketika sang murid gagal, maka satu-satunya orang yang disalahkan dan jadi sasaran amukan kedua orangtuanya adalah sang guru.

Saya masih ingat, bagaimana dulu, saya dan kawan-kawan sebaya berlomba menjemput guru kami saat memasuki ruang kelas. Kami ramai-ramai berebutan membawakan tasnya. Yang tak kebagian. Tetap bisa berebut untuk urusan salim mencium tangan.

Diperintah guru mengambil kapur, penghapus, dan kadang penggaris adalah sebuah kebanggaan prestisius. Mengunjunginya saat sakit adalah aturan tak tertulis yang membuat para murid bergegas dan berinisiatif patungan lalu membuat rencana untuk mewujudkan.

Jika melakukan kesalahan, seperti terlambat apel dan terlambat masuk kelas, maka siap-siap hukuman menanti. Hukumannya pun nggak main-main, seperti mengisi air bak kamar mandi/WC sampai penuh, mengumpulkan pasir atau batu dalam jumlah tertentu, di cubit di pinggang sampai merahnya kebangetan, bahkan siap-siap dijemur sambil menghormat bendera merah putih.

Itu belum seberapa, kadang juga menerima hukuman yang lebih ekstrim, yaitu tangan atau kaki kena pukul. Biasanya dipukul menggunakan mistar panjang, balok kayu yang tebalnya sama dengan dua jari, dan nggak kalah menakutkan adalah dipukul pakai bambu (yang ini sakitnya minta ampun). Yang tak kalah menakutkan adalah hukuman yang diterima ditambah lagi oleh orangtua saat sampai di rumah.

Coba bandingkan dengan yang terjadi sekarang ini.

Dari gambaran di atas, baik berupa foto dan juga cerita, semuanya mengajarkan kepada kita untuk belajar tata krama. Tak hanya itu saja, juga mengingatkan kita semua agar selalu siap menerima segala konsekuensi yang datang. Bahkan dengan ikrar tanpa kata. "Bahwa kami ingin diajari menjadi manusia".

Semoga kita kembali menjadi bangsa yang tahu tata krama pada yang tua, dan mengerti bahwa menjaga adab dan sopan santun bukanlah bagian dari keprimitifan.

Cerita Anak Pensiunan Seorang Guru
Makassar, 09 April 2016

Sumber Referensi Tambahan :
http://idnplus.blogspot.co.id 

47 komentar:

  1. Betul sekali. Tata krama terhadap orang yang lebih tua sudah mulai ditinggalkan sehingga banyak dijumpai siswa yang malah melaporkan gurunya padahal guru kadang memberi hukuman untuk kebaikan muridnya juga. Saya rasa hal ini dipengaruhi oleh lingkungan khususnya keluarga yang kadang mengabaikan sikap anaknya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang kurang lebih demikian. Lebih-lebih jika keluarga itu lebih sibuk dengan urusannya masing-masing seperti kerjaan.

      Hapus
  2. Nakalnya anak-anak sekarang udah beda dengan kita dulu, apalagi "penanganan" dari gurunya juga dituntut berbeda, kalau ada yang dirasa keras, siap-siap guru dilaporkan..padahal kuncinya mudah, jangan nakal, guru juga gak akan mungkin menghukum yang nakal...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju Mbak Irly, guru nggak mungkin menghukum muridnya jika tidak melakukan kesalahan yang melanggar aturan, termasuk yang berhubungan dengan tata krama.

      Hapus
  3. Waduh, gua anak zaman sekarang. Apa artinya itu gua nakal?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha... tergantung. Harus saya survey dulu baru bisa tahu.

      Hapus
  4. Penyebabnya apa y mas? Mungkin kebanyakan nonton tv kali, hehe.. Saya setuju sekali dengan tulisan diatas, guru harus dihormati. Kalau nggak hormat sama guru, nggak sopan sama guru, percuma ilmunya nggak berkah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa jadi itu salah satunya. Artinya tontonan sehari-hari sang anak nggak di filter.

      Hapus
  5. Benar bangad, anak zaman sekarang dikit-dikit baper, dikit-dikit galau dan sebagainya. Lingkungan tetap berpengaruh, tapi kalau keluarganya lebih dominan membiarkan begitu saja, maka hasilnya lebih buruk.

    Setuju dengan sarannya, ada baiknya kita mulai membangun budaya itu agar tidak semakin terjerumus ke hal-hal yang lebih fatal lagi.

    BalasHapus
  6. Hmmm, kadar penghormatan terhadap guru memiliki dampak plus-minusnya sendiri-diri. Tapi ya aku akui kalau dewasa ini nilai-nilai kedisiplinan dan kejujuran mulai memudar. Baik itu bagi generasi muda maupun untuk generasi tua.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, pasti ada plus-minusnya. Tapi kalau nggak kaya gitu (saling menghormati), generasi selanjutnya bakalan semakin rusak.

      Hapus
  7. sebagai ayah
    saya musti membekali dan memberi contoh pada anak-anak dg sikap yang baik
    salam sehat dan semangat amin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju pak, orangtua harus menjadi contoh yang baik pada anak-anaknya.

      Hapus
  8. tentang attitude gini... aku speechless. Entahlah... takut salah mengomentari.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kenapa takut mbak. Ini kan jaman bebas mengeluarkan pendapat, yang penting masih dalam hal wajar sesuai apa yang dilihat dan juga keresahan yang dirasakan.

      Hapus
  9. memang zaman dulu dengan sekarang beda, sekarang ini nakalnya sudah pada kelewatan dan keluar batas. pacaran aja sampai segitunya. nakalnya mending nakal yang zaman dulu. :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yah... Itulah fakta yang bakalan menjadi PR besar untuk segera kita ubah sebelum terlambat.

      Hapus
  10. masuknya budaya luar secara masive ke indonesia memang akan berakibat buruk dan mirisnya, warga kita suka dengan budaya luar tsb :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu dia yang jadi masalah, kebanyakan orang lebih suka dengan budaya luar dibandingkan dengan budayanya sendiri. Kalau dibiarkan terus bakalan menjadi masalah besar ke depannya.

      Hapus
  11. Penyebabnya karena adat istria date ditinmggalkan. Kita menganut ajaran agama belum paham dan mengikuti tinggal polah ajaran kebebasan yg kebablasan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yah, salah satunya itu. Adat istiadat mulai ditinggalkan dengan alasan mengikuti zaman yang sudah modern.

      Hapus
  12. Penyebabnya karena adat istria date ditinmggalkan. Kita menganut ajaran agama belum paham dan mengikuti tinggal polah ajaran kebebasan yg kebablasan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah... untuk itu, ini menjadi PR buat kita semua untuk mengembalikan keunikan Indonesia seperti dulu kala. Contohnya, soal tata krama di atas sebelum lebih dalam lagi kebablasannya.

      Hapus
  13. kalau jaman dulu anak-anak melewati orang tua agak membungkuk ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau waktu saya kecil dulu begitu. Udah gitu wajib bilang tabek/permisi atau nggak salah satu tangan turun lurus ke bawah sebagai lambang ijin mau lewat.

      Hapus
  14. Ya setuju dengan tuan...di Malaysia juga begitu...semakin lama banyak perkara baik semakin pupus di telan kemodenan...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah... saya pikir cuma di Indonesia saja yang mulai berubah gara-gara modernitas, ternyata di Malaysia juga merasakan hal yang sama.

      Hapus
  15. Ya setuju dengan tuan...di Malaysia juga begitu...semakin lama banyak perkara baik semakin pupus di telan kemodenan...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berarti Indonesia dan Malaysia punya kesamaan dalam kasus ini.

      Hapus
  16. Setuju mas. Sekarang ini sopan santun khas budaya Indonesia mulai terkikis. Kadang, sama orang yg lebih dewasa, anak2 sudah berani.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu dia Mbak, pengaruh tontonan, kurangnya perhatian, dan juga kondisi lingkungan jadinya seperti itu dah.

      Hapus
  17. bener ..
    anak jaman dulu lebih sopan sih ..
    anak sekarang mah hadeuh -_-

    izin share artikel nya bagus (y) sangat bermanfaat ..

    Mau dapat uang Dari Google?
    Mau Pendapatan adsense $7-$9 setiap harinya?
    Atau daftar Google adsense Susah?
    kunjungi trik adsense di blog saya ..

    99% Halal :)
    hackingofworldnew.blogspot.com

    atau langsung daftarkan Blog Anda Ke Adsense generator
    di www.hot-news-world .top
    1-2 Jam langsung diterima
    Thanks

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silahkan mas kalau di rasa bermanfaat apa yang saya tulis.

      Siip, nanti saya kunjungi blognya dan daftar Adsense kalau ada waktu.

      Hapus
  18. Kpd pihak penyiaran..kami menantikan sinetron/film tentang kesibukan/keceriaan anak"jaman dulu..kehormatan terhadap guru...kecintaan terhadap tanah air..galaknya seorang ayah membimbong sang anak..kasih sayang keluarga,,mainan tradisional...dan semua itu di sajikan dlm tempo dulu...kami menantikan tayangan itu di layar kaca indonesia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar bangad, sinetron maupun film zaman sekarang lebih condong memaksa anak-anak untuk dewasa sebelum waktunya. Kebanyakan tontonan yang disuguhkan cocok untuk orang dewasa. Mirisnya tontonan untuk anak-anak pun banyak berlagak kaya orang dewasa, seperti masih SD/SMP udah jatuh cinta, pakaian minim kaya udah nggak ada kain aja dan masih banyak lagi.

      Hapus
  19. sepakat kang bahwa betapa sekarang ini tata krama dan tata etika sangat jauh dari khitahnya, entah kenapa hal tersebut dapat terjadi, terutama pada para guru kayanya sekarang mah nggak seperti jaman kita dulu, takut dan sangat hormat....mungkin karena pergeseran cara dan kurikulum pendidikan bahwa guru adalah fasilitator yang harus jadi jembatan siswanya, kalau dulu kan nggak begitu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salah satunya bisa jadi karena perbedaan kurikulum dan guru bukan lagi sebagai pendidik, sehingga kewajiban mendidik seakan terabaikan.

      Hapus
  20. Betul banget... Aku.juga merasakan perbedaan kedekatan anak dan guru jaman dlu berasa.... Kalau skrg jaman ponakanku itu guru dekat dengan murid yg ortunya kaya doank upsss saya yakin gak semuaaaaa.... Mungkin cuma guru ponakan saya aja.... Adaaaa seperti itu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak semuanya begitu, tapi yang seperti itu lebih dari separuh.

      Yah... Maklum saja dulu guru itu adalah seorang pendidik, bukan seperti sekarang yang berperan sebagai fasilitator saja.

      Hapus
  21. Mungkin kalau budaya masa lalu yang baik2 tetep dilestarikan, negara ini bisa lbh baik ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa jadi bakalan seperti itu kalau melihat kembali kembali ke masa lalu.

      Hapus
  22. menyimak mas...
    saya bingung mau komentar apa setelah baca panjang lebar artikel ini :)

    tertarik sama ini: "Contoh, ditempeleng. Percaya atau tidak pasti ada saja murid yang melapor komnas HAM. Katanya sih melanggar HAM, padahal kadang kelakuan si murid sudah sangat meresahkan, tak bisa di tolerir, dan sebagainya."

    *btw, kalo jaman saya sekolah, ditempeleng guru lapor sama orangtua malah tambah ditempeleng lagi :) he he he

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha... kirain nggak pernah ngerasain kaya gitu. Dulu mah, sampai rumah malah dikasih bonus sama orangtua.

      Sayangnya, bonus yang didapat bukan kue, gocap, atau yang enak-enak, melainkan ditamabahin sakitnya ditempeleng.

      Hapus
  23. Yang semakin hilang adalah adab. Tata krama, makanya dulu para salafus sholeh dalam pengajaranya selalu mengutanakan adab sebelum ilmu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, itu dia. Zaman sekarang, adab atau tata krama jadi barang langka.

      Hapus
  24. bener ..
    anak jaman dulu lebih sopan sih ..
    anak sekarang mah hadeuh -_-

    izin share artikel nya bagus (y) sangat bermanfaat ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dengan senang hati izinnya saya terima.

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...