Kamis, 10 Maret 2016

Dilarang Masuk, Film Horor Tapi Kocak


Film Dilarang Masuk
DILARANG MASUK, Tayang 24 Maret 2016

Jujur, kalau ditanya suka nonton film apa gak? Maka aku pun akan menjawab dengan semangat dan lantang bahwa suka sekali. Tapi jika ditanya pernah nonton film di bioskop gak? Maka nyaliku pun akan ciut mendadak dan secara perlahan serta malu-malu menjawab belum.

Hah... serius!!! Selama ini kamu gak pernah menginjakkan kaki alias nonton film di bioskop. Seriuslah, aku kasih kuadrat malah. Terus nontonnya di mana? Ya... dimana lagi kalau bukan di kost sendirian dan kadang bareng teman-teman juga. Hhhmm... jangan bilang kampungan ya meski emang kenyataannya begitu.
 
Tapi semua itu baru saja berubah 180 derajat, tepat di hari Gerhana Matahari Total menyapa Indonesia. Dimana saat menjelang sore hari, untuk pertama kalinya dalam rentang waktu 8 tahun tinggal di Makassar dan juga pertama kali dalam hidupku merasakan suasana bioskop.

Pasti pada penasaran kan, kenapa aku sampai bela-belain untuk ikut nonton film di bioskop? Jawabannya adalah karena tepat di hari itu ada undangan nonton bareng dengan lokasi Mall Ratu Indah [MaRI]. Dalam undangan tersebut, kuota untuk blogger adalah 9 sheat dan aku termasuk salah satu yang terpilih.

Pertanyaan pun muncul, film apakah yang akan di tonton? Mau tahu! Kalau begitu perbaiki posisi dudukmu dan baca reviewnya dibawah ini sampai tuntas.

*    *    *

Pagi itu, sebelum pelajaran pertama di mulai, Adit (Maxime Bouttier) terlihat begitu bahagia, senang, dan bersemangat karena baru saja mendapatkan sebuah handycam baru. Bahkan saking begitu gembiranya, tingkahnya pun berubah jadi sedikit gila. Gak menunggu waktu lama, ia langsung menggunakan handycam tersebut untuk merekam dirinya dan ke lima sahabatnya yang merupakan pemeran utama dalam film ini. Tak luput pula Lisa, teman baru mereka yang perawakannya sedikit pemalu dan pendiam.

Usai pelajaran pertama usai dan memasuki waktu istirahat, Lisa (Sahila Hisyam) dan ke empat sahabatnya sedang asyik ngobrol dan sesekali bercanda di depan ruang kelas. Tak jauh dari mereka, Lisa yang pendiam dan pemalu sedang asyik sendiri dengan Smartphonenya (seperti sedang SMS-an). Di saat Lisa dan ke empat sahabatnya sedang asyik ngobrol dan bercanda, muncullah Adit dengan rencananya yang inginkan menghabiskan akhir pekan bersama sahabat-sahabatnya. Lagi-lagi, Lisa pun tak lupa di rayu agar mau ikut bersama mereka di akhir pekan nanti.

Namun tak berselang lama, Adit yang sedang tergila-gila dengan handycam barunya beranjak meninggalkan ke lima sahabatnya dan kembali memulai aksinya untuk merekam aktivitas di sekolah hari itu. Dengan pelan dan seksama, Adit mulai merekam sekelilingnya bahkan tak luput pula lantai dua.

Saat handycam mengarah ke lantai dua, Adit sedikit kaget karena melihat Lisa ada di sana dengan tingkah yang sedikit aneh. Namun karena merasa penasaran handycam pun difokuskan kepada Lisa yang sedang berjalan ke salah satu ruangan yang berada disudut lantai dua. Sayangya, tiba-tiba salah satu sahabatnya datang mengganggu dan konsentrasi pun buyar. Ketika gangguan berlalu, Adit kembali fokus ke lantai dua dan berharap bisa melihat apa yang dilakukan Lisa. Tapi alangkah kagetnya dia dan seakan tidak percaya Lisa bisa menghilang begitu cepat, seperti halnya hantu. Setelah itu Adit kembali keruangan dan sejak saat itu Lisa tidak pernah terlihat lagi.

Ke esokan harinya, Syila yang meminta ijin ke toilet tanpa sengaja mendengar seorang wanita yang didampingi seorang lelaki sedang menangis diruang guru. Sebagai gadis remaja yang penuh dengan rasa penasaran, Syila pun memberanikan diri untuk masuk ke ruang guru dan bertanya. Dan ternyata wanita yang menangis dan lelaki yang mendampinginya adalah orangtuanya Lisa. Dari mereka, Syila mendapatkan informasi bahwa Lisa tidak pulang sejak kemarin, atau dengan kata lain “hilang”.

Syila pun kaget! Ia segera kembali keruang kelas dan tidak jadi ke toilet. Sesampainya di ruang kelas dan dengan sedikit berbisik, ia memberitahu kelima sahabatnya bahwa Lisa hilang. Namun kelima sahabatnya tidak langsung percaya begitu saja. Tapi keraguan sahabatnya terjawab dengan cepat, tepatnya ketika guru mereka bertanya kepada Syila tentang keberadaan Lisa. Karena Syila menjawab tidak tahu, maka sang guru pun memberitahukan bahwa Lisa menghilang sejak kemarin.

Adit yang mendengar kabar tersebut langsung teringat dengan tingkah Lisa yang sedikit aneh saat terekam di lantai dua. Ia pun segera menjelaskan hal itu kepada kelima sahabatnya. Sebagai remaja yang tingkat penasarannya sangat tinggi serta kasihan melihat orangtua Lisa, mereka akhirnya sepakat untuk mencari teman barunya yang dinyatakan hilang dan akan memulai pencarian ditempat terakhir kali Adit melihat Lisa sewaktu sedang merekam.

Dan benar saja, usai pelajaran hari itu mereka berenam langsung menuju lantai dua tempat dimana terakhir kali Lisa terlihat. Namun mereka tidak menemukan apa-apa di sana, yang ada hanyalah sebuah ruangan kosong yang kotor, acak-acakan, tidak terawat, digembok, dan dipasang tanda peringatan “DILARANG MASUK”.

Karena tidak ada Lisa disana, Adit dan Syila serta ke empat sahabatnya pun pulang dengan perasaan kecewa, penuh tanda tanya dan penasaran akan ruangan kosong yang mereka temukan. Namun malam harinya, mereka kembali lagi ke ruangan kosong tersebut demi menuntaskan rasa penasaran yang begitu tinggi. Dengan bermodal penerangan seadanya (senter) dan palu, mereka merusak gembok yang melekat di rantai pintu besi. Tanda larangan tidak mereka hiraukan lagi, yang ada hanyalah rasa penasaran dan tentunya siap melakukan pelanggaran.

Setelah berhasil merusak gembok dipintu besi, petualangan pun dimulai dan tanda Dilarang Masuk tidak mereka hiraukan lagi. Dengan diselimuti perasaan takut, mereka mulai menyusuri ruangan kosong tersebut. Belum jauh melangkahkan kaki, tiba-tiba saja kaki kiri Adit tidak bisa digerakkan dan seperti ada yang menahannya. Bahkan meski teman-temannya ikut membantu tetap tidak mau terangkat sedikit pun. Anehnya, gak lama setelah teman-temannya menyerah, kaki adit bisa digerakkan kembali.

Pencarian pun kembali berlanjut, namun lagi-lagi mereka kembali dikagetkan oleh kehadiran satpam yang di panggil Bang Jono (Reymond Knuliq) yang tiba-tiba saja muncul. Menariknya disini, suasana yang tadinya horor mendadak berubah menjadi kocak akibat ulah Bang Jono dan Piyu (Jordhy Onsu) yang berponi dan suka ngomong gak jelas (Menggunakan Bahasa Thailand). Setelah itu, Bang Jono meninggalkan para remaja yang masih penasaran tersebut. Namun tak lama berselang, tiba-tiba hadir sosok wanita misterius yang bernama Ibu Rumi (Monica Oemardi) dan mengaku sebagai guru diruangan kosong itu.

Esoknya harinya, Adit dan kelima sahabatnya mulai merasakan kejadian-kejadian aneh dan teror hantu yang lebih mirip zombie. Entah itu di dalam ruangan, toilet sekolah, maupun dirumah mereka masing-masing. Bahkan ada yang menyerupai orang yang mereka kenal, seperti seorang pembantu atau salah satu dari mereka. Kejadian-kejadian itu terjadi terus menerus dan tak memandang waktu, baik itu malam, pagi, siang, ataupun sore hari.

Hal ini bagi saya pribadi membuat film horor ini menjadi sedikit agak aneh, karena pada akhirnya bisa menebak kapan kejutan (setan) akan muncul. Terlebih lagi memang saya pribadi orangnya cepat bosan jika melihat sesuatu yang terjadi secara beruntun, apalagi jeda munculnya para setan terbilang singkat. Untungnya, suara soundsystem yang ada pada bioskop sedikit membantu memberikan efek kejutan setiap kali setan yang mirip zombie itu akan muncul.

Namun sebagai penikmat film, aku merasa terhibur dengan tingkah Jordy Onsu yang menggunakan bahasa Thailand (sebenarnya berharap menggunakan bahasa lokal) dan akting Reymond Knuliq yang terlihat begitu alami, serta tingkah kocak lainnya yang hampir saja membuatku sakit perut gara-gara tertawa terus.

Lagi-lagi, menurut saya pribadi, film DILARANG MASUK lebih cocoknya untuk ditonton oleh mereka yang baru beranjak remaja alias ABG. Mengapa? Karena memang pesan yang disampaikan dalam film ini tidak jauh dari tingkah laku ABG yang suka coba-coba, memiliki tingkat penasaran yang berlebih atau tinggi, berani berbuat tapi ogah untuk tanggungjawab, egois, suka tertawa gak jelas dan masih banyak lagi.

Dan jika review ini dirasa kurang dan malah membuat penasaran anda penasaran, khususnya anak-anak ABG. Maka saya sarankan untuk menyimak kisah lengkapnya di bioskop yang ada di kota anda. Karena film bergenre horo komedi ini akan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia pada tanggal 24 Maret.

Terakhir, terima kasih untuk Digital Film Media untuk tiket gratisnya dan juga hadiahnya yang kebetulan kemarin saya sebagai salah satu pemenang lomba twit. Alhamdulillah, baju pas untuk saya. Terima kasih juga untuk Mas Reymond Knuliq untuk popcorn-nya yang belakang aku baru tahu. Berkat popcorn tersebut, lumayan buat mengganjal perut yang sedang teriak-teriak demonstrasi.
Makassar, 10 Maret 2016

8 komentar:

  1. Mirip jaki'. Saya terakhir nonton bioskop itu waktu kelas 2 SMP, tahun 1988. Habis itu, tidak pernah lagi. Karena saya memang menghindarinya dulu. Sekarang .. yah kalo ada nobar lagi dan genre filmnya cocok, mungkin saya bersedia :D

    Oya, pesan utk para ABG yang mau nonton film ini, ada ndak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada Kak, pesan yang di sampaikan tidak jauh-jauh dengan penjelasanku di paragraf kedua dari terakhir.

      Hapus
  2. kalau horor tapi lucu mungkin saya akan tonton soalnya gak suka nonton film horor hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lumayan kocak Mbak Evrina filmnya. Saya sendiri ketawa mulu mulai dari dekat pertengahan sampai akhir film.

      Hapus
  3. Wah bukan tuk saya berarti, udah bukan abg hehe

    BalasHapus
  4. Karna gw dah ngak ABG maka di larang nonton yaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha... Gak juga, kalau pengen nonton juga masih boleh. Apalagi jiwa ABG-nya masih ada.

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...