Kamis, 14 Juli 2016

Sepenggal Kisah Antara Aku dan Kamera Ponsel

http://www.uniekkaswarganti.com/2016/05/Asus-giveaway-aku-dan-kamera-ponsel.html

Pertengahan tahun 2007, untuk pertama kalinya kampung halaman saya resmi dilalui oleh salah satu provider jaringan telekomunikasi. Semenjak saat itu, banyak warga kampung mulai berlomba-lomba untuk memiliki handphone. Ada yang membeli handphone dengan model kaya ulekan cabe saking tebalnya, sampai yang punya kamera pun ada. Benda itu diperoleh dengan menitipkan uang pada sanak saudara yang kuliah di kota seperti Kendari, Makasar, Surabaya, dan Yogyakarta.

Kala itu, berdasarkan rapor saya sudah dinyatakan naik kelas 3 SMA. Bedanya, waktu itu saya belum punya ponsel bila dibandingkan dengan teman-teman sekelas yang hampir semuanya sudah punya. Meski demikian, saya tetap kalem aja walaupun belum punya ponsel. Namun keadaan itu tidak bertahan lama. Karena beberapa bulan setelah peresmian itu bapak saya punya handphone baru. Tapi karena ponsel yang dibeli memiliki kamera dan berwarna layarnya serta bapak saya gaptek juga, maka ponsel itu pun berpindah ke tangan saya. Hehehe... *rejeki emang nggak kemana ya*

Sejak saat itu, saya akhirnya bisa punya ponsel juga meski sebenarnya rada gaptek juga seperti bapak. Maklumin aja ya, baru pertama kali megang handphone soalnya. Duh, kampungan banget ya. Malu kan jadinya, mau ditaruh dimana nih muka.

Kini setelah kejadian pertama itu, saya sudah berapa kali punya ponsel baru. Kalau nggak salah itung, kurang lebih 8 ponsel dan 5 di antaranya punya kamera. Sayangnya, dua di antaranya di ambil pencuri dan satunya rusak. Sedangkan sisanya buat doi dan satunya lagi yang saya pegang saat ini. Tapi entah kenapa, saya masih belum puas dengan smartphone yang saat ini. Jujur, saya masih pengen smartphone baru yang bisa mendukung aktifitas sehari-hari, entah itu buat ngeblog, motret pemandangan alam, selfie atau welfie sekali-sekali, teman kerja, teman perjalanan, dan lain sebagainya.

Tentunya smartphone yang saya inginkan harus memiliki spesifikasi yang mumpuni, seperti multitasking, koneksi jaringannya cepat dan mendukung jaringan 4G LTE, RAMnya yang lumayan, baterainya tahan lama, dan didukung dengan kamera mantap. Yah, seperti produk terbaru dari ASUS. Itu loh, yang Zenfone 2 Laser ZE550KL. Udah pada tahu kan, jangan kaya saya yang telat update informasinya.

Tapi, sebelum kamu mengkhayal lebih jauh lagi tentang kecanggihan dan kualitas dari Zenfone 2 Laser ZE550KL, mendingan kamu nyimak dulu kisah atau kenangan yang sempat saya abadikan dengan kamera ponsel. Mau tahu kan ceritanya, berikut rangkumannya dibawah ini.

Narsis di Pondok Saat Pesantren Kilat

Aku dan Kamera Ponsel
Narsis Sebelum Shalat Ashar, dok. Pribadi
Sama seperti kebanyakan orang yang biasanya suka norak kalau punya handphone baru. Saya pun dulu ternyata begitu setelah mencoba mengutak-atik isi komputer lama. Salah satu buktinya seperti foto di atas, yang diambil dengan ponsel pertama saya sebelum hilang dicuri teman angkatan di sebuah rumah yang dijadikan sebagai studio angkatan.

Moment di atas diambil saat saya sedang ikut program kampus, yakni pesantren kilat selama sebulan penuh, tepatnya Februari sampai Maret di tahun 2009. Bagaimana? Masih terlihat kalem sama lugunya kan. Hehehe... ge-er banget ya saya.

Mengabadikan Moment Bersama Doi

Mengabadikan Moment Bersama Pasangan
Bersama Doi saat saya liburan ke Jakarta, dok. Pribadi
Setelah ponsel pertama saya hilang, saya kemudian membeli handphone jadul. Sayangnya handphone tersebut hanya bertahan 3 bulan, setelah itu nasibnya sama seperti ponsel lama. Ya, ponsel kedua saya hilang lagi gara-gara teman kost saat tidur pintu lupa ditutup dan dikunci, sedangkan saya sudah tidur duluan. Padahal ponselnya sudah saya simpan dibawah bantal, tapi karena sudah nasib, ya hilang juga.

Akibat kejadian itu, mau nggak mau saya puasa megang handphone. Barulah akhir Agustus megang handphone lagi, tapi kameranya dibawah kapasitas yang hilang (resolusinya VGA). Meski cuma beresolusi VGA, ponsel itu telah merubah hidup saya dan banyak kenangan di dalamnya. Apalagi setelah berhasil mengabadikan moment bersama doi untuk pertama kalinya saat berlibur ke Jakarta. Bahkan moment itu terulang kembali setahun setelahnya.

Petualangan Sepasang Kekasih
Petualangan Bersama Doi di Tahun 2012, dok. Pribadi
Setiap kali melihat foto-foto itu, saya selalu teringat kembali akan petualangan yang telah kami lakukan. Hanya dengan modal nekat dan banyak bertanya, saya dan doi menyusurui berbagai tempat di Jakarta hingga Tangerang. Mulai dari berkunjung ke Ragunan, mengitari Pasar Minggu, makan di warteg depan kampusnya, berkunjung ke Monas, menemani doi mencari lowongan kerja di sekitar Gandaria City dan Fatmawati, menghadiri acara nikahan teman di sekitar Tangerang, mutar-mutar di wilayah Matraman, hingga hadir di acara wisuda doi.

Begitu banyak petualangan yang kami lakukan. Bersama doi, saya jadi tahu bagaimana suasana Jakarta. Baik itu kemacetannya, jadi ikan pepes di dalam kereta dilibur pertama (tahun 2011), kena banjir di Pasar Minggu, ketinggalan angkot, kopaja dan busway, hingga hampir ditinggal pesawat gara-gara terjebak macet lebih 3 jam.

Teman Dalam Bekerja

Ponsel Sebagai Teman Dalam Bekerja
Pengawasan Proyek Landscape 2012, dok. Pribadi
Selain untuk mengabadikan moment, ponsel juga kadang saya gunakan untuk membantu memudahkan pekerjaan saya. Sebagai calon Arsitek, saya juga harus memotret hasil pekerjaan tukang saat mengawas dilapangan. Yah, daripada harus beli kamera digital terlebih dahulu, mendingan manfaatin kamera ponsel saja. Kan lebih praktis dan tidak harus mengeluarkan biaya tambahan pula. Ya, nggak.

Tak hanya untuk motret, kehadiran ponsel juga bisa saya gunakan untuk mencatat berbagai permasalahan dilapangan, termasuk menyimpan data-data yang saya butuhkan.

Sebagai Alat Tempur Saat Ngeblog

Festival Pasar Tradisional
Liputan Festival Pasar Tradisional di Bantaeng, dok. Pribadi
Sebagai bloger yang masih newbie, saya mencoba terus belajar, belajar, dan belajar dari blogger yang senior, siapa pun itu. Nah, salah satu yang saya tangkap adalah penggunaan foto dalam blog. Dimana dari yang saya baca di berbagai blog, kebanyakan menyarankan untuk menggunakan foto hasil jepretan sendiri. Karena dengan foto hasil karya sendiri, blog akan terlihat profesional.

Nah... untuk mendukung hal tersebut, satu-satunya yang saya gunakan untuk mendapatkan foto pelengkap buat blog adalah memanfaat kamera ponsel yang saya miliki. Sudah praktis, gampang, ringan, bisa dibawa kemana-mana dan cocok buat dijadikan alat tempur ngeblog. Maklum saja, saya nggak punya kamera digital untuk menjepret moment atau kejadian unik yang saya temui. Hanya kamera smartphone-lah satu-satunya yang senjata yang saya punya.

Sebagai Teman Saat Perjalanan

Senja di Tanjung Bira
Senja di Tanjung Bira, dok. Pribadi
Berkat punya ponsel yang ada kameranya, saya akhirnya bisa mengabadikan setiap momen unik dalam setiap perjalanan jauh yang saya lakukan. Dan belakangan ini baru saya sadari kalau hobi baru tersebut ada gunanya juga. Contohnya, ketika menemukan kebuntuan dalam menulis, foto-foto perjalanan bisa menjadi malaikat penolong buat saya. Dengan modal foto-foto tersebut, saya bisa membuat cerita menjadi lebih detail bahkan sampai menemukan ide baru untuk menulis.

Menariknya lagi, foto-foto tersebut bisa juga saya gunakan sebagai pelengkap untuk blog agar tulisan menjadi lebih hidup. Jadi nggak hanya membantu saya bercerita lebih detail saja, tapi ada manfaat lainnya juga.

Nah, itulah sepenggal kisah antara aku dan kamera ponsel. Banyak cerita dan kenangan yang sempat aku abadikan di dalamnya. Entah itu cerita sedih maupun senang, semua ada di dalamnya. Dan di era serba teknologi seperti sekarang ini, kehadiran ponsel yang dilengkapi dengan kamera canggih menjadi hal yang tidak bisa dipisahkan lagi. Entah itu sekadar digunakan untuk selfie atau wefie, mengabadikan momen indah dan unik, membantu pekerjaan, dan lain sebagainya.

By the way, khayalannya tadi masih di simpan nggak. Itu loh, tentang Zenfone 2 Laser ZE550KL tadi. Kalau saya masih berharap loh untuk bisa memilikinya. Hehehe... *ngarep bangad*

Tulisan ini di ikut sertakan dalam Giveaway Aku dan Kamera Ponsel by uniekkaswarganti.com

Makassar, 14 Juli 2016

16 komentar:

  1. salam, fotonya bagus
    kisah dalam foto

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Mbak Imerlina. Lagi belajar bercerita aja mbak sekalian melemaskan otot pikiran yang lagi buntu.

      Hapus
  2. foto sama doi Keren
    salam sehat dan semangat ya mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mas Agung.
      Insya Allah semangat dan sehat selalu.

      Hapus
  3. Jadi teringat ma ponsel pertamaku. Sukses giveaway nya yah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah... Pasti asyik tu kalau diceritain.

      Hapus
  4. Story Telling via foto yang asik...
    Memoar yang tak akan terlupa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, benar-benar tak terlupakan.

      Hapus
  5. Story Telling via foto yang asik...
    Memoar yang tak akan terlupa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lagi belajar nulis artikel gaya story telling.

      Hapus
  6. syedih, pas waktu SMA ga banyak mengabadikan momen2berharga brsama tmen2. Bisanya nebeng kamera ponsel milik teman :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah... Kalau saya waktu SMA nggak suka narsis, mungkin karena saya pemalu orangnya. Kebanyakan saya foto kalau terpaksa, diwajibkan dan di paksa. Hehehe...

      Hapus
  7. hampir sama dengan kisah ku, sedihnya ponsel ilang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe... Cuma ini yang bisa saya ceritakan tentang pengalaman pribadi saat punya ponsel, termasuk yang punya kamera.

      Hapus
  8. Terima kasih sudah ikutan GA Aku dan #KameraPonsel. Good luck.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama Mbak Uniek. Sukses juga buat mbak.

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...