Rabu, 30 Maret 2016

Memetik Hikmah Dari Film Surga Yang Tak Dirindukan

Dua Sejoli
Laki-Laki dan Perempuan dicipata untuk bersatu
Laki-laki dan perempuan pada dasarnya adalah satu. Yang ketika salah satunya hilang akan memunculkan rasa rindu. Keduanya di cipta bukan untuk beradu siapa yang lebih maju. Tapi keduanya di cipta untuk saling membantu dalam doa penghulu.

Berbicara tentang laki-laki dan perempuan, pasti suatu saat nanti akan mengalami hal seperti di atas. Dalam hal ini, ketika keduanya telah beranjak dewasa dan mulai merasakan yang namanya jatuh cinta. Saat perasaan cinta itu tumbuh semakin besar dan kuat, maka pelan tapi pasti keduanya akan berlanjut pada sebuah komitmen yang disahkan oleh penghulu. Dengan kata lain berakhir pada sebuah moment sakral yang bernama “Pernikahan”.

Saya yakin dan percaya bahwa setiap manusia yang lahir ke bumi ini, khususnya yang sudah beranjak dewasa pasti pernah memimpikan atau mengkhayalkan yang namanya pernikahan. Berawal dari mimpi tersebut, ada yang cepat terkabul namun banyak pula yang membutuhkan waktu lama untuk merasakannya.

Salah satu contohnya seperti yang aku saksikan dalam sebuah film beberapa minggu lalu. Yang mana merupakan hasil adaptasi dari sebuah “Novel Best Seller karya Asma Nadia”. Film ini sudah lama keluar, namun saya sendiri baru menontonnya beberapa minggu lalu ketika di landa rasa bosan dan bete karena di rumah sendirian.

Waktu itu, aku sedang berkunjung ke kost teman dan entah untuk yang ke berapa kalinya ia menawarkan sebuah kaset di atas meja yang isinya adalah film ini. Awalnya aku tidak ingin menontonnya, tapi karena teman aku juga tidak punya koleksi film baru, akhirnya luluh juga dan memutuskan untuk meminjam kaset tersebut untuk aku tonton di rumah.

Film yang aku maksud hampir sama dengan tulisan aku beberapa hari lalu yang berjudul “Toga Yang Kurindukan”. Bedanya tulisanku beberapa hari lalu bercerita tentang seseorang yang merindukan sebuah toga alias udah kebelet sarjana. Sedangkan film ini menceritakan tentang sebuah kisah cinta antara lelaki dan perempuan yang berakhir pada sebuah pernikahan dan akhirnya memiliki sebuah keluarga kecil yang bahagia.

Pasti semua udah pada tahu kan film apa yang aku maksud. Yups, benar sekali. Film yang aku maksud, tak lain dan tak bukan adalah “Surga Yang Tak Dirindukan”.
Film Surga Yang Tak Dirindukan
Film Surga Yang Tak Dirindukan

*    *    *

Di kisahkan tiga orang mahasiswa semester akhir Arsitektur (Fedi Nuril, Kemal Pahlevi, dan Tanta Ginting) sedang mencari sebuah masjid (objek observasi) di wilayah Jogjakarta. Dalam pencarian itu, Fedi Nuril yang sedang menyetir mobil menghentikan kendaraan dan bertanya salah seorang temannya mengenai arah selanjutnya agar bisa sapai ke masjid yang mereka cari. Di saat sedang bertanya, tiba-tiba gak jauh dari mereka ada seorang anak kecil yang jatuh dari sepedanya. Pras (Fedi nuril) langsung mengalihkan perhatiannya dan segera membantu anak tersebut. Tak hanya itu saja, Pras juga sekaligus mengantarkan bocah itu ke tempat dimana biasa bermain. 

Siapa sangka, sesampainya ditempat yang di maksud oleh bocah itu, Pras bertemu dengan seorang gadis cantik bak bidadari. Bahkan ia sampai terhipnotis dengan kecantikan gadis (Laudya Cynthia Bella) yang saat itu sedang mendongeng. Begitu pula dengan gadis itu yang terlihat sedikit malu-malu bagaikan orang yang dilanda jatuh cinta pada pandangan pertama.

Pras yang masih terhipnotis kemudian merekam kegiatan wanita itu, yang mana kembali melanjutkan aktivitas mendongengnya pada anak-anak. Bahkan meski teman-teman datang untuk mengajak melanjutkan perjalanan, Pras malah tetap asyik dengan aktivitas merekamnya. Ia malah menyuruh teman-temannya untuk duluan dengan catatan nanti ia menyusul.

Usai merekam, Pras kembali asyik menonton rekaman tersebut dan tidak menyadari wanita itu sudah berdiri di sampingnya. Gadis yang menyaksikan hal itu jadi senyum-senyum sendiri. Namun demikian, ia tidak lupa mengingatkan Pras untuk segera mengambil wudhu. Pras yang asyik menonton hasil rekamannya jadi kaget dan saking kagetnya, handphonenya hampir saja jatuh dari tangannya.

Sebelum menuju tempat wudhu, Pras berhenti sejenak di depan wanita yang membuatnya terpesona. Ia lalu memperkenalkan diri sebagai Prasetya, sang wanita pun tak lupa memperkenalkan diri sebagai Citra Arini dan biasa di panggil Arini. Usai saling memperkenalkan diri, Pras pun berlalu menuju tempat wudhu.

Namun belum jauh Pras melangkah, Arini yang masih tersipu-sipu serta tersenyum malu-malu tiba-tiba bertanya : “Mas, mau jadi imam kan?” Pras yang masih terpesona langsung menjawab : “Hah, secepat itu.”

Padahal yang di maksud Arini adalah imam shalat bukan imam dalam keluarga, karena saat itu Arini sendiri kebetulan belum shalat. Aku yang menonton jadi tersenyum dan juga tertawa. 

Cerita pun berlanjut. Pras yang masih terpesona dengan kecantikan Arini memberanikan diri untuk meminta nomor telpon Arini. Dari situ, mereka berdua yang sedang dilanda virus cinta semakin akrab, saling telpon-telponan, bahkan Pras sempat bertemu dengan kedua orangtua Arini. Hingga pada akhirnya mereka mantap pada untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius, yakni pernikahan. 

Akhirnya, dongeng yang di impikan Arini terwujud bersama seorang pangeran yang bernama Pras. Hari itu, mereka berdua saling membantu dalam doa penghulu dan menjadi makhluk yang paling bahagia di alam jagad raya ini.

Kisah cinta pada pandangan pertama antara Arini dan Pras begitu indah dan semakin lengkap lagi ketika di antara mereka hadir seorang putri cantik yang di beri nama Nadira Citra.

Ya, itulah putri mereka, Nadira. Anggota baru yang membuat dongeng Arini mendekati sempurna. Apalagi suami Arini, yakni Pras merupakan sosok yang baik dan setia, serta selalu bisa menenangkan Arini.

Hal ini terbukti ketika berbagai kisah perselingkuhan terjadi di sekelilingnya, termasuk kisah itu datang dari sahabat Arini sendiri. Sangat jelas terlihat kalau kisah-kisah menakutkan itu tidak sekalipun mengusik kepercayaan Arini terhadap sang suami tercinta. Ia tetap dalam koridornya, yakni mengabdikan diri sepenuh hati sebagai seorang istri dan juga ibu. Cobaan demi cobaan mereka lalui bersama-sama dengan mudah. Hingga perjalanan takdir itu kemudian berujung ujian bagi cinta Arini dan Pras.
*    *    *

Suatu hari, dalam perjalanan menuju kantor, Pras yang sedang mengendarai mobil dikagetkan oleh bunyi klakson yang tiada henti dan cara pengemudi itu yang seperti orang mabuk. Pras pun akhirnya mengalah untuk mempersilahkan itu mendahuluinya. Tapi tak berselang lama, tepatnya setelah melewati sebuah tikungan, Pras melihat ada sebuah mobil yang masuk jurang. Pras harus menolong korban yang mengalami kecelakaan mobil. Namun alangkah kagetnya Pras saat mengetahui korban kecelakaan itu adalah seorang perempuan yang masih dalam balutan baju pengantin.

Surga Yang Tak Dirindukan
Mei Rose sebagai orang ketiga

Mei Rose (Raline Shah) namanya. Ia berusaha bunuh diri setelah laki-laki yang berjanji menikahinya ternyata malah menipunya. Padahal dalam perutnya ada janin berusia tujuh bulan. Mei Rose berhasil diselamatkan, namun mengalami koma, sementara bayinya lahir dengan selamat. Bayi yang berjenis kelamin laki-laki itu kemudian beri nama Akbar Muhammad oleh Pras yang saat itu masih setia menunggu di rumah sakit.

Cobaan untuk Pras terus berlanjut, Mei Rose yang udah sadar dan saat itu masih di rundung galau kembali berulah. Ia mencoba untuk bunuh diri lagi, tepatnya di rumah sakit tempat ia di rawat. Pras yang mengetahui kejadian itu kembali menolong, hingga mengambil keputusan yang sangat berat. Dalam keadaan yang genting ketika itu, Pras mengatakan siap menikahi Mei Rose.

Saat itu juga dan tentunya setelah Mei Rose berhasil diselamatkan, Pras menepati janjinya dengan menikahi Mei di rumah sakit itu juga. Sahabat-sahabatnya mengetahui hal itu kaget, ada yang pro dan kontra. Namun apa daya, nasi telah menjadi bubur. Pras pun siap menanggung itu semua, termasuk harus berbagi cinta dengan Arini dan putri mereka.

Akibat keputusan itu juga, berbagai masalah pun mulai mengikuti kehidupan Pras. siapa sangka, hal itu akan merembet juga pada urusan kantor. Proyek yang mereka kerjakan ikut kena imbasnya, yakni telat sebulan alias melewati tenggat waktu yang disetujui dalam kontrak. Pras tidak bisa berkonsentrasi dan pikirannya menjadi kacau. Semakin kacau lagi ketika Arini tahu bahwa Pras telah memadunya dan apa yang ditakutkan pun terjadi. Pasti semua tahulah apa yang aku maksud.

Dari film ini, banyak hal positif yang aku tangkap. Bahkan bagi saya pribadi, pesan yang disampaikan sangat mengena sekali dan sering terjadi di sekeliling kita. Sadar atau tidak, kenyataan memang demikian.

Pertama. Setiap manusia, baik laki-laki maupun perempuan yang lahir kedua ini pasti akan dewasa dan merasakan yang namanya jatuh cinta. Namun ketika perasaan cinta itu tumbuh dan sudah yakin dengan orang yang di cintai, ada baiknya segera untuk menghalalkannya daripada ke depannya malah melakukan hal yang negatif dan menjadi bahan pembicaraan orang lain.

Kedua. Benar apa yang dikatakan oleh orang-orang tua dahulu, bahwa orang baik-baik pasti akan bertemu dengan orang baik-baik pula.

Ketiga. Jika engkau tidak mampu berbuat adil, maka lebih baik cukup satu saja. Dalam hal ini yang aku maksud adalah untuk orang yang udah menikah. Namun patut di catat juga bagi para lelaki (masih bujangan) yang nantinya akan mencapai tahap ini juga.

Satu lagi dan mohon maaf untuk semuanya. Seringkali orang-orang mengambil ayat Al Qur’an setengah-setengah dengan tujuan untuk ibadah dan mengikuti sunnah. Lewat tulisan ini, aku hanya mengingatkan saja bahwa kalau baca ayat itu jangan setengah-setengah, baca sampai tuntas dan pahami apa yang disampaikan di dalamnya.

Pasti semua tahulah apa yang aku maksud. Ya, apalagi kalau bukan soal poligami. Kebanyakan orang hanya membaca sepotong dari Surat An Nisa ayat 3 saja, padahal masih ada lanjutannya. Tak hanya itu saja, pelengkap dari ayat itu terdapat pada ayat 129.

Ke empat. Apa pun masalah yang kamu hadapi, cobalah untuk bersikap tenang dan jangan sampai emosi menguasaimu. Jika kamu masih di kuasai oleh emosi, ada baiknya untuk menenangkan diri dulu. Khusus bagi umat muslim, ada baiknya menenangkan diri dengan banyak-banyak beristigfar dan shalat. 

Ke lima. Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan, semua pasti ada jalan keluarnya. Intinya kembali pada kamu bagaimana mencari jalan keluarnya dan tentunya harus dengan kepala dingin.

Ke enam. Kebahagiaan itu tidak diberikan, tapi bisa kita ciptakan dan tentunya itu dengan rasa saling percaya. 

Ke tujuh. Jika kamu tidak bisa membahagiakan orang lain disekitarmu, maka jangan memperparah. Benar gak?

Terakhir, aku tutup dengan sebuah quote yang mungkin patut untuk coba dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Quote ini sendiri aku kutip dari penggalan film ini juga. Bunyi kurang lebih seperti ini :
“Siapa yang bisa menjamin orang itu baik atau nggak kalau bukan kita sendiri yang mempercayainya”

BTN Antara Makassar, 30 Maret 2016

2 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...