Minggu, 17 April 2016

5 Hal Yang Wajib Dilakukan Untuk Menjadi Penulis


5 Hal Yang Wajib Dilakukan Untuk Menjadi Penulis
Setiap manusia yang lahir kedunia pasti punya impian dan cita-cita, termasuk salah satunya menjadi seorang penulis. Selain membuat kita dikenal orang banyak, penulis juga merupakan salah satu cara bekerja untuk keabadian sebagaimana yang dikatakan oleh Pramoedya Ananta Toer.

Artinya, dengan menulis dan secara tidak sadar kita telah meninggalkan jejak sejarah pada dunia. Jejak itu pun tidak sembarang, karena merupakan jejak positif yang insya allah akan terus menginspirasi orang-orang yang membacanya, puluhan bahkan ratusan tahun setelah kita tiada.

Seperti kata pepatah, harimau mati meninggalkan belang, manusia meninggal meninggalkan nama, penulis wafat meninggalkan karya. Dan tulisan (buku, karya ilmiah,artikel) berisi ilmu yang bermanfaat akan terus mengalirkan pahala kepada penulisnya ketika semakin banyak yang mereguk ilmu darinya.

Menjadi penulis, atau menulis, seperti kata Pram, adalah sebuah keberanian. Tentunya tidak sembarang menulis, karena menulis status galau juga bisa disebut menulis, namun menulis sesuatu yang bermanfaat bagi orang banyak.

Sayangnya, banyak calon penulis yang kemudian berhenti di tengah jalan bahkan sebelum memulai. Hal ini karena semua itu hanya sebatas keinginan semata, tanpa ada upaya apa pun untuk menuju impian yang dicita-citakannya. Yang mana ketika berdiskusi tentang dunia menulis semangatnya sungguh luar biasa bahkan khayalannya sudah sampai kelangit ke tujuh bahkan mungkin telah mencapai surga.

Namun ketika ditantang untuk memulai menulis, seribu satu alasan pun muncul dengan tiba-tiba. Sibuklah, nggak ada waktulah, nggak tahu harus mulai dari manalah, nggak tahu harus nulis apalah, lagi ada urusan inilah atau itulah, dan masih banyak lagi alasan lainnya.

Padahal, langkah pertama untuk meraih apa pun adalah langkah pertama, yakni bergerak, bertindak, melakukan aksi yang mendukung atau mengarahkan kita pada tujuan yang bernama impian dan cita-cita. Namun, banyak di antara kita yang masih awam dan benar-benar tidak tahu bagaimana cara menjadi penulis yang baik.

Kali ini saya akan membagikan beberapa langkah buat kamu yang ingin mencoba berjuang di dunia nan sunyi ini. Lankah-langkah ini saya kutip dari salah satu penerbit terkenal, yakni DIVA PRESS.

Langkah-langkah yang saya kutip tak lupa juga saya modifikasi agar semakin menarik untuk dibaca. Mau tahu seperti apa saja langkah-langkah yang di maksud. Simak ulasan lengkapnya dibawah ini.

Berguru kepada Buku

Berguru kepada Buku, Sumber : playbuzz.com
Pada dasarnya, menulis itu satu paket dengan membaca. Siapa yang mau jadi penulis, maka dia tidak boleh malas membaca.

Membaca buku merupakan guru terbaik bagi seorang penulis. Hampir semua penulis besar dunia belajar menulis dengan membaca buku. Tak kalah banyak juga penulis yang tergerak untuk menulis setelah mereka membaca sebuah buku. Dengan demikian, membaca buku tidak sekadar untuk mengisi tabung pikiran kita dengan materi tulisan, tapi sekaligus juga untuk belajar tentang menulis itu sendiri. Membaca adalah latihan menulis yang pertama kalinya.

Karl May bahkan mampu menuliskan seri Winnetou yang legendaris itu hanya dari membaca buku. Dia sama sekali belum pernah pergi ke Wild West di Amerika Serikat saat menulis seri Winnetou yang amat deskriptif menggambarkan kehidupan suku indian itu. Bahkan, JK Rowling belajar menulis seri Harry Potter dari karya-karya Shakespeare dan Jane Austen. Memang demikian, setiap penulis biasanya memiliki penulis atau buku favoritnya.

Tidak perlu ngoyo membaca demi bisa menulis. Pertama kali, kau harus mencintai kegiatan membaca dulu supaya bisa menjadi calon penulis. Hampir mustahil ada penulis yang tidak suka membaca. Kalau malas membaca, mungkin banyak. Kebanyakan penulis besar suka membaca, entah di masa kecilnya maupun di masa dewasanya. Mereka memahami sepenuhnya bahwa jika kita ingin karya kita dibaca orang lain, maka kita juga harus mau membaca karya orang lain.

Mengoleksi Kata-Kata

Kata-Kata Penyemangat dari Pram
Salah satu perbedaan penulis pemula dan penulis profesional adalah dalam hal merangkai atau memilih kata-kata. Penulis amatiran atau pemula selalu bermasalah dengan yang satu ini dan saya sendiri pun masih sering mengalami hal ini.

Untuk itu, sebagai penulis perlu juga untuk mengoleksi kata-kata jika ingin tulisanmu menarik dimata pembaca. Jangan cuma komik, VCD bajakan, film, atau perangko saja yang di koleksi. Sesekali cobalah untuk mulai mengoleksi kata-kata jika kamu memang berniat untuk terjun di dunia menulis. Cinta saja bisa kamu koleksi, masa kata-kata nggak bisa.

Eh, tapi koleksinya jangan pinjam pikiran mantan ya. Atau nyimpannya di album kenangan bersama mantan. Bisa jadi perang dunia ke-3 nanti dan bisa baper nanti setiap kali foldernya dibuka. Tapi kalau mau coba-coba juga nggak apa, yang jelas tanggung sendiri akibatnya, jangan ngajak-ngajak orang lain.

Mengapa koleksi kata-kata tersebut wajib disimpan dalam pikiran kita? Karena pikiran adalah gudang penyimpanan terbesar di dunia. Ia mampu mengalahkan harddisk eksternal yang berkapasitas beribu bahkan berjuta terabyte. Dalam gudang informasi terbesar inilah kata-kata tersimpan, dikumpulkan, dan dikoleksi. Koleksi kata-kata tersebut hanya menunggu saat yang tepat untuk dikeluarkan dan salah satunya saat menulis.

Sebagai penulis, kita dituntut untuk bisa menyampaikan sesuatu dengan kata yang tepat, istilah yang pas, nada kata yang bisa berdenting sesuai irama yang dibawa kalimatnya. Dengan demikian, semakin kaya koleksi kata yang kita miliki, maka akan semakin kaya pula tulisan yang bisa kita hasilkan.

Ada dua cara paling manjur untuk menambah koleksi kata-kata ini, yakni membaca dan berkomunikasi.

Untuk membaca, sudah tidak perlu diulas lagi betapa ampuhnya membaca dalam menambah koleksi kata-kata. Pada kenyataannya, tidak ada yang mampu mengalahkan aktivitas membaca dalam hal memperkaya koleksi kata-kata kita.

sedangkan berkomunikasi, yakni berinteraksi dengan orang lain. Dengan bahasa yang lebih kekinian, bergaul dengan orang lain. Berbincang, mengobrol, mendengarkan ide dan kisah orang lain kadang dapat memperkaya koleksi kata kita. Hal ini terbukti pada bayi dan anak-anak, yang mendapatkan sebagaian besar koleksi kata-kata mereka dari mendengarkan kata-kata yang diucapkan oleh orang tua, keluarga, dan guru, serta dari film yang mereka tonton.

Ikut Kursus Menulis

Kelas Menulis Kepo Anging Mammiri, Makassar
Meski tidak semua penulis besar ikut menjalani kursus atau sekolah menulis. Beberapa penulis seperti Ian Flemming dan Agatha Christie mengaku tidak pernah ikut sekolah menulis di masa mudanya. Agatha bahkan mengaku tidak suka menulis saat kecil, bahkan Ian Flemming (penulis James Bond) bahkan baru menulis saat usia 43 tahun setelah sebelumnya bekerja sebagai wartawan. Tapi, bahkan menjadi wartawan itu sendiri ibaratnya adalah sekolah menulis juga kan?

Untuk banyak penulis lain, terutama saya sendiri yang masih amatiran, mengikuti kursus menulis kadang perlu dan memang dibutuhkan. Mengapa harus kursus? Karena tidak semua orang punya bakat menulis. Sedangkan salah satu cara untuk mengalahkan orang yang punya bakat menulis hanyalah dengan kursus menulis. Tentu saja dibarengi dengan ketekunan.

Mengintip Kebiasaan Para Penulis

Tidak ada yang mampu menandingi efektivitas belajar langsung dari ahlinya, termasuk dalam hal menulis. Selain membaca, guru terbaik para penulis adalah para penulis lainnya. Setiap penulis yang baik terinspirasi dan menginspirasi penulis lainnya; begitulah cara kerjanya.

Lalu, muncul sebuah pertanyaan. Siapa penulis favoritmu? Baca dan koleksilah semua karyanya, amati dan perhatikan bagaimana pola dan gaya tulisannya. Kalau ada, follow akun medsosnya, ikuti dan kepoin semua tulisan, buku dan info terbaru tentangnya. Tirulah semangatnya dalam berkarya.

Sebagai awal, tidak apa-apa meniru gaya penulis favorit kita, lama-lama kita akan terasah untuk menemukan gaya menulis kita sendiri. Siapa tahu, kamu akan terpengaruh untuk ikut semangat dalam berkarya.

Menulis rutin atau rutin menulis

Wajib Bangad Yang Ini
Tidak ada latihan menulis yang sebaik menulis itu sendiri. Untuk itu, sering-seringlah menulis agar kamu mengukir prestasi seperti mereka yang telah lebih dulu terjun ke dunia menulis. Akan lebih baik lagi kalau kamu bisa menulis secara rutin, atau dengan kata lain setiap hari.

Tujuannya tak lain adalah untuk melemaskan otot-otot menulismu dan agar makin terampil. Karena menulis ibarat belajar berjalan, semakin sering melakukannya maka suatu saat nanti pasti akan bisa berjalan tanpa bantuan orang lain, malah semakin mahir pula.

Tak ada alasan untuk tidak menulis meski kesempatan itu minim. Tetaplah menulis meskipun harus melakukannya di dalam kepala.

What, menulis dalam kepala? Bagaimana caranya? Masukin kertasnya gimana? Terus, pakai pensil yang apa? Ah, yang benar saja.

Maksudnya menulis dalam kepala adalah mengolah bakal tulisan di dalam kepala: misal memikirkan alur, mencari ide, dan lain-lain. Menulis dalam kepala bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja. Entah itu sambil menunggu antrian, sambil tidur-tiduran, sambil nonton, atau sambil ngapain di WC.

Setelah ditulis di dalam kepala, cepat-cepat dipindahkan ke atas kertas atau dalam folder laptop. Sayangkan kalau ide bagus yang sempat lewat dalam kepala hilang begitu saja. Meskipun otak adalah organ yang hebat, tapi ia rawan 'error/korslet' dalam kondisi tertentu, seperti pas lagi baper.

Terakhir sekaligus penutup. Jika semua langkah diatas sudah dilakukan, maka menulislah. Karena hanya yang menulislah yang akan menjadi penulis.

BTN Antara Makassar, 17 April 2016

Sumber Referensi :
Facebook Instan Artikel Penerbit Diva Press 

10 komentar:

  1. Sepertinya, ikut kursus menulis merupakan ide bagus. Saya butuh kursus menulis, biar pede.

    BalasHapus
  2. Kembali diingatkan.. Terutama untuk yg mengikuti kursus menulis...

    BalasHapus
  3. Saya jadi inget punya koleksi beberapa buku yang belum khatam dan draft naskah yang tertunda. Beberapa kali ditanya teman, kapan naskah saya itu rampungnya? Baca postingan ini seperti mengingatkan saya janji dan tagihan dua orang teman yang setia menunggu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asyik donk kalau begitu. Harus saya ikuti nih, kali saja suatu saat saya bisa nulis buku juga.

      Saya doain biar naskahnya segera rampung.

      Hapus
  4. Salam kenal. Artikel yang bagus. Alhamdulillah, semua tips-nya sudah saya lakukan.
    kebetulan saya juga sudah menulis beberapa tips dan teori menulis. Silakan berkunjung ke www.rafifamir.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga dan terima kasih untuk apresiasinya. Alhamdulillah kalau semua sudah dilaksanakan, berarti saya yang harus berguru nih sama mas Rafif.

      Insya Allah, blognya akan saya kunjungi balik.

      Hapus
  5. ikut kelas online peran tapi DO hehehe harus lebih noat lagi ya aku ikutankelasnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe... Ikutan kelas online harus aktif biar nggak di DO. Sistem kelas online biasanya mirip dengan kuliah, siapa yang nggak masuk 3 kali misalnya, maka harus-siap dapat nilai jelek atau lebih ekstrim di Do.

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...