Kamis, 17 November 2016

Secercah Harapan Untuk Konservasi Kawasan Ekosistem Leuser


Kawasan Ekosistem Leuser yang masih terjaga, foto : Nanang Sujana/RAN
Kawasan Ekosistem Leuser, emangnya ada? Ah, nggak salah dengar nih! Kok nggak begitu familiar ya namanya. Mungkin yang dimaksud Kawasan Gunung Leuser kali, atau saya yang memang kurang piknik, kurang update informasi dan hanya seorang diri yang tidak tahu dengan tempat ini.

Pertanyaan-pertanyaan itu seketika muncul dan memberondong dalam pikiran bak peluru yang ditembakkan. Jujur, yang pernah saya dengar dan tersimpan dalam memory baru sebatas tentang Gunung Leuser. Soal tepatnya ada di provinsi mana, saya belum tahu. Tapi yang jelas lokasinya ada di pulau Sumatera. Kurang lebih hanya segitu referensi yang saya miliki.

Untungnya, beberapa bulan lalu media elektronik dan cetak seperti CNN, Metronews, Kompas, Republika, Tempo dan media lainnya ramai-ramai memuat berita tentang kawasan ini. Apalagi dalam berita itu dibumbui dengan kehadiran aktor tampan pemeran film Titanic dan Revenant. Kalau bukan karena kehadirannya, bisa jadi sampai saat ini saya tidak akan pernah tahu tentang adanya Kawasan Ekosistem Leuser tersebut.

Siapa sih aktor tampan yang di maksud dan apa yang dilakukannya di Kawasan Ekosistem Leuser?

Siapa lagi kalau bukan Leonardo Wilhelm DiCaprio atau lebih akrab dipanggil Leonardo DiCaprio. Berkat kedatangannya yang ramai diberitakan beberapa bulan lalu, saya jadi tahu kalau ada yang namanya Kawasan Ekosistem Leuser. Lalu, apa yang membuat dia bela-belain datang ke kawasan itu. Apakah sekadar untuk liburan usai memenangkan Piala Oscar dan mencoba sensasi berpetualang di hutan tropis, atau sekadar bertemu kawanan gajah dan harimau Sumatera? Entahlah, hanya dia yang tahu.

Namun karena rasa penasaran yang tinggi, saya pun mencari tahu apa gerangan yang sedang dilakukannya di Kawasan Ekosistem Leuser tersebut. Kawasan yang saya yakin belum begitu familiar bagi seluruh warga Indonesia.

Usut punya usut, ternyata tujuannya ke Kawasan Ekosistem Leuser lebih dari yang kita pikirkan. Ya, Leonardo ke kawasan tersebut demi mendukung upaya penyelamatan ekosistem Leuser. Sebuah gerakan yang di motori oleh Gerakan Rakyat Aceh Menggugat (GeRAM). Dimana jauh sebelum kedatangannya, Leonardo juga ikut menandatangi petisi yang dibuat di laman Change.org dan mengajak publik untuk melakukan hal yang sama pula.

Save Leuser Ecosystem bersama Leonardo DiCaprio
Untuk sekadar diketahui, meski nggak begitu populer di mata masyarakat Indonesia, ternyata Kawasan Ekosistem Leuser merupakan salah satu kawasan penting di dunia. Tepatnya adalah bagian dari kawasan konservasi dengan luas yang tidak main-main, kurang lebih 2,6 juta Ha atau setara 26 miliar meter persegi. Sunggu luas bukan?

Mengkhayalkan lahan yang begitu luas, tentu saja manfaat yang didapatkan akan banyak pula. Terlebih lagi dalam hubungannya dengan kelangsungan makhluk hidup. Baik untuk berbagai jenis hewan termasuk yang langka sekalipun, tanaman dan tumbuh-tumbuhan, maupun spesies langka lainnya. Begitu juga buat manusia, lebih khususnya lagi bagi warga yang menggantungkan hidupnya disekitar kawasan tersebut.

Dengan adanya Kawasan Ekosistem Leuser, pasokan air untuk warga disekitarnya pasti akan terjaga dengan baik. Di sisi lain, juga berfungsi dalam mencegah bencana yang bisa jadi berpotensi menghilangkan nyawa manusia. Sedangkan dalam lingkup lebih luas lagi, berperan dalam menjaga perubahan iklim. Nggak cuma di Indonesia aja loh, tapi juga dunia. Salah satunya yang berhubungan dengan pemanasan global.

Namun belakangan ini, sejuta manfaat yang bisa didapatkan dari Kawasan Ekosistem Leuser tersebut mulai mendapat ancaman dari sebagian orang-orang yang punya kekuasaan. Yang artinya sejuta manfaat tersebut seakan tidak berarti apa-apa bagi mereka.

Seperti yang dipaparkan oleh GeRAM yang ditulis oleh Republika, ekosistem Leuser berada dalam kondisi terancam akibat Rencana Tata Ruang Aceh baru dan Rancangan Peraturan Gubernur yang membuka sebagian besar kawasan untuk konsesi usaha budidaya. Masih dalam berita yang sama, menurut GeRAM hal ini mengancam pembangunan berkelanjutan, keanekaragaman hayati, sekaligus keamanan dan ekonomi masyarakat Aceh seluruhnya.

Sedangkan kata Zensi Suhadi, Departemen Kajian, pembelaan dan hukum lingkungan, Eksekutif Nasional Walhi, yang ditulis oleh Metronews, "Saat ini ada 93 perusahaan di wilayah Kawasan Ekosistem Leuser, dimana menguasai 351 ribu hektar lahan. Tidak dimasukannya KEL ke dalam target perlindungan berdampak langsung terhadap kekayaan biodiversity di dalam dan sekitar kawasan, juga akan berpengaruh terhadap kualitas 24 sungai yang menjadi sumber air bersih, irigasi dan tatanan kehidupan rakyat Aceh".

Dari dua kajian tersebut, sudah bisa dibayangkan apa yang akan terjadi ke depannya jika siapa saja boleh masuk ke Kawasan Ekosistem Leuser dan merusaknya dengan perlahan-lahan. Entah itu para penebang liar, pengusaha sawit seperti yang selama ini kita ketahui wilayah Sumatera terkenal akan banyaknya perkebunan kelapa sawit, pengusaha tambang, atau pengusaha lainnya dengan jenis usaha yang berbeda-beda.

Yang pasti, segala bayang-bayang yang ditakutkan itu hanya menunggu waktu saja. Entah itu banjir, tanah longsor, atau bencana lainnya. Yang tentunya bakal mengakibatkan kerugian fisik, materil, dan efek psikologis yang nantinya akan ditanggung oleh para korban serta kerugian-kerugian lainnya.

Beralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit, foto : Nanang Sujana/RAN
Lantas, apakah semua akan diam saja sambil menunggu bayangan menakutkan itu terjadi dan menimpa saudara kita di sekitaran Kawasan Ekosistem Leuser sana? Saya yakin banyak yang sependapat dengan saya dan dengan lantang ikut mengatakan TIDAK. Iya kan!


Namun berkata “TIDAK” saja tidak akan merubah apa-apa. Jika Leonardo DiCaprio saja yang dari jauh bela-belain datang ke Kawasan Ekosistem Leuser, masa kamu yang di dekatnya tidak tersentuh sama sekali. Yah, setidaknya mencoba memulai menyelamatkan bumi dari lingkungan dimana kamu berada. Misalnya dengan menanam pohon di halaman rumah. Tapi kalau mampu berkunjung ke Kawasan Ekosistem Leuser, itu lebih baik lagi.


Apa yang telah dilakukan oleh Leonardo DiCaprio di Kawasan Ekosistem Leuser membawa harapan buat kita semua. Dimana secercah harapan itu berhasil membuat jutaan pasang mata mengalihkan pandangan sejenak ke Kawasan Ekosistem Leuser dan membuka pikiran banyak orang mengenai apa yang terjadi di sana.

Sayang jika secercah harapan yang telah dimulai oleh Leonardo DiCaprio dan di motori oleh GeRAM dengan membuat petisi online demi menyelamatkan Konservasi Kawasan Ekosistem Leuser dibiarkan menjadi angin lalu. Mumpung masih ada waktu, mulai sekarang jangan biarkan Konservasi Kawasan Ekosistem Leuser semakin jauh di kuasai oleh para penguasa dan pengusaha yang punya watak serakah.

Selamatkan Konservasi Kawasan Ekosistem Leuser, demi anak cucu kita yang tak lain akan menjadi masa depan bangsa. Jangan biarkan “Secercah Harapan Untuk Konservasi Kawasan Ekosistem Leuser” yang telah di mulai oleh Leonardo DiCaprio redup dan hilang tanpa jejak.

Makassar, 17 November 2016

4 komentar:

  1. Ya..ampun leonardo aja yg bangsa asing bela2 in utk kelestarian ekosistem alam negeri ini, sebagai bangsa sendiri sudah seharusnya kita pun menjaga kelestarian segala kekayaan hayati negeri ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar sekali, kalau dari bangsa lain saja punya keprihatinan atas kelestarian ekosistem di negeri kita, masa kita nggak mau ikut ambil bagian juga.

      Hapus
  2. Jadikanlah Indonesia sebagai Paru-paru Dunia, dan mari kita jaga kelestarian alam kita, dengan menanam Pohon... salam Lestari..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya udah lama Indonesia dijadikan paru-paru dunia. Sayangnya hampir 2 dekade ini sebutan itu mulai dirusak oleh orang-orang nggak bertanggungjawab.

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...