Rabu, 12 Agustus 2020

Dibalik Penantian Panjang Meraih Mimpi Rumah Pertama

Meraih Mimpi Rumah Pertama (Dok. IG @daribaliklensa)

Nak, bapak kamu akhirnya luluh juga!

Suara itu terdengar serak seperti ada sesuatu yang sedikit menghalangi tenggorokannya. Penantian panjang untuk punya rumah pertama di kota akan segera terwujud.

***

Sejak dulu, rumah adalah impian setiap manusia. Ada beragam alasan yang menjadikannya sebagai prioritas utama selain sandang dan pangan. Ada yang mempersiapkan sebagai tempat singgah ketika berkunjung ke suatu tempat, misalnya kota seperti yang keluarga saya lakukan. Ada pula yang mempersiapkan untuk tempat tinggal saat berumah tangga nanti, bahkan banyak pula yang menjadikannya sebagai bagian dari investasi.

Namun untuk memiliki rumah impian, masih ada sebagian orang yang merasa kesulitan untuk mewujudkannya. Harga yang mahal seringkali menjadi kendala utama, ditambah setiap tahun pasti mengalami kenaikan. Di sisi lain tak semua orang memiliki kesabaran dan kegigihan menabung untuk bisa membeli rumah impian. Itulah mengapa sebagian orang, tak terkecuali pekerja anyar pun ada yang mengeluh kesulitan untuk punya rumah sendiri.

Padahal, kalau mau berusaha mencari tahu lebih jauh, rumah impian tetap bisa diraih meski penghasilan terbilang pas-pasan. Seperti kata pepatah, ada banyak jalan menuju Roma. Selalu ada jalan jika kita punya niat yang kuat, begitu pula untuk meraih rumah impian. Salah satunya dengan mengikuti program rumah bersubsidi dari pemerintah.

Contohnya seperti yang keluarga saya lakukan. Sebagai keluarga yang tinggal di daerah 3T, impian untuk memiliki rumah di kota sungguh begitu besar. Meski bapak seorang PNS (guru), untuk punya rumah impian di kota sangat sulit. Ada banyak alasan yang dijadikan pertimbangan, misalnya gaji hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Itupun masih dibantu oleh ibu dengan membuka warung kelontong agar bisa punya simpanan sedikit.

Alasan lain karena pernah tertipu saat membeli tanah kapling. Uang hasil menabung yang disisihkan sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun raib dibawa makelar tanah. Sejak saat itu bapak trauma untuk punya rumah di kota. Sehingga setiap kali di minta pendapat pasti jawabannya belum mau punya rumah di kota.

Meski kian kemari tantangan semakin berat, saya dan kedua adik saya sama-sama kuliah. Ibu saya tak pernah menyerah. Sesulit apa pun situasi di hadapannya, tak akan membuatnya putus asa. Sambil mencoba usaha baru demi bisa membantu beban bapak, ibu juga meminta tolong kepada saya untuk mencari informasi tentang rumah murah.

Sebagai anak yang sedang kuliah di Makassar, dimana informasi lebih mudah didapatkan, tentu saja akan melakukannya sebagai wujud bakti kepada orangtua. Berbagai informasi tentang perumahan pun saya cari dan setelah saya seleksi pilihan pun jatuh pada program rumah bersubsidi dari pemerintah.

Sayangnya, kala itu (awal tahun 2010) belum ada rumah bersubsidi yang dibangun di kota yang kami inginkan (kota Bau-Bau). Namun kami tidak putus asa, ikhtiar terus dilakukan sembari berharap kepada DIA yang mampu membolak balikkan nasib di atas sana.

Bulan demi bulan pun berlalu, impian untuk memiliki rumah dikota sepertinya akan berakhir indah sebagai bunga-bunga tidur saja. Dan tugas kuliah pun semakin hari semakin banyak, sampai-sampai membuatku lupa membantu mencarikan informasi rumah impian di kota yang sangat di idamkan keluargaku, terutama ibu.

Namun ternyata saya salah, impian itu tidak jadi berakhir sebagai bunga-bunga tidur. Tuhan punya cara tersendiri untuk membuat umatnya bahagia. Perjuangan kami tidak sia-sia, menjelang akhir tahun 2010 tersiar kabar gembira bahwa akan ada rumah subsidi yang dibangun di kota yang kami idamkan.

Tapi kebahagiaan itu hanya sesaat. Drama kembali lagi terjadi, ternyata pendirian bapak masih kuat. Ya, bapak masih menolak dan belum mau punya rumah di kota. Meski saat itu tabungan ibu mencukupi untuk membayar cash rumah subsidi tersebut, yang kebetulan harga rumah subsidinya akan dijual dibawah 100 juta jika dibayar cash.

Hari demi hari pun berlalu, duit yang awalnya bisa untuk bayar cash rumah subsidi sedikit demi sedikit terpakai untuk kebutuhan keluarga dan berobat ibu yang mulai sakit-sakitan. Usaha ibu pun pelan-pelan mengalami penurunan omset. Dan mimpi itu pun terkubur perlahan-lahan.

Setelah menguburnya kurang lebih hampir 2 tahun, tepatnya pertengahan tahun 2012 saya mencoba kembali membangun mimpi memiliki rumah pertama. Saat adik saya yang kedua mau masuk kuliah dan kebetulan yang mengantar ke Makassar adalah ibu. Momentum itu saya manfaatkan untuk membangkitkan kembali semangat ibu agar merayu bapak kembali. Tentu dengan perlahan-lahan akan saya coba bantu diskusikan ke bapak juga setiap kali bapak punya waktu luang menelpon saya.

Senyum Ceria di Balik Penantian Panjang Meraih Mimpi Rumah Pertama

Tak ada usaha dan ikhtiar yang sia-sia. Selama kita tetap gigih, sabar dan dibarengi doa, pasti akan membuahkan hasil yang menggembirakan. Setelah melewati penantian panjang yang penuh drama, impian meraih rumah pertama di kota akhirnya bakal terwujud.

Rumah Impian Kami di Kota (Dok. Adik Saya)
 Rumah Impian Kami di Kota Bau-Bau (Dok. Adik Saya)

Tepat pertengahan Desember 2014, menjelang bapak pensiun sebagai PNS, ibu menyampaikan kabar gembira. “Nak, bapak kamu akhirnya luluh juga! Tapi… kita tidak bisa bayar cash lagi, uang ibu hanya cukup buat bayar uang muka saja. Mau tidak mau harus lewat jalur KPR. Uang yang dulu ibu simpan sudah terpakai sebagian buat berobat sana sini dan juga buat biaya adik-adikmu kuliah.”

Suara itu terdengar serak seperti ada sesuatu yang sedikit menghalangi tenggorokannya. Penantian panjang ibu untuk punya rumah impian pertama di kota menemukan jalannya.

Saya pun menjawab : “Tidak apa-apa bu, mumpung bapak mau dan belum berubah pikiran, turutin aja!”

Minggu pertama tahun 2015, bapak pun menelpon. “Nak, katanya untuk ikut KPR harus buka rekening dulu di Bank BTN, fotokopi KTP, KK, Surat Nikah, dan bukti pernah menjadi PNS bagi yang sudah pension. Kemudian setelah itu pihak bank akan melakukan verifikasi data hingga survey layak tidaknya diterima pengajuan KPR.”

Mendengar penjelasan bapak, saya hanya pun memberikan penyemangat : “Tidak apa-apa pak, ikuti saja prosedurnya, insya allah pengajuan KPRnya di ACC sama pihak bank. Dari cerita orang-orang banyak juga pensiunan yang mengajukan KPR dan di ACC sama pihak bank.”

Sejuta Rumah Untuk Warga Indonesia

Beberapa bulan kemudian, tepatnya akhir April 2015, ibu menelpon kembali. Dari nada suaranya yang sedikit serak, saya menebak sepertinya akan ada kabar bahagia.

Benar saja, rumah pertama di kota yang di impikan selama ini akhirnya terlihat juga wujudnya. KPR yang diajukan disetujui oleh pihak bank. Desas desus program kepemilikan rumah bersubsidi yang oleh Presiden Joko Widodo dinamai “Program Sejuta Rumah” menjadi jalan untuk mewujudkan mimpi memiliki rumah pertama kami di kota, dan juga jutaan warga Indonesia lainnya yang tergolong warga pra-sejahtera.

Dalam mewujudkan program ini, pemerintah pusat tidak berjalan sendiri. Ada Kementerian PUPR sebagai motor penggeraknya, yang juga mengajak berbagai pihak untuk bekerjasama dalam pembangunan rumah bersubsidi ini. Seperti bekerjasama dengan pemerintah daerah, pengembang lokal, maupun perusahaan swasta lewat dana tanggung jawab sosial. Sedangkan untuk pendanaan, selain bank-bank BUMN, ada juga bank swasta yang ikut andil.

Program Sejuta Rumah, itulah semboyan yang menggambarkan salah bentuk cita-cita pemerintah dalam menyediakan rumah murah bagi warganya. Dan tentu saja targetnya sangat jelas. Selama program digelar, setidaknya akan ada sejuta rumah terbangun dengan harga terjangkau. Sejak dimulainya program ini dari tahun 2014 hingga 2019, sebanyak 4.800.170 unit rumah dilaporkan sudah berdiri dan dihuni.

 Pencapaian Program Sejuta Rumah 2019 (Dok. perumahan.pu.go.id)

Tak heran bila dalam kurun 5 tahun pencapaiannya begitu luar biasa. Di tahun 2019 saja, Kementerian PUPR mencatat capaian pembangunan sejuta rumah untuk masyarakat tercatat 1.257.852 unit yang terdiri atas 945.161 unit untuk kalangan MBR dan 312.691 unit untuk non-MBR. Dan itu artinya, warga berpenghasilan rendah hingga generasi milenial yang baru bekerja bisa merasakan nikmatnya memiliki rumah sendiri.

Kabar bahagianya, pemerintah akan tetap melanjutkan program kepemilikan rumah tersebut. Tentu saja tujuannya untuk mengatasi permasalahan kekurangan suplai rumah segenap warganya. Bahkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan Rencana Strategis (Renstra) 2020-2024, pemerintah telah menetapkan target pembangunan rumah rakyat sebanyak 5 juta unit.

Untuk mencapainya, pemerintah pun menyusun program baru yang diberi nama “Program Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera)”. Melalui Peraturan Pemerintah (PP) No.25/2020 tentang Penyelenggaraan Tapera yang diketok palu pada 20 Mei 2020 lalu, setiap pekerja diwajibkan menabung agar kelak bisa punya rumah sendiri. Melalui program ini, sebanyak 500 ribu unit rumah dicita-citakan rampung dibangun hingga 2024 nanti.

 

PP 25/2020 Tentang Penyelenggaraan Tapera (Dok. IG @kemenpupr)

Lewat program ini, selain pegawai instansi pemerintah atau kenegaraan, pekerja swasta pun diwajibkan menjadi peserta Tapera. Selama pendapatannya paling tidak setara dengan upah minimum yang ditetapkan pemerintah. Jadi, bukan hanya aparatur sipil negara, anggota kepolisian, prajurit TNI, dan pegawai BUMD saja yang diberi kemudahan. Pegawai swasta hingga generasi milenial yang baru bekerja pun bisa menikmati fasilitas ini.

Untuk besaran iuran pun sudah ditata agar tidak memberatkan pekerja. Kurang lebih 3 persen dari penghasilan setiap bulan saja. Dari jumlah tersebut, sebesar 0,5 persen ditanggung oleh pemberi kerja. Barulah sisa sebesar 2,5 persen ditanggung secara mandiri oleh pekerja.

Saatnya membangun kembali semangat menabung. Karena kalau tidak dengan metode dipaksa dan dibiasakan, sepertinya mustahil impian untuk punya rumah pertama terwujud.

Jadi, masih berminat memiliki rumah? Kalau saya sih, tambah berminat. Kamu bagaimana?

***

Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Penulisan Artikel yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Perumahan Kementerian PUPR dalam rangka memperingati Hari Perumahan Nasional 2020.

2 komentar:

  1. Bisa memiliki rumah sendiri adalah merupakan impian bagi semua orang. Rumah selain tempat berteduh dan berlindung, juga sebagai tempat melepas lelah sehabis bekerja. Rumah tempat kita berkumpul dengan keluarga. Maka jadikanlah rumah yang layaknya surga bagi keluarga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar, rumah adalah segalanya. Kebutuhan primer yang harus di prioritaskan, karena sejauh apapun kita melangkah pasti akan kembali ke rumah.

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...