Jumat, 16 Juni 2017

Pancasila, Media Sosial dan Aktualisasinya

Flash Blogging bareng Kominfo

Saya Indonesia, Saya Pancasila

Siapa yang tak pernah mendengar atau membaca tagline tersebut dari awal Juni kemarin, yang juga bertepatan dengan hari Kelahiran Pancasila. Dimana sejak tagline tersebut pertama kali didengungkan oleh orang nomor satu Indonesia, yaitu Bapak Presiden Ir. H. Joko Widodo. Pengguna media sosial pun ramai-ramai menjadikannya viral alias booming. Entah itu di facebook, instagram, twitter, maupun blog masing-masing.


Hadirnya media sosial, segalanya langsung berubah menjadi muda, cepat, dan serba instan. Dengan kata lain ada banyak manfaat yang bisa di raih disana. Namun dibalik itu, ada hal yang perlu diwaspadai. Pertanyaan pun muncul, apakah itu?

Dampak negatif. Ya, sekali lagi, dampak negatif. Itu yang patut diwaspadai mulai saat ini. Tanya kenapa? Tanyakan pada diri anda sendiri, apa yang telah anda lakukan di media sosial. Adakah hal-hal yang menurut hati nurani anda sebenarnya bertentangan, namun karena niat iseng-iseng atau mengikuti tren, akhirnya dilanggar juga. Dan itu tidak butuh modal banyak, cukup dengan jempol.

Ya, modal jompel. Dalam sekali sentuhan, apa yang anda bagikan di media sosial besar kemungkinan akan menjadi viral. Bahkan dengan adanya media sosial, kecepatan cahaya pun kini punya saingan. Ya, jempol itu sendiri yang menjadi saingannya. Mau itu hoax, provokasi, propaganda atau apapun itu, saat ini banyak orang sudah masa bodoh. Nggak adalagi kroscek, yang penting share, share, dan share tanpa memikirkan dampak jangka panjangnya.

Melihat hal ini yang sudah mulai meresahkan, pemerintah pun berinisiatif untuk mengimbanginya. Bagaimana caranya, salah satunya adalah dengan melibatkan pegiat media sosial, seperti blogger.

Ngomongin tentang blogger, hari ini, di Jum’at yang penuh berkah, bersama Kominfo dan berlokasi di Kota Makassar, diadakan sebuah kegiatan bernama Flash Blogging. Dimana tema yang di angkat ada hubungannya dengan kalimat pembuka tulisan ini, tepatnya tentang Pancasila dan dikaitkan dengan hadirnya media sosial di era teknologi seperti saat ini.

“Aktualisasi Nilai-Nilai PANCASILA Dalam Bermedia Sosial”. Itulah tema yang di ulas hari ini.

Bertempat di Grand Clarion Makassar, acara #TemuBlogger dibuka oleh Kepala Diskominfo Statistik dan Persandian Sulsel, Bapak Ir. H. Abdullah, M.Si.

Dalam pembukaannya beliau mengatakan bahwa di Pemprov SulSel ada sebuah gerakan yang digalakkan, yaitu “Membumikan Pancasila di Media Sosial”. Sebuah gerakan yang sejalan dengan tema yang diangkat dalam kegiatan Flash Blogging di Jumat yang berkah ini. Dimana yang digerakkan adalah para generasi muda, seperti para mahasiswa. Tak Cuma itu saja, ada juga tagline yang coba diboomingkan, yakni “Santun dan Produktif di Media Sosial”.

Selain itu, hadir juga beberapa narasumber dari berbagai disiplin ilmu. Ada DR. Hery Santoso (Kepala Pusat Kajian Studi Pancasila UGM), Prof. DR. AM. Ghalib (Sekretaris Umum MUI SulSel), dan Handoko Darta (Salah satu Staf Tim Komunikasi Kepresidenan).

Sebelum acara di mulai, seperti biasa, diawali dahulu dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya untuk meransang jiwa nasionalis peserta yang hadir. Setelah itu, untuk menghemat waktu, para narasumber dipersilahkan menempati tempat yang telah disediakan.

Aktualisasi Pancasila Dalam Pandangan Seorang Kepala pusat Studi Pancasila UGM

Adapun materi pertama di awali oleh Bapak DR. Hery Santoso. Materi yang dibawakan tidak jauh-jauh dari kehidupan sehari-hari dan hubungannya dengan aktualisasi pancasila. Beliau mengatakan bahwa, Pancasila itu bermula dari budaya, tepatnya di gali dalam budaya kita. Kemudian setelah pancasila hadir, dalam aktualisasinya dibagi ke dalam 3 bagian, yaitu : berbudaya, beragama, lalu berakhir di berbangsa dan bernegara.

Dalam penerapan pancasila ada banyak tantangan yang dihadapi bangsa ini, dimana khusus untuk dunia media sosial masuk dalam Proxy War. Seperti pengantar tulisan ini, dampak negatif dari bermedia sosial akhir-akhir ini udah banyak di kesampingkan. Bahkan kecepatan jempol sudah menyaingi kecepatan cahaya. Yang penting share, share, dan share.

Dari aktifitas jempol tersebut, ada hal yang mulai dilupakan. Apa itu? Etika. Dan sadar atau tidak hal merupakan bagian dari aktualisai nilai-nilai Pancasila.

Sudahkah anda mengaktualisasikan nilai-nilai pancasila dalam bermedia sosial. Hanya anda yang tahu jawabannya.

Pancasila, MUI dan Media Sosial

Usai materi pertama, materi selanjutnya dari MUI SulSel yang dibawakan oleh Prof. DR. AM. Ghalib. Dalam pandangannya, apa yang di fatwakan oleh MUI adalah sebagai penguat dari Pancasila, UUD, Peraturan Presiden, dan lain sebagainya.

Lalu bagaimana dengan media sosial yang sudah menjadi bagian hidup masyarakat era modern seperti sekarang ini?

Dalam bermedia sosial, hal yang perlu dilakukan adalah melakukan kroscek dulu atau tayabun sebelum menshare alias jempol anda bertindak. Kroscek disini bisa melakukan perbandingan antara berita yang satu dengan yang lain, bisa juga menanyakan kepada orang lebih mengerti, atau cara yang menurut masing-masing adalah paling mujarab.

Apa gunanya melakukan tayabun terlebih dahulu? Jawabannya adalah karena jangan sampai kecepatan jempol mengalahkan nalar berpikir, termasuk di dalamnya attitude atau etika.

Ada baiknya jempol anda menshare berita yang positif, bernilai ibadah, bermanfaat bagi orang banyak, tidak menyusahkan diri maupun orang lain. Dan satu hal pasti jangan mengajak berdebat, karena akan lebih banyak berujung pada hal negatif. Jika sudah demikian, lebih baik diam.

Aktualisasi Nilai-Nilai Pancasila Dalam Bermedia Sosial Bagi Pemerintah

Bagi pemerintah, media sosial menjadi wadah untuk mengajak masyarakat melakukan hal positif, menunjukan kepada masyarakat seperti inilah tingkatan kerja pemerintah, dan masih banyak lagi. Dengan kata lain, inilah salah satu cara pemerintah untuk lebih dekat dengan rakyatnya, termasuk untuk melakukan sosialisasi. Kurang lebih seperti itulah yang saya tangkap dari yang disampaikan oleh Bapak Handoko Darta.

Ada banyak yang telah dilakukan pemerintah, dimana semua kinerjanya bisa kita lihat dalam website bernama www.kerjanyata.id atau bisa juga di www.presidenri.go.id/bulusukan.

Dalam pandangan pemerintah, daripada meladeni mereka yang nyinyir sana sini, lebih baik menunjukkan hasil kerja nyata dan berbagi semangat positif. Dan itu adalah bagian dari aktualisasi nilai-nilai pancasila.

So... sudahkah anda mengaktualisasikan nilai-nilai pancasila dalam bermedia sosial? Sudahkah anda membumikan pancasila di media sosial? atau sudahkah anda santun dan produktif di media sosial?

Saya Indonesia, Saya Mencintai Pancasila. Bagaimana dengan anda?

#Pancasila #TemuBlogger

2 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...