Sabtu, 30 September 2017

Harapan Untuk Kereta Api Indonesia di Samudera Perubahan


Dirgahayu Kereta Api Indonesia (Foto : www.kai.id)
Tujuh puluh dua tahun, kiprah kuda besi dibawah PT. KAI melesat ditengah samudera perubahan. Tak sedikit riak-riak tantangan yang terlewati. Namun, seperti matahari yang selalu muncul di ufuk dengan secercah harapan, Kereta Api Indonesia pun selalu berusaha melakukan hal yang sama.

Meski telah banyak hal yang dilakukan dari dulu hingga kini, KAI terus mencoba memberikan hal baru dan terbaik kepada setiap pelanggannya. Ia mengubah harapan dan impian yang dibawa menjadi sebuah tantangan untuk menjadi lebih baik lagi di masa mendatang. Demi sebuah pengalaman yang luar biasa, yang tentunya ditujukan untuk seluruh pelanggannya. Tak terkecuali seperti saya. Anak kampung yang tak pernah terbayang sebelumnya bisa merasakan sensai naik kuda besi itu.

*    *    *

Sore itu (Juni 2009), setelah berlama-lama di rumah salah satu keluarga di Pasuruan, kami pun beranjak untuk pulang. Saat akan naik mobil, tiba-tiba tercetus ide dari sanak saudara yang kami kunjungi. Ide itu menjadi pengalaman pertama dalam hidup saya pada kuda besi yang selama ini hanya saya dengar lewat cerita pengantar tidur. Ya, sanak saudara yang kami kunjungi menyarankan untuk naik kereta api. Mengingat ketika itu yang ikut lebih banyak belum pernah merasakan naik kereta, termasuk saya sendiri.

Tanpa menunggu lama, kami pun diantar ke stasiun terdekat dari rumah saudara tersebut. Dan itulah pengalaman pertama saya naik kereta api, dari stasiun di Pasuruan ke stasiun Pasar Turi kota Surabaya, dengan jarak tempuh kurang lebih 1,5 jam.

Kala itu masih jelas sekali teringat, kelas ekonomi yang penuh dan saya harus berdiri dipojok dekat pintu gerbong. Tapi yang menarik, saya bisa menyaksikan pemandangan alam sepanjang jalur kereta dari Pasuruan hingga stasiun Pasar Turi, Surabaya.

Setelah pengalaman pertama itu, saya harus menunggu 3 tahun lamanya untuk kembali merasakan sensasi naik kereta api. Waktu itu, akhir Maret hingga minggu pertama bulan April 2012, saya berkunjung ke ibukota Indonesia. Dengan suasana yang berbeda dan wajah kereta api yang semakin lebih baik, saya pun kembali disuguhkan pengalaman luar biasa. Terlihat jelas dari interior kereta yang semakin tertata rapi, bersih, bahkan hampir tidak ada pengamen maupun pedagang asongan. Kursi-kursi di dalam kereta pun semakin modern, yakni berbentuk sofa. Tak ketinggalan juga pelayanannya yang semakin baik pula.

Sayang, ada satu yang tak berubah kala itu. Di saat jam sibuk, tak jarang pengguna kereta menjadi ikan pepes. Ibu-ibu jadi lebih spartan daripada para pejantan dan pencopet kadang masih beraksi.

Namun demikian, saya salut dengan yang lakukan oleh PT. KAI. Kenapa? Seperti yang sudah saya jabarkan di awal tulisan ini, PT. KAI selalu berusaha berbenah dan memberikan yang terbaik kepada setiap pelanggannya.

Terbukti, saat saya berkunjung ke Jakarta kembali awal Desember 2016 hingga pertengahan Februari 2017, perubahan itu begitu jelas terlihat. Interior kereta yang semakin keren, sofa yang semakin empuk, dan pelayanan yang semakin membaik. Bahkan untuk memanjakan pelanggan setianya, PT. KAI melengkapi kereta dengan layar monitor untuk memudahkan pelanggan mengetahui di stasiun mana berada dan tak ketinggalan suguhan menarik di dalamnya.

Antara Jakarta dan Bandung

Pagi itu, sesuai rencana sebelumnya, bersama doi sudah berada di stasiun Gambir. Ada yang menarik di stasiun ini. Kesan pertama yang saya rasakan begitu mewah, modern, dan pelayanannya yang memuaskan.

Setelah mencetak tiket, bersama doi langsung bergegas menuju peron 4, tempat dimana kereta Parahyangan yang akan ke Bandung berada. Sebelum kereta datang, dalam hati kecil saya bertanya-tanya. Apakah keretanya masih sama seperti dulu, seperti waktu di Surabaya?

Tanpa menunggu lama, jawaban pun datang. Kami pun masuk kereta dan yang saya dapatkan malah sebaliknya. Begitu menakjubkan. Dari pintu masuk saja sudah disambut oleh pramugari layaknya naik pesawat. Pemandangan dalam kereta pun sangat bersih dan kursi kelas ekonomi sudah layaknya kursi di pesawat.

Kursi di Kelas Ekonomi Argo Parahyangan
Perjalanan dengan kereta Parahyangan menuju Bandung pun di mulai. Saya pun menyandarkan diri di empuknya kursi kelas ekonomi. Tak ketinggalan sesekali melihat pemandangan yang disuguhkan sepanjang perjalanan antara Jakarta hingga Bandung. Dan menariknya lagi, tidak ada lagi pedangan asongan apalagi pengamen dalam kereta. Malah sensasi ayng didapatkan sudah sama seperti dalam pesawat, Mulai dari lantunan alunan musik, suguhan film menarik, dan makanannya pun tidak beda jauh.

Harapan Untuk Perkeretaapin Indonesia di Masa Mendatang

Ngomongin tentang harapan untuk perkeretaapin Indonesia, jujur saya tidak terlalu meminta yang muluk-muluk. Karena bagi saya, semua butuh proses dan juga kesadaran dari penggunanya sendiri. Di sisi lain, saya masih anak bawang sebagai pengguna kuda besi ini.

Mengacu dari pengalaman singkat seperti cerita saya diatas, ada beberapa hal yang perlu diperbaiki dan bisa dijadikan modal untuk membuat kereta api Indonesia semakin melesat jauh di samudera perubahan. 

Pertama, manajemen dan pengelolaan layanan yang efektif. Seperti yang terjadi setiap tahunnya, ada satu hal yang tak pernah berubah. Masalah penumpang masih menjadi hal klasik yang berulang-ulang. Ada baiknya menambah armada atau mengatur kembali jadwal keberangkatan kereta, khususnya di jam sibuk agar semakin efektif dan tidak terjadi penumpukan penumpang.

Kedua, memperkuat basis digital. Kereta Api Indonesia harus meningkatkan daya saing, khususnya di era digital seperti saat ini. Masih menumpuknya penumpang saat akan membeli tiket, atau melakukan pengisian saldo kartu Commuter Line merupakan salah satu masalah yang perlu segera diselesaikan. Ada baiknya KAI meningkatkan kolaborasi dengan perusahaan digital atau perusahaan lainnya yang bisa membantu mengefisienkan masalah antrean salah satunya.

Ketiga, tetap positif. Maksudnya disini tidak pernah berhenti menerima masukan yang datang dari setiap pelanggan dan menjadikannya barometer untuk menjadi lebih baik lagi. Dengan kata lain apa yang menjadi motto dari KAI, yakni “Anda Adalah Prioritas Kami” benar-benar terwujud.

Keempat, mempertahankan yang sudah baik dan menambah jaringan. Misalnya bekerja sama dengan komunitas-komunitas pecinta kereta api. Artinya, mau tak mau harus membuka diri dan mengajak semua pihak untuk terlibat dalam kemajuan kereta api di masa mendatang.

Warkop 51 Makassar, 29 September 2017

4 komentar:

  1. memang sekarang mah naik kereta nyaman bahkan yg ekonomi juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, udah sama kaya naik pesawat saja.

      Hapus
  2. Mottonya mantap yaa...
    “Anda Adalah Prioritas Kami”
    God job

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...