Selasa, 06 Juni 2017

7 Cara Mudah Mencegah Terjadinya Banjir Part 1


Ilustrasi dari www.pasangmata.com
Banjir, disebabkan oleh air yang tidak meresap ke tanah karena terlalu banyak melimpas ke selokan, sungai dan sistem drainase yang tak mampu menampung air hujan.

Mindset kita selama ini adalah bagaimana caranya membuang air limbah dan air hujan secepat mungkin disalurkan ke selokan, kali, sungai dan berakhir di laut. Kalau hal itu kita lakukan terus menerus maka sumber daya air di dalam tanah cepat terkuras habis. Akibatnya banjir di musim penghujan, kekeringan di musim kemarau dan instrusi laut/masuknya air laut ke daratan. Pola pikir tersebut yg kita pakai selama ini harus dirubah. Harusnya air limbah rumah tangga dan air hujan wajib dikembalikan ke tanah.

Setidaknya ada 14 cara penanganan air limbah dan air hujan, yang bisa kita lakukan. Dimana cara yang dimaksud saya rangkum dari beberapa tulisan para Arsitek Senior yang ditulis media sosial bernama facebook. Namun pada kesempatan kali ini tidak akan langsung saya uraikan semuanya, melainkan separuhnya dulu.

Ya, pada kesempatan kali saya hanya membahas "7 Cara Mudah Mencegah Terjadinya Banjir". Seperti apakah ketujuh cara tersebut, simak ulasannya dibawah ini.

Sumur resapan

Jangan dikira hanya 1 sumur resapan dapat menyelesaikan masalah. Harus diukur dulu kapasitas air hujan yang maksimum terjadi seberapa besar? Satu kompleks bangunan sebesar Grand Indonesia butuh lebih dari 100 sumur resapan. Sumur resapan juga tergantung lokasi, kalau tanahnya liat (clay), berada di daerah pantai, atau muka air tanah dangkal, solusi dengan sumur resapan tidak efektif.

Biopori

Sering kita mendengar program “Pembuatan SEJUTA lubang Biopori”. Pertanyaanya, siapa yang ngebor?? Kalau sudah ngebor, siapa yang ngurus? Tahukah anda kalau Biopori itu tidak hanya sekedar mengebor saja. Membuat Biopori haruslah melihat jalur aliran air, paling bagus ditempatkan di saluran. Trus, waktu untuk membuat 1 lubang bisa sekitar 15 – 30 menit, capek lho (banyangin kalau bikin sejuta akan makan waktu berapa lama). Trus, jangan lupa lubang harus senantiasa diisi dengan sampah organik, agar pori2 tanah bisa terbuka oleh cacing2 tanah yang makan sampah tersebut. Kalau gali di tanah yang gak ada cacingnya atau gak dimasukin sampah, percuma. Biopori bagus untuk skala rumahan di lingkungan padat, borlah saluran air depan rumahnya (yang biasanya disemen semua).

Penampungan air hujan

Kalau tinggal di kota pulau besar seperti Jawa, Sumatra, Kalimantan, air hujan sering dicela-cela, misalnya berkata “Yaaaaahhhh....Hujaaaannn...” atau “Sialaann....pake hujan segala”. Kalau di pulau-pulau kecil seperti di Wakatobi (My Village), atau di pulau Panggang, hujan adalah berkah karena sekelilingnya laut, sumber air yang bisa diminum adalah air hujan.

Menangani air hujan sudah pasti akan mengurangi debit air yang dibuang menjadi banjir. Setelah ditampung, air hujan dapat digunakan untuk berbagai hal saat hari sedang tidak hujan, misalnya: menyiram tanaman, mengisi air kolam ikan, bersih-bersih tembok rumah, dan lain-lain. Kalau tinggal di daerah industri, atau dekat dengan lalu lintas kota, air hujan 5 menit pertama atau bisa juga 3 mm pertama, sebaiknya dibuang (bisa buang ke tanaman), karena mengandung asam dan karbon dari polusi udara. Baru setelah itu digunakan untuk berbagai manfaat.

Kolam Resapan

Yang ini lebih canggih dari sumur resapan. Syaratnya, kalau sedang tidak hujan, kolam harus KERING!! Kalau tidak kering, namanya danau atau waduk. Pada saat kering, lumpur bisa dibersihkan. Jangan menjadikannya sebagai kolam ikan, karena kalau kolam kering, ikannya mati. Ibarat banjir, daerah kolam resapan memang sengaja DIBANJIRI. Bayangkan ada celukan beralaskan tanah/rumput seluas lapangan badminton, yang memang sengaja dibanjiri kalau sedang hujan.

Taman Hujan

Mirip dengan kolam resapan, namun bentuknya bukan celukan, melainkan taman yang indah. Air hujan sengaja dialirkan melalui taman ini agar “sempat” menyerap ke tanah, walau perlu juga overflownya. Jadi rute airnya: Air hujan -> talang -> got -> tanam hujan -> got -> sumur resapan/kolam/dll. Nama kerennya Rain Garden atau Bio retention.

Bioswales

Pernah lihat got tetapi hanya berupa celukan, tanpa disemen, dan ditumbuhi rumput? Nah, itu namanya Bio swales. Jadi, air hujan selain mengalir di got, dia juga menyerap ke dalam tanah. Yang menyebabkan menyerap adalah akar-akar rumput yang membuat rongga tanah terbuka. Tanam saja rumput vetiver yang punya daya serap cukup kuat. Ingat, harus KERING kalau sedang tidak hujan, jadi limbah cucian jangan dibuang ke got ini.

Roof Garden

Penanganan air hujan dengan membuat taman di atap juga menjadi salah satu solusi mengurangi debit air hujan yang membuat banjir di kota. Syaratnya, harus didesain dari awal pembangunan. Karena perlu diperhitungkan juga beban tanah yang cukup berat, ditambah beban air saat hujan nanti. Prinsipnya adalah: Air hujan jatuh di atas tanah -> menyerap ke tanah yang seperti spons -> Menguap lagi saat tidak hujan. Hal yang harus diperhatikan adalah harus ada blok drainase dibawah tanahnya, agar air berlebih dapat dibuang.
Semoga bermanfaat.
BTN Antara, 7 Juni 2017

4 komentar:

  1. Boleh neh diterapkan di kamoung halaman, kebetulan sekarang jadi sering banjir, duuuh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kebetulan tuh, harus mulai digalakkan ke warga kampung halaman. Lumayanlah buat ngurangin banjir kalau warganya nanti bisa mempraktekkannya.

      Hapus
  2. Roof garden yang lagi kekinian mas Timur.. kalau bio swales belum pernah liat atau ngga sadar kalau itu bioswales..biopori udah kehilangan gaungnya ...

    Dan nanti ramai dibicarakan lagi kalau sudah banjir datang.. kalau belum, sedikit yang perduli mas timur :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah... itu dia yang jadi masalah saat ini. Untuk biopori yang genjar saat ini masih dari pihak pemerintah, kebetulan punya pengalaman mengawas proyek landscape dan ada bioporinya.

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...