Senin, 19 Juni 2017

7 Cara Mencegah Terjadinya Banjir (Part II)

Ilustrasi Banjir (www.aspirasirakyat.com : 24/10/2016)
Duh, baru hujan sejam udah banjir plus macet.

Kalimat itu begitu khas dan paling banyak di ucapkan oleh orang-orang yang sedang berteduh saat hujan mengguyur kota Makassar seminggu yang lalu. Ketika itu, hari udah sore dan kurang lebih 1,5 jam lagi waktu berbuka puasa akan tiba. Namun karena hujan yang lumayan deras, banyak pengguna jalan khususnya pengendara roda dua menepi dan mencari tempat untuk berteduh.

Sore itu, tanda-tanda hujan berhenti seakan tidak ada. Saluran air kota alias got di depan tempat saya kursus terlihat penuh dan mengalir dengan deras. Saking penuhnya, perlahan-lahan mulai menggenangi ruas jalan utama. Kendaraan yang melintas satu persatu mulai menumpuk, dalam benak saya ikut terlintas sebuah kalimat : “Pasti sudah banjir lagi, makanya jalanan mulai terlihat macet”.

Saya pun menduga penyebabnya pasti di sekitaran kantor gubernur. Dugaan tersebut bukaan tanpa data, karena saya sering lewat jalan itu setiap kali pulang dari kampus. Apalagi saat studio akhir tahun kemarin, tepatnya mulai bulan Agustus akhir hingga awal November. Dimana selama rentang waktu tersebut, saya selalu pulang sekitar pukul 17.00 – 18.20 Wita dan setiap kali hujan, pasti di situ ada empang (bullyan khas warga makassar).

Tapi itu memang fakta, karena beberapa kali sempat melihat anak-anak berenang di area tersebut. Bahkan pernah ada ikan seukuran telapak tangan yang terjebak ditempat itu. Entah ia datang darimana, hanya ikan itu yang tahu.

Selain bahasa khas seperti kalimat pembuka tulisan ini, saya juga beberapa kali mendengar keluhan lain sore. Kebetulan saat itu seusai magrib, hujan sudah mulai reda. Saya pun segara naik angkot untuk beranjak pulang ke kost. Saat di dalam angkot, sang sopir semangat sekali mengeluarkan keluhannya, tak ketinggalan juga beberapa penumpang lain mengeluh, bahkan di dalam facebook pun ada beberapa yang menulis status mengenai keadaan sore itu.

Beberapa diantaranya saya tulis kembali dibawah ini :
Beberapa jalanan utama, yang juga masuk area vital mendadak jadi empang alias mirip kolam ikan.

Hujan sore ini berhasil memindahkan Bugis Water Park ke jalanan.

Bagaimana kalau hujannya sehari, bisa tenggelam dan lumpuh nih kota?

*    *    *
 
Nah, ngomongin tentang banjir, pada tulisan saya sebelumnya membahas “7 Cara Mudah MencegahTerjadinya Banjir” dari 14 cara yang ada. Pada kesempatan kali ini, saya akan mengulas kembali sama. Tentu dengan isi yang berbeda. Berikut info lengkapnya dibawah ini :

Tanam Pohon Rindang

Tahukah anda mengapa pohon trembesi disebut Ki Hujan? Kalau tidak tahu, tanya Mbah Google. Kenapa green? Karena air hujan banyak yang tertahan di daun-daun dan menghambat jatuh ke tanah. Terlebih lagi, daun dan batang pohon juga mampu menyerap air. Sehingga, solusi menanam pohon rindang, sangat Green. Jangan lupa dirawat pohonnya, jangan ditebang seluruhnya, pangkas sedikit-dikit agar rapi juga bagus supaya tidak terlalu “gondrong”. Anggap saja pohon itu adalah rambut bagi lahan kita.

Grass Block

Perlu lahan parkir, tapi juga yang dapat menyerap air, gunakan saja Grass Block daripada menggunakan aspal. Dengan ini, air hujan dapat menyerap ke tanah dibawahnya. Lakukan perawatan juga, jangan sampai rumputnya hilang atau rumputnya terlalu “gondrong”. Jangan gunakan grass block untuk pedestrian atau jalan raya, karena akan menyulitkan para wanita yang bersepatu hak.

Infiltration trench

Jangan pikir batu-batu kerikil di bibir taman/got/jalan hanya sebagai penghias. Batu di bibir got memiliki fungsi untuk menghambat air agar jangan langsung rebutan masuk ke got. Air yang masuk ke bebatuan tersebut sebenarnya juga masuk lebih dalam, sehingga berfungsi mirip seperti sumur resapan. Ada juga yang menyebutnya French drain.

Perkerasan berpori

Fungsi got di jalan raya untuk mobil adalah untuk membuang air hujan yang ada di jalan. Karena, jalan harus senantiasa kering agar aspal/beton tidak rusak. Sekarang sudah ada teknologi beton berpori atau ikatan resin (resin bound), yang memungkinkan air hujan menyerap ke dalam perkerasan, lalu menghambat laju airnya yang selebihnya dibuang ke got/tanah. Dengan ini, jalan raya tidak menyumbang air untuk banjir di perkotaan.

Kolam detensi

Kolam detensi bukanlah kolam resapan. Dia hanya bersifat menahan (detensi). Sumur/kolam resapan juga bisa bersifat detensi. Berbeda dengan kolam penampungan air hujan bersifat menyimpan (retensi). Bedanya dengan sumur resapan yang harus kering kalau tidak hujan, kolam detensi harus berisi dan memiliki biota tetap di dalamnya.

Kolam ini bisa berbentuk kolam ikan, kolam teratai, yang kapasitasnya sekitar 50% volumenya, saat hujan bisa meningkat menjadi 70-80% kapasitas, yang memiliki semacam pintu air agar volume bisa kembali ke 50%. Secara alamiah, waduk berfungsi sebagai kolam detensi (makanya dulu Belanda bikin banyak waduk di sekeliling Jakarta).

Sel drainase (Drainage cell)

Sekarang sudah ada produk yang berupa paket blok-blok atau sel penampungan air hujan, yang bisa ditanam di tanah ataupun ditempatkan dibawah jalan raya. Sehingga, dapat mengurangi tempat untuk lahan yang terbatas. Seperti main Lego saja, bisa disusun bentuknya sesuka hati, bisa mulai bentuk kotak, hingga jajaran genjang. Fungsinya mirip sumur resapan.

Manajemen saluran air

Got atau saluran drainase buatan idealnya adalah mengalirkan air pada saat adanya beban. Jadi istilah Banjir kanal seharusnya hanya terisi air saat hujan. Kalau sudah penuh terisi air saat tidak hujan, banjir kanal tidak berfungsi sebagaimana mestinya lagi. Coba kita lihat bersihnya banjir kanal di Singapura yang saya foto ini pada saat kering, dan kondisinya pada sesaat setelah hujan sangat deras.

Bencana banjir seolah-olah terdengar tidak asing lagi, karena bencana tersebeut sering kali menimpa masyarakat. Hujan deras berkepanjangan sehingga menyebabkan bencana banjir yang tidak dapat di hindari, banjir yang merusak lingkungan, tempat tinggal dan perabotannya, sampai mengancam kesehatan karena banyaknya penyakit yang dapat menyerang kesehatan.

Apakah kita hanya bisa diam saja tanpa melakukan tindakan sedikit-pun dan membiarkan kondisi menjadi tidak sehat. Tentu tidak, karena itu kita harus bekerja sama dengan pemerintah yang telah bekerja keras selama ini untuk menanggulangi bencana banjir, sehingga kita harus mendukungnya untuk penanggulangan bencana banjir.

Terakhir, selamat mencoba.
BTN Antara Makassar, 18 Juni 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...