Kamis, 15 Desember 2016

Segalanya Jadi Lebih Mudah Dengan E-Money

Soekarno-Hatta Airport
Rabu, 7 Desember 2016, hampir pukul 10 pagi waktu Jakarta pesawat yang saya tumpangi mendarat dengan mulus di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta. Pagi itu, udara terlihat cukup cerah dan  langit tampak putih kebiruan menyambut kedatangan saya. Untuk ketiga kalinya, saya akhirnya menginjakkan kaki di terminal bandara yang penuh dengan kenangan.

Tak terasa, sudah 4 purnama berlalu setelah kejadian itu. Tepat di terminal bandara yang sama, dua sejoli mau tidak mau harus terpisahkan oleh jarak dan waktu. Sebuah perpisahan yang tidak bisa terelakkan. Namun demi masa depan dan kebaikan bersama, harus tetap dilakukan.

*   *   *

Pagi itu, dengan wajah yang ceria dan senyum sumringah, saya pun turun dari pesawat Lion Air yang saya tumpangi. Perlahan-lahan lorong demi lorong terminal bandara saya susuri hingga sampai di pintu keluar. Sesampainya di pintu keluar, teriakan dari para supir taxi terdengar begitu menggema dan memekakkan telinga. Dengan wajah penuh harap, mereka terus mencoba menawarkan jasa dengan caranya masing-masing.

Namun apalah daya, teriakan itu tidak menggoyahkan niatku menuju tempat pembelian tiket bis. Dalam hitungan detik, saya pun sampai di tempat pembelian tiket. Tanpa menunggu lama, saya lalu memesan sekaligus membayar satu tiket untuk tujuan Pasar Minggu.

Pakai E-Toll, Antri Pun Nggak Pake Lama
Ilustrasi penggunaan E-Toll : otomotif.metrotvnews.com
Singkat cerita, bis tujuan Pasar Minggu yang di tunggu-tunggu pun akhirnya muncul juga. Saya dan beberapa penumpang lainnya segera bergegas menuju ke dalam bis. Saya pun memilih duduk di kursi paling dengan maksud ketika sampai di terminal Pasar Minggu nanti, bisa turun dengan cepat.

Dalam perjalanan dari bandara menuju terminal Pasar Minggu, banyak perubahan yang terjadi. Namun ada satu hal yang paling menarik perhatian saya pagi itu, tepatnya ketika memasuki pintu tol. Saat supir bis akan membayar biaya masuk tol, samar-samar terdengar sebuah pertanyaan, yang isiny kurang lebih seperti ini : “Tidak pakai kartu E-Toll pak?

Sang sopir pun menjawab, tidak mbak. Bayar pakai tunai saja dan di saat yang bersamaan, tepatnya disebelah kiri bis (kebetulan saya duduk dekat jendela), tampak pengguna mobil pribadi menempelkan sebuah kartu pada sebuah mesin yang tersedia di pintu tol dan tak lama kemudian struk pembayaran pun keluar.

Dari kedua aktivitas yang saya saksikan tersebut, terdapat perbedaan yang mencolok. Dimana dengan menggunakan pembayaran secara tunai, dibutuhkan waktu sedikit lebih lama bila dibandingkan dengan pengguna non tunai, seperti E-Toll yang digunakan pemilik mobil pribadi tadi. Yang artinya hal ini pun berdampak pada pelayanan dan antrian kendaraan.

Tak tanggung-tanggung dan masih dari yang saya saksikan pagi itu, dengan menggunakan E-Toll atau membayar secara non tunai, perbandingannya 3 kali lebih cepat dibandingkan dengan yang pakai tunai. Maksud saya begini, kasir di pintu tol masih melayani satu kendaraan sedangkan di mesin E-Toll sudah melayani 3 kendaraan.

Melihat hal tersebut, saya jadi teringat dengan seminar tentang “Smart Money Wave” yang diadakan oleh Bank Indonesia dan Net TV di kampus UNM sebulan yang lalu. Dimana inti dari seminar tersebut adalah hadirnya non tunai, dalam hal ini E-Money (E-Toll dan kawan-kawan) memberikan kemudahan, kepraktisan dan juga efisiensi. Dan memang terbukti lewat kejadian yang saya lihat pagi itu ketika berada di pintu tol. Bahwa bertransaksi menggunakan non tunai segalanya jadi lebih mudah, cepat, praktis dan efisien.

Bahkan jauh sebelum kejadian pagi itu, saya sebenarnya sudah merasakan kemudahan bertransaksi dengan menggunakan non tunai. Tepatnya setelah mengikuti seminar “Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT)” yang diadakan oleh Bank Indonesia juga setahun yang lalu digedung BI Cabang Makassar.

Ketika itu, saya sebenarnya tidak begitu percaya dengan yang namanya non tunai. Namun karena penasaran yang tinggi dan kebetulan juga saat berbelanja di salah satu merchant uang yang saya tidak cukup, maka saya pun mencoba menggunakan kartu ATM yang saya bawa. Kepada kasir, saya pun memberikan kartu ATM saya. Dengan cekatan dan lincahnya, ia menggesek kartu ATM saya kemudian mendebet belanjaan saya dan dalam hitungan detik semuanya pun beres. Uniknya, saya tidak perlu lagi pulang dengan membawa kembalian berupa recehan, apalagi beberapa keping gula-gula.

Memesan Tiket Pesawat Lewat Mobile
Screen Shoot E-Tiket dari Traveloka
Tak hanya itu saja, seminggu sebelum keberangkatan saya ke Jakarta, saya memanfaatkan kecanggihan teknologi lainnya dari transaksi non tunai. Kali ini yang saya coba adalah membeli tiket pesawat dengan memanfaatkan kecanggihan E-Commerce saat ini. Ya, saya mencoba menggunakan aplikasi mobile dari Traveloka.

Hanya dengan duduk manis di kos dan dengan modal internet plus jari saya geser sana geser sini, saya sudah bisa mendapatkan tiket murah. Bahkan tidak perlu capek-capek melakukan survey ke beberapa agen travel yang tidak jauh dari kos hanya untuk membeli selembar tiket. Untuk pembayaran pun, bisa dilakukan dengan non tunai dan setelah itu tinggal kode booking tiket maupun e-tiket masuk ke email maupun nomor telpon.

Semakin mudah saja bukan?

Keliling Jakarta Dengan Modal Kartu Ajaib

My E-Money : Dok. Pri
Setelah beberapa pengalaman di atas, jujur saya masih belum puas dengan kemudahan dan kepraktisan bertransaksi menggunakan non tunai. Tak tanggung-tanggung, sesampainya saya di terminal Pasar Minggu dan tempat kerja doi, hal pertama yang saya tanyakan adalah dimana saya bisa membeli E-Money yang bisa digunakan untuk naik Busway dan Kereta Api.

Untungnya, doi sudah mengantisipasi hal tersebut dan mengatakan bahwa kartu E-Moneynya sudah dibelikan. Ke esokan harinya, saya pun langsung mencoba menggunakan kartu tersebut. Saya pun langsung menjajal Busway dengan tujuan Plaza UOB Thamrin, dimana kebetulan ada kegiatan bolgger ditempat tersebut. Untuk mencapai tempat tersebut, saya naik dari Halte Deprtemen Pertanian menuju Halte Tosari kalau saya nggak salah. Lagi-lagi, segalanya jadi lebih mudah, cepat dan efisien bila dibandingkan 4 tahun lalu saat saya naik Busway untuk pertama kalinya.

Dulu, untuk naik Busway saya harus membeli karcis terlebih dahulu dan pernah dapat antrian yang lumayan panjang saat menuju tempat wisuda doi di kawasan JCC. Begitu pula dengan pulang dari tempat wisuda, saya masih harus antri dulu jika ingin membeli karcis.

Kini setelah 4 tahun berlalu, hanya dengan modal kartu ajaib, saya sudah bisa naik Busway tanpa perlu lama-lama mengantri untuk mendapatkan secarik kertas bernama KARCIS. Cukup dengan menempelkan kartu yang saya punya di mesin pintu masuk yang tersedia, saya sudah bisa naik Busway tanpa harus antri terlebih dahulu. Sungguh canggih kan?

Terakhir sekaligus penutup, tepatnya tanggal 13 Desember 2016, saya mencoba untuk naik kereta api dari Pasar Minggu menuju ke Depok. Dengan modal kartu  yang sama, saya sudah bisa naik kereta api dengan mudah alias tanpa harus antri lagi untuk membeli karcis. Yang bagi orang Jakarta pasti sudah tahu, bagaimana dulu panjangnya antrian di stasiun kereta api saat membeli akan karcis sebelum adanya E-Money?

So, itulah pengalamanku menjajal E-Money. Ada banyak manfaat yang bisa dapatkan sekaligus. Dimana berkat E-Money (Non Tunai) segalanya jadi lebih mudah.

Brigif Jaksel, 15 Desember 2016

12 komentar:

  1. pagi mas, masih dijakarta ya :). perkembangan teknologi membuat kegiatan apapun kita lancar dan aman, tapi tidak harus melupakan cara manual loh mas :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pagi juga. Ya, masih berjuang di Jakarta. Manual tetap tidak bisa ditinggalkan, tapi untuk sektor yang membutuhkan kecepatan dan semacamnya harus mulai memanfaatkan hadirnya teknologi. Apalagi bagi mereka yang aktivitasnya sangat padat.

      Hapus
    2. sampai bulan berapa mas di jakartanya,
      ya mas ada sektor yang harus membutuhkan kecepatan, tapi jangan membuat kita lalai sektor lain yang masih butuh manual. :)

      Hapus
    3. Sebulan di Jakarta, kalau dapat kerja bakalan tambah lama.

      Hapus
    4. aamiin aamiin yaa robbalallamin

      Hapus
    5. Terima kasih untuk doanya bro.

      Hapus
  2. dengan kemajuan teknologi seperti zaman sekarang membuat kita semakin mudah melakukan sesuatu

    BalasHapus
  3. Ada banyak mannfaat dari sistem auto dan kemajuan teknologi.. Salam -Blog Dona salam santun...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar, banyak sekali manfaat yang bisa kita rasakan dengan hadirnya kemajuan teknologi dan inovasi yang tiada henti.

      Hapus
  4. Ada banyak mannfaat dari sistem auto dan kemajuan teknologi.. Salam -Blog Dona salam santun...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju, tinggal bagaimana menjadikan kemajuan teknologi itu membawa dampak positif untuk kemajuan individu bahkan bangsan dan negara. Salah satu contohnya seperti yang dilakukan oleh Bank Indonesia dalam mempermudah dan memperlancar proses transaksi lewat Gerakan Nasional Non Tunai.

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...