Minggu, 04 Desember 2016

Lima Alasan Kenapa Harus Beralih Ke Non Tunai?

Lima Alasan Kenapa Harus Beralih Ke Non Tunai?

Jum’at sore, tepatnya tanggal 11 November 2016, sebuah pesan mampir ke akun WhatsApp saya. Isi pesan tersebut menyampaikan bahwa undangan untuk acara di salah satu kampus di Makassar telah di kirim ke email saya. Sebagai orang yang suka hadir ke berbagai event setahun belakangan ini, saya penasaran dengan undangan tersebut. Tanpa menunggu lama, segera saya tekan tombol power laptop kemudian mengaktifkan WiFi, langsung mengklik browser dan membuka dua email sekaligus, yakni yahoo dan gmail.

Dengan penasaran yang tinggi, saya pun mengecek kedua email itu dengan seksama dan teliti. Pucuk di cinta ulam pun tiba, undangan yang dimaksud ternyata dikirim ke email yahoo, email yang dulu saya daftarkan ketika membuat akun di Kompasiana. Usut punya usut, undangan yang dimaksud mengenai “Smart Money Wave” atau “Gerakan Nasional Non Tunai” dan dikirim oleh admin Pengelola Kompasiana. Senyum saya pun terbuka lebar manakala membaca isi undangan tersebut, saya merupakan salah satu Kompasianer Makassar terpilih dari total 10 yang dibutuhkan oleh Kompasiana Pusat. Tanpa basa-basi dan berpikir dua kali, saya langsung membalas email tersebut dan menyatakan siap hadir dilokasi acara.

Hari yang dinanti pun tiba. Saya sampai di lokasi acara sekitar pukul 09.10 Wita. Segera saya parkir motor kesayangan dan menuju pintu registrasi. Namun sebelum sampai di pintu registrasi, saya melewati beberapa booth yang di isi oleh beberapa bank, seperti BNI, BRI, MANDIRI, BCA, hingga Bank Indonesia pun ada di sana. Ketika sampai di pintu registrasi, peserta yang hadir ternyata sudah banyak dan antrian lumayan panjang bahkan katanya itu sudah berkurang, dimana sebelumnya antrian sampai melewati booth yang ada. Segera saja saya mencari Kompasianer Makassar lainnya dan bergabung kemudian registrasi dan mencari posisi yang pas di dalam gedung, tepatnya auditorium untuk memantau jalannya roadshow “Bank Indonesia Goes To Campus 2016, Smart Money Wave” di kampus Universitas Negeri Makassar.

Kenapa Harus Non Tunai?

Pertanyaan yang sama juga terlintas dalam benak saya setahun yang lalu, tepatnya sebelum mengikuti acara Kompasiana Nangkring Bareng Bank Indonesia di kantor BI cabang Makassar dengan tema yang sama pula, yakni Gerakan Nasional Non Tunai.

Untuk sekadar diketahui, Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) telah dicanangkan oleh Bank Indonesia pada 14 Agustus 2014 dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penggunaan instrumen nontunai, sehingga berangsur-angsur terbentuk suatu komunitas atau masyarakat yang bertransaksi nontunai dengan menggunakan instrumen nontunai (Less Cash Society/LCS) dalam kegiatan ekonominya. Nah, dengan beralih ke non tunai akan ada banyak manfaat yang dapat dirasakan, baik untuk pribadi, kelompok, badan usaha maupun pemerintahan. Diantaranya seperti kepraktisan bertransaksi dan keamanan, efisiensi biaya, pencatatan transaksi secara otomatis, dan meningkatkan sirkulasi uang dalam perekonomian (velocity of money).

Untuk lebih jelasnya, akan saya coba uraikan beberapa manfaat yang dimaksud di atas. So... jangan kemana-mana, sebaiknya simak baik-baik apa yang akan saya uraikan dibawah ini.

Mudah dan Aman

Sadar atau tidak, kita semua sudah mempraktekkan gerakan non tunai ini sejak lama, khususnya yang sudah ada bank dan ATM di daerahnya. Hayoo, siapa di sini yang belum punya ATM, pasti semua sudah pada punya kan? Nah, penggunaan ATM sudah termasuk dalam gerakan non tunai karena terdapat beberapa kemudahan di dalamnya, misalnya bisa digunakan untuk membayar tagihan air dan listrik, membeli pulsa, hingga transfer uang ke sesama maupun antar bank pun bisa dan dijamin cepat.

Namun demikian jangkauannya masih terbatas, karena tidak semua daerah di lalui mesin ATM. Contohnya kampung saya, pulau Tomia, Wakatobi. Tak hanya itu saja, di hari-hari tertentu seperti akhir pekan atau tanggal muda, terkadang kita harus mengantri 10-15 menit ketika akan menarik maupun mentransfer uang lewat mesin ATM. Bagi yang sedang terburu-buru atau sedang dalam keadaan mendesak, mengantri lama di depan mesin ATM bisa mendatangkan masalah baru. Sedangkan di sisi lain, masih rawan terkena tindak kejahatan, salah satunya penipuan.

Nah, disinilah non tunai hadir untuk memberikan kemudahan, praktis dan keamanan dalam bertransaksi. Dalam hal ini Bank Indonesia sebagai regulator mengajak masyarakat untuk mengalihkan pembayarannya dari uang dalam bentuk fisik ke non fisik (uang elektronik). Sehingga masyarakat tidak harus capek-capek berdiri lama-lama mengantri di depan mesin ATM ketika ada sesuatu yang ingin dibayar karena uang tunai yang dibawa kurang. Rasa was-was pun jadi berkurang, karena tidak harus berhadapan dengan para penipu yang sering mengintai ketika sedang menuju atau berada di depan mesin ATM. Dan tentunya untuk transfer uang pun jadi semakin mudah, karena tidak harus ngantri lama-lama di depan mesin ATM atau ke bank dulu. Hanya dengan sentuhan jari, semua masalah beres seketika.

Praktis dan Efisien

Kesibukan yang meningkat dari hari ke hari membuat setiap individu menginginkan segalanya harus lebih cepat, tepat dan fleksibel, termasuk di dalamnya mengenai urusan keuangan. Apalagi bagi mereka yang mobilitasnya tinggi sekali, jangankan untuk menarik atau mentransfer uang lewat bank, mampir ke mesin ATM pun kadang tidak sempat. Disinilah peran non tunai masuk dan menjawab keinginan masyarakat yang memiliki aktivitas demikian. Salah satunya adalah masalah bisa terselesaikan dalam satu genggaman, atau halusnya menggunakan ponsel atau gadget.

Hari gini, siapa yang tidak punya ponsel, smartphone atau gadget? Tentu semua punya kan. Menurut data yang disampaikan oleh salah satu narasumber dari Bank Indonesia di acara “BI Goes To Campus” seminggu yang lalu di Auditorium Amangapa kampus Universitas Negeri Makassar (UNM), di Indonesia jumlah smartphone yang digunakan melampui jumlah penduduk, yakni kurang lebih 314 juta smartphone. Yang artinya, satu orang ada yang memiliki smartphone lebih dari satu, entah itu dua atau tiga.

Melihat peluang ini, Bank Indonesia mengajak berbagai elemen untuk membuat aplikasi yang bisa menjadikan uang elektronik bisa digunakan dalam smartphone. Hasilnya, lahirlah Sakuku dari BCA, Dompetku dari Indosat, T-Cash dari Telkomsel, dan masih banyak lagi, termasuk di dalamnya rekening ponsel. Tujuannya tak lain untuk memudahkan nasabah dalam bertransaksi dimana pun berada dan tentunya tidak perlu lagi lama-lama ngantri di bank maupun depan mesin ATM.

Bagaimana, praktis dan efisien bukan?

Meningkatkan Sirkulasi Uang Dalam Perekonomian

Semakin tingginya transaksi yang dilakukan oleh masyarakat, maka PDB pun akan semakin meningkat. Hadirnya gerakan non tunai dan uang elektroniknya, baik itu dalam bentuk kartu seperti E-Toll, rekening ponsel, dan semacamnya, diharapkan dapat memudahkan dan meningkatkan transaksi yang dilakukan masyarakat, sehingga PDB pun ikut meningkat.

Dengan bonus demografi Indonesia saat ini, peluang untuk meningkatkan perekonomian terbilang sangat besar. Apalagi didukung dengan lahirnya banyak E-Commerce saat ini, yang mana dalam bertransaksi bisa menggunakan non tunai atau uang elektronik.

Contoh, BCA dengan Sakuku-nya. Dengan mendownload aplikasi Sakuku, kemudian membuka rekening atau menjadi membernya, kita akan mendapatkan banyak kemudahan. Mulai dari membayar tagihan listrik, belanja di merchant-merchant, makan di cafe dan restoran tidak perlu takut lagi jika uang yang dibawa tidak cukup, booking tiket pesawat dan hotel pun mudah, dan masih banyak lagi.

Intinya, segala masalah bisa diselesaikan dalam satu genggaman dan secara tidak langsung perekonomian pun berjalan dengan lancar dan tentunya perlahan-lahan mengalami peningkatan. Bayangkan, jika semua pengguna ponsel menggunakan uang elektronik dalam bertransaksi, pasti perekonomian pun akan semakin meningkatkan. Maka jangan heran jika saat ini Cina dengan jumlah penduduknya yang begitu banyak ekonominya meningkat.

Bank Indonesia Menyasar Kaum Muda

Ini yang menarik. Kenapa kaum muda menjadi target potensial? Karena pendekatan ke kaum muda lebih gampang, apalagi yang lahir di era milenial. Generasi yang sejak lahir sudah mengenal teknologi, seperti smartphone maupun gadget. Yah, meski semuanya tidak menjalankan gerakan non tunai juga dengan alasan tidak mau termakan syarat dan ketentuan yang berlaku, yang tentunya diterapkan masing-masing bank. Contohnya dalam penggunaan kartu kredit, karena bagi yang doyan belanja akan menjadi malapetaka nantinya.

Namun patut di apresiasi apa yang dilakukan oleh pemerintah, dalam hal ini diwakili oleh Bank Indonesia. Mengapa? Karena dengan digagasnya gerakan non tunai, secara tidak langsung sebagai solusi sekaligus mengajak kaum muda untuk belajar berhemat.

Uang Elektronik Bukan Untuk Orang Kota Saja

Apa yang dilakukan oleh Bank Indonesia lewat “Gerakan Nasional Non Tunai”, ternyata bukan untuk orang kota saja. Gerakan ini juga berlaku untuk masyarakat di luar kota, seperti pesisir, kampung-kampung, dan daerah pelosok sana. Hal ini terlihat dari video animasi yang dibuat oleh Bank Indonesia dalam akun youtube-nya. Dimana video selengkapnya bisa dilihat dibawah ini.

Blogging dan Net Citizen Journalist Workshop

Selain pengenalan kembali tentang Gerakan Nasional Non Tunai, juga ada workshop tentang blogging (mas Isjet, Kompasiana) dan vlog/Citizen Journalist (Net TV). Dari workshop tersebut, ada beberapa hal yang sempat saya tangkap dan catat.

Pertama tentang Blogging atau menulis di blog. Kata mas Isjet, dengan konten yang kita tulis di blog, kita bisa terkenal. Namun cara terkenal pun ada dua macam, mau dengan cara positif apa negatif. Dan saran dari mas Isjet (@Iskandarjet) lebih baik terkenal dengan cara positif, yakni manfaatkan paket datamu untuk berbuat hal yang positif, misalnya seperti menulis.
 
Setelah itu, mulailah menulis dengan gaya bercerita, gayamu sendiri, dan buatlah konten lain dari yang lain. Jangan lupa juga untuk memperhatikan beberapa hal, seperti judul yang unik, menarik dan provokatif agar pembaca tertarik untuk membaca apa yang kamu tulis. Buat suasana yang bisa membuat pembaca hanyut dalam cerita yang kamu buat, dalam hal ini faktor emosi juga tetap dipertimbangkan. Rumus 5W+1H jangan pernah diabaikan. Sedangkan urusan ide, bisa didapatkan dari mana saja selama kemauan menulis itu ada.

Kedua, tentang citizen journalist. Kata pematerinya, siapapun bisa jadi citizen journalism. Intinya harus peka dengan lingkungan sekitar dimana pun berada. Untuk menjadi seorang citizen journalist, ada beberapa tips yang bisa dicoba : amati, lihat dan angkat ke dalam video. Kalau belum punya kamera profesional, menggunakan kamera smartphone boleh dan tentunya video harus menarik, info penting nda atau hal baru.

Oh iya, untuk menjadi citizen jurnalist, ada tiga hal yang musti dipegang teguh, di antaranya harus jujur, tulis yang ditahu, dan jangan mengarang-mengarang cerita. Bagaimana, tertarik untuk menjadi citizen juornalist?

Terakhir, sebelum acara “Bank Indonesia Goes To Campus Smart Money Wave” berakhir, peserta seminar khususnya wanita dibuat histeris oleh Kemal Pahlevi – Stand Up Comedian dan penyanyi pendatang baru, yakni Rezky Febrian.

Makassar, 22 November 2016

2 komentar:

  1. Non tunai ... kayaknya boleh juga tu biar praktis ..:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayuk di coba, benar-benar praktis dan memudahkan kok.

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...