Selasa, 21 Juni 2016

Terima Kasih Bu, Pak

Terima Kasih Bu, Pak
Marhaban Ya Ramadan
Detik tidak pernah melangkah mundur
Tapi kertas putih itu selalu ada
Waktu tidak pernah berjalan mundur
Dan hari tidak pernah terulang
Tetapi pagi selalu menawarkan cerita yang baru
Untuk jiwa-jiwa yang tak pernah berhenti berharap

*    *    *
 
Ketika harapan itu disertai kesabaran dan keyakinan serta di iringi doa pasti kelak akan membuahkan hasil. Dan itulah yang saya alami dibulan ramadan kali ini, bulan yang memang penuh dengan berkah dan barakah. 

Apakah yang sedang terjadi?

Jawabannya tak lain adalah saya akhirnya bisa menjalankan ibadah puasa bersama hampir seluruh keluarga. Dan yang paling membuat saya senang adalah dibulan ramadan kali ini bisa sahur dan buka puasa bareng bapak dan ibu. Dimana setelah kurang lebih 5 tahun lamanya tidak pernah sahur dan buka puasa bareng mereka. *semoga tidak dicap anak durhaka*

Semakin senang lagi, karena bukan hanya ibu dan bapak saja yang ikut sahur bareng sama saya. Tetapi ada juga om (biasa saya panggil bapa tua), tante (mama tua) dan tak ketinggalan juga salah satu dari tiga ponakan. Yang mana mereka semua dengan rela datang dari jauh, yakni Kampung Tulehu, Ambon.

Bagi saya, kehadiran mereka sungguh berharga dan membuat saya terharu, khususnya dengan hadirnya ibu dan bapak. Sampai-sampai saya diam-diam menitikkan air mata dibelakang mereka saking senangnya. Hhhmmm... pejantan tangguh ternyata bisa mewek juga yah kaya cewe yang sedang dilanda galau.

Dengan kehadiran mereka, tiada kata yang lebih indah untuk di ucapkan selain mengucapkan terima kasih dan juga memohon maaf karena belum juga mempersembahkan toga alias gelar Sarjana Teknik Arsitektur. Ah... jadi malu.

Kini, saya tidak sendiri lagi untuk menyantap menu sahur. Sejak kehadiran mereka, tidak ada lagi khayalan dan tetesan air mata setiap kali menu sederhana itu masuk kekerongkongan dikala sahur. Sepiring nasi, sesendok sayur bening atau sesekali di temani sayur sop, sepotong ikan, dan sepotong tahu atau tempe yang dulu agak hambar saat masuk kerongkongan kembali menjadi enak, kurang lebih sama seperti yang orang lain rasakan.

Ruang makan yang sebelumnya sepi kini mendadak berubah menjadi ramai dan penuh warna. Suasana kehangatan keluarga yang selama ini saya rindukan, akhirnya bisa kembali saya rasakan. Meski semua itu saya rasakan diperantauan, kehangatan di dalamnya tidak beda jauh dengan suasana dikampung. Bahkan kenangan-kenangan masa kecil pun kembali terulang di tempat sederhana ini (rumah kontrakan).

Suara panggilan ibu yang suka menyuruh saya makan banyak kembali terulang. Begitu pula dengan ketegasan bapak yang sering meminta kami semua anak-anaknya untuk makan bareng. Dan jika salah satu dari 3 anaknya malas-malasan, maka siap-siap untuk menerima konsekuensi. Dimana biasanya nada panggilannya akan sedikit meninggi dari sebelumnya. Dan hal itu kembali saya saksikan saat sahur beberapa hari lalu.

Tak hanya bapak, terkadang ibu pun sesekali ikut marah jika salah satu dari kami susah dipanggil untuk sahur bareng. Namun saya yakin, semua itu dilakukan agar kami anak-anaknya menjadi anak yang disiplin dan patuh kepada kedua orangtua.

Jika kami anak-anaknya sudah semua berada ditempat makan, sebelum berdoa dan makan, biasa bapak mengingat agar mengambil makanan sesuai dengan kemampuan. Bukan mengambil makanan karena mengikuti ego, dalam hal ini mengambil banyak, yang ujung-ujungnya malah tidak habis di makan.

Perintahnya pun selalu tegas, ambillah makanan sedikit-sedikit dulu, nanti tambah lagi kalau merasa belum kenyang. Kalau bapak sudah berkata seperti itu, tidak ada yang berani melanggar dan coba-coba untuk membantah. Karena jika berani coba-coba, maka konsekuensinya diceramahi sampai kuping panas.
 
Beda lagi dengan ibu saya yang selalu menginginkan anaknya makan banyak. Alasannya pun cukup simple, yakni agar kami anak-anaknya cepat gemuk. Tapi entah kenapa, khusus saya pribadi, saya tetap saja kurus meski sudah makan banyak. Hal ini tidak berimbang dengan tinggi badan saya. Dan akibat hal ini pula, keluarga besar dikampung sana sering memanggil saya tiang listrik. Padahal saya nggak tinggi-tinggi amat, hampir 180 cm doank. Hihihi...

Dari semua yang telah mereka berikan dan lakukan hingga saat ini kepada kami anak-anaknya, sekali lagi saya ucapkan “Terima Kasih Bu, Pak”.

Makassar, 21 Juni 2016

4 komentar:

  1. Yaah semua Ibu seneng kalau anaknya doyan makan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe... Senangnya pake bangad ya.

      Hapus
  2. terimakasih kembali nak...
    ibu akan tetap menyayangimu nak walaupun cara dan pola makanmu menjengkelkan, nah...tuh kalau anakku sayang makannya rewog (baca: rakus) bapak dan ibu tentu gembira maratan langit...dong ah

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...