Kamis, 02 Juni 2016

5 Makna Luhur di Balik Pancasila

5 Makna Luhur di Balik Pancasila
Selamat Hari Pancasila (Sumber : www.sultrakini)
Bagi saya, Indonesia itu negeri yang unik. Mengapa? Karena di dalamnya terdapat beragam budaya, agama, suku, bahasa, dan juga pulau. Dimana kesemuanya tersebar dari Sabang sampai Merauke. Tak cuma itu saja, penduduknya pun terkenal akan keramahannya, sopan santunnya, suka bergotong-royong, dan saling menghormati meski tidak saling mengenal.

Sayangnya, keunikan itu perlahan-lahan terkikis di era modern ini tanpa di sadari, khususnya di kalangan generasi muda. Yah, meski tidak semuanya.

Tapi setuju atau tidak, itulah fakta yang terjadi saat ini dan kita tidak bisa memungkirinya, karena memang seperti itulah kenyataannya. Salah satu contohnya terjadi beberapa bulan lalu dan kejadian itu sempat membuat heboh dunia hiburan, dunia nyata serta dunia maya yang tidak bertuan ini. Dan saya yakin kejadian itu masih tersimpan di memory masing-masing, bahkan mungkin susah untuk melupakannya.

Ya, apalagi kalau bukan kasus plesetan terhadap salah satu sila dalam “PANCASILA”. Yang mana berujung pada kekesalan para netizen se-Indonesia. Sampai-sampai mereka yang selama ini hanya berdiam diri pun ikut angkat bicara saking geramnya.

Namun pada kesempatan kali ini, bukan itu yang akan saya bahas lebih dalam. Toh, kejadiannya sudah berlalu. Cukup hikmahnya saja yang kita ambil agar ke depannya hal-hal fatal seperti itu tidak terulang lagi. Kenapa saya bilang fatal? Sekali lagi, karena yang di plesetkan itu adalah salah satu sila dalam “PANCASILA”. Sebuah ideologi yang membuat bangsa kita sampai hari ini tetap bersatu, aman, tenteram, dan damai. Ideologi yang dengan susah payah di diskusikan dan di musyawarahkan oleh para pahlawan dan juga pendahulu kita, dengan tujuan agar bangsa ini tidak bercerai berai.

Nah, pembahasan saya kali ini akan saya fokuskan pada ideologi bangsa kita, yakni “PANCASILA”.

Berbicara tentang PANCASILA, hari rabu kemarin ada yang menarik dan mungkin membuat kita semua tertarik untuk membicarakannya. Ya, itulah “Hari Lahir Pancasila” yang diperingati setiap tanggal 1 Juni setiap tahunnya.

Dari berbagai media online yang saya baca (karena sudah jarang nonton TV), seluruh penjuru negeri membicarakan tentang hari lahirnya PANCASILA. Tak terkecuali para aparatur negara yang memperingatinya dengan melakukan upacara, contohnya seperti yang dilakukan TNI.

Khusus di wilayah Sulawesi Selatan, tepatnya Kodam VII/Wirabuana, hari lahir PANCASILA tak cuma diperingati dengan melakukan upacara bendera. Tetapi ada hal lain yang bagi saya lebih menarik dan terbilang unik.

Apakah itu? Jawabannya adalah memberikan materi tentang Penanaman Kembali Nila-Nilai Luhur Pancasila kepada generasi muda, yang mana dilakukan di sekolah-sekolah yang berada di wilayah Kodam VII/Wirabuana. Kegiatan ini dilakukan secara serentak dengan pengajarnya adalah para Dandim, Danramil dan Perwira, yang tentunya sudah dipilih untuk mengajarkan tentang nilai-nilai Pancasila.

Lalu bagaimana dengan kalian (pembaca)? Apa yang sudah kalian lakukan? Jangan-jangan cuma jadi penonton saja, atau lebih ektrim lagi berpikir masa bodoh saja. Masa kalah dengan bapak-bapak TNI yang kebanyakan usianya sudah tua sedangkan kalian adalah generasi penerus, katanya.

Sudah saatnya sebagai generasi muda ikut bagian dalam menanamkan dan mengajarkan nilai-nilai PANCASILA kepada mereka yang belum paham. Banyak hal yang bisa kalian lakukan agar nilai-nilai PANCASILA itu tetap ada dan tidak jadi hafalan saja.

Untuk itu, mari manfaatkan momentum Hari Lahir Pancasila ini memaknai kemudian mempraktekkan setiap butir-butir yang terkandung di dalamnya. Berikut saya coba jabarkan secara sederhana dari setiap sila yang ada dalam Pancasila.

Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Pasti semua sepakat bahwa kita menyembah Tuhan yang sama meski dilahirkan dari rahim yang memiliki agama berbeda. Untuk itu, sebagai insan yang taat pada agama yang di anut masing-masing, tidak ada salahnya untuk saling menghormati dan hidup berdampingan dengan rukun dalam menjalankan ibadah sesuai agama dan keyakinan masing-masing. Karena saya yakin, semua pasti lebih suka kedamaian daripada kekacauan.

Kedua, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Sebagai sesama manusia, tidak elok kita berbuat semena-mena kepada sesama. Apalagi sampai merampas hak-hak orang lain.

Ketiga, Persatuan Indonesia. Dengan bersatu, negeri ini akan tetap dalam keadaan damai, aman, dan tenteram. Pesan saya, jangan lihat perbedaanya, tapi lihat persamaannya jika ingin bersatu.

Ke empat, Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan. Setiap manusia pasti memiliki jiwa kepemimpinan di dalam dirinya. Untuk menjadi seorang pemimpin yang baik, kita harus bijaksana dalam memutuskan segalanya dan orang yang bijaksana pasti suka mendengarkan pendapat orang lain. Artinya segala keputusan yang di ambil di musyawarahkan terlebih dahulu. Lebih-lebih lagi itu untuk kemaslahatan umat.

Kelima, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Untuk berbuat adil tidak harus menjadi pemimpin terlebih dahulu, misalnya seperti presiden, bupati, walikota dan sebagainya. Berbuat adil tetap bisa kita lakukan meski sebagai rakyat biasa. Karena berbuat baik itu tidak memandang status. Banyak cara untuk berbuat adil, seperti ikut bergotong-royong dan semacamnya.

So, apalagi yang kamu tunggu. Mari sambut momentum Hari Lahir Pancasila ini untuk Indonesia lebih baik.

Makassar, 02 Juni 2016

Catatan :
Disadur dari akun saya yang lain (www.belanegara.or.id) dan di ikutkan dalam lomba yang diadakan oleh Kodam VII/Wirabuana. Selengkapnya bisa teman-teman baca DISINI.

28 komentar:

  1. ada plesetan Pancasila? aku kok baru tahu ya, hihihi jarang update berita nih belakangan ini, kalau mau bercanda sebaiknya dipikirkan dulu ya, jangan sampai menyinggung orang lain apalagi sampai menyinggung negara sendiri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ada, tuh yang bilang garuda itu bebek...

      Saya juga udah jarang nonton tv, cuma update berita lewat media sosial aja. Kebetulan hampir semua situs berita di Indonesia saya ikuti.

      Setujua bangad, bercanda itu nggak dilarang. Tapi harus dipikirkan dulu dengan baik bukan langsung nyerocos gitu aja, yang pada akhirnya membuat orang lain tersinggung.

      Hapus
  2. Jadi ingat dulu waktu sekolah harus hafal butir2 pancasila, kemudian butir2nya di rubah menjadi banyak terus ga hapal lagi.

    Saya juga ga suka nonton acara2 yang sejenis itu, karena candaannya sering keterlaluan kalau menurut saya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar bangad, tontonan jaman sekarang kebanyakan bercandaan yang kurang bermutu dan kurang bermutu, bahkan tak jarang berujung pada penghinaan.

      Hapus
  3. Salam PANCASILA

    Semoga damai senantiasa
    Untuk Indonesia tercinta

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiiin...
      Saya pun berharap demikian.

      Hapus
  4. Pancasila tidak hanya untuk dilafalkan setiap upacara, tetapi juga dihayati dalma hati

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali. Nggak cuma dihafalkan, tapi dipraktekkan juga plus dihayati.

      Hapus
  5. pancasila emang 5 point yang harus di hafalkan dan di taati. karena itu merupakan ideologi negara indonesia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, ideologi yang harus di taati dan laksanakan.

      Hapus
  6. Semoga duta pancasila zaskia gotik juga tau makna ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga saja demikian. Kalau cuma dihapal mah, banyak juga yang bisa hafal.

      Hapus
  7. Ingat Pancasila, langsung teringat pula dengan Sazkia Gotik, ihiihih....tapi, Pancasila jadi populer lagi gegara dia...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe... ternyata masih ada juga yang ingat sama Duta Pancasila yang dipilih karena kontroversinya.

      Hapus
  8. Tanamkan jiwa Pancasila dalam diri kita, meskipun kita bukan Duta Pancasila

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju. Meski bukan Duta Pancasila, kita harus punya jiwa Pancasila yang kuat dalam diri biar negeri ini aman dan tenteram selalu.

      Hapus
  9. Aku hapal banget sama lima sila ini kak. Pengen daftar jadi duta pancasila kok keduluan ama gotik ya :'(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha...
      Kayanya perlu di audisi ulang deh Duta Pancasila-nya biar nggak menimbulkan kegaduhan dan biar masyarakat nggak kecewa.

      Hapus
  10. Ngomong-ngomong soal Pancasila saya jadi inget jaman masih kuliah duku juga dapat mata kuliah dasar Pancasila. Waktu itu masih ada konten P4 atau Pedoman Penghayatan dan Pengamalan pancasila berisi 36 butir dari sila pertama sampai sila ke-5. Dulu hafal lengkap, tanpa kurang atau lebih kata. Sekarang? Menguap semuanya hehehe. Yang bikin semangat mengikuti mata kuliah ini dosennya asik nerangin dan ganteng pula. Kasih capslock dan bold kata gantengnya hehehhe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salut kalau ampe hafal 36 butir Pedoman Pancasila-nya. Udah diluar kepala hafalnya, makanya menguap dah. Hehehe...

      Dosen gantengnya berhasil juga ya menarik minat mahasiswinya untuk menghafal ma perhatiin apa yang dia ajarkan dengan baik.

      Hapus
  11. Saya masih ingat neh mas, ketika Guru menyuruh untuk mempelajari butir pancasila. Dan itu tuh tidak mudah.

    Apalagi saya hapal sama ilma sila dan saat ini mengajarkan anak tentang Pancasila. Tapi ya, kenapa tidak terpilih jadi duta pancasila ya mas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayanya harus jadi artis dulu atau nggak cari masalah dulu kali ya biar bisa jadi Duta Pancasila.

      Hapus
  12. Saya masih ingat neh mas, ketika Guru menyuruh untuk mempelajari butir pancasila. Dan itu tuh tidak mudah.

    Apalagi saya hapal sama ilma sila dan saat ini mengajarkan anak tentang Pancasila. Tapi ya, kenapa tidak terpilih jadi duta pancasila ya mas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya dulu waktu kelas 6 sampai di hukum gara-gara disuruh hafal seluruh butir-butir Pancasila, malah bermain semua satu kelas.

      Hukumannya pun lumayan buat malu, disuruh berdiri di atas kursi sambil menghafal butir-butir Pancasila dengan suara keras-keras. Jadinya tiap yang lewat menoleh deh ke arah kelas 6. hehehe...

      Hapus
  13. Dulu jamannya omku malah fisuruh ngapalin p4

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau dulu, menghafal bisa dibilang sebuah tren turun temurun. Tapi bagus juga, banyak manfaatnya. Kalau sekarang terlalu bergantung pada internet.

      Hapus
  14. Tren menghafalsekarang ini kurang banget.. jadi apa-apa tanya mbah google dan contohnya saya sendiri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya bukan jamannya lagi menghafal. Yang penting dipahami isi dari apa yang dibaca, tapi kalau mau dihafal juga nggak masalah.

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...