Rabu, 16 Maret 2016

Karena Damai Bukan Untuk Dunia Nyata Saja, Tapi Juga di Dunia Maya


Damai di  dunia nyata dan dunia maya
Damai Bukan Dunia Nyata Saja, Tapi Juga Dunia Maya
Dulu, sebelum mengenal yang namanya dunia maya, aku selalu berpikir bahwa dunia nyata adalah satu-satunya dunia yang paling kejam. Namun ternyata aku salah, masih ada dunia lain yang lebih kejam dari dunia nyata dan itu di namakan dunia maya. Saking kejamnya, orang-orang menyebutnya dunia yang tak bertuan. Artinya, orang bisa melakukan apa saja, ngomong apa saja, dan semacamnya tanpa ada yang melarang. Toh, tidak ada yang tahu di mana rumahnya berada atau dengan kata lain di mana yang bersangkutan tinggal.
 
Selain dijuluki sebagai dunia tak bertuan, dunia yang satu ini juga bagaikan bermuka dua. Artinya di satu sisi ada baiknya atau memberikan banyak manfaat, tapi di sisi lain juga bisa merugikan atau dengan kata lain ada dampak negatifnya. Dan itu adalah fakta yang tidak bisa kita bantah, karena memang begitu adanya.

Dari kedua sisi di atas, tentu yang harus kita waspadai adalah sisi yang bertolak belakang dengan sisi baik. Mengapa? Karena sisi yang satu ini sangat berbahaya dan banyak yang menggunakan untuk tujuan yang menyeleweng. Contohnya, seperti melakukan penipuan, menjelek-jelekkan orang lain atau kelompok tertentu. Bahkan adapula yang menggunakannya untuk tujuan yang lebih besar lagi, yakni sebagai wadah untuk memprovokasi atau menghasut.

Parahnya lagi, dalam beberapa tahun belakangan ini, khususnya yang terjadi di Indonesia adalah bertujuan untuk memecah belah persatuan dan kesatuan seluruh elemen bangsa. Tentu hal itu di lakukan karena melihat negeri kita ini begitu damai dan aman, meski di dalamnya terdapat beragam suku, agama, ras, dan golongan.

Aksi provokasi seperti hampir setiap harinya bisa kita temukan berseliweran di akun-akun media sosial orang-orang yang tidak bertanggung jawab, baik itu di twitter, facebook, blog dan lainnya. Biasanya yang disebar berupa berita yang berisi kebencian, fanatik yang berlebihan, menyalahkan agama tertentu, hasutan-hasutan, menebar isu yang tidak benar, dan berita-berita lainnya yang tingkat sensitifitasnya tinggi. Semua itu dilakukan dengan sengaja, sistematis, dan terus-menerus.

Cara ini terbilang sukses, karena sang pelaku tidak perlu capek-capek mendoktrin sana sini. Hanya dengan modal berita yang bermuatan kebencian, hasutan, dan sensitif yang disebar lewat dunia maya, ia dapat menjangkau banyak kalangan dalam waktu yang cepat. Bahkan berita yang disebar bisa cepat masuk meringsek ke dalam pikiran dan membangkitkan amarah, serta mampu menerobos ruang-ruang yang selama ini privat bagi si pembaca.

Ketika yang membaca berita tersebut sudah terbawa suasana, maka selanjutnya yang terjadi tak lain adalah menyebarkannya. Yang penting baginya adalah apa yang dibaca sesuai dengan yang ada dalam pikirannya selama ini. Urusan benar atau salah nanti belakangan, yang utama adalah harus mendukung meski nantinya mengorbankan orang lain.

Sebut saja salah satu contohnya seperti yang belum lama ini terjadi di negeri kita tercinta ini. Ya, apalagi kalau bukan aksi bom bunuh di depan Starbuck jalan Thamrin, Jakarta Pusat. Yang mana setelah di telusuri ternyata ada hubungannya dengan aksi terorisme.

Apa Hubungan Terorisme Dengan Dunia Maya?

Teroris Aktif di Dunia Maya
Teroris Aktif Menggunakan Dunia Maya Untuk Propaganda 
Via www.beritabal.com
Seperti yang telah aku katakan di awal tulisan ini bahwa ada dunia lain yang lebih kejam dari dunia nyata. Dunia itu tak lain adalah dunia maya. Dengan adanya dunia maya seperti sekarang ini, kita dapat dengan mudah mengakses informasi kapan pun dan dimana pun kita mau, tentunya selama terhubung dengan jaringan internet.

Nah, terkadang tanpa sadar kita langsung menelan mentah-mentah informasi yang didapatkan lewat dunia maya. Padahal tak selamanya informasi itu benar adanya atau dengan kata lain ada yang palsu alias hoax. Namun informasi tersebut dibuat seolah-olah benar adanya. Lebih-lebih lagi yang menemukan informasi tersebut adalah mereka yang labil pengetahuannya.

Celah inilah yang di manfaatkan oleh terorisme untuk menyebarkan paham-paham radikalisme. Tak Cuma menyasar mereka yang labil pengetahuan, tapi juga mereka yang ekonominya susah, putus sekolah, imannya sedikit, dan semacamnya. Di sisi lain tanpa disadari para terorisme berpikir selangkah lebih maju dari kita semua, yakni dengan merubah strategi mereka. Salah satunya adalah memanfaatkan kemajuan teknologi seperti sekarang ini, seperti internet yang notabene telah merasuki dan mengambil alih sebagian dari hidup kita.

Dengan adanya internet, para pelaku terorisme tidak perlu lagi capek-capek untuk mendoktrin anggota baru. Cukup dengan membagikan iming-iming hadiah atau uang, janji masuk surga, mati sahid, dan semacamnya lewat internet, mereka sudah bisa mendapatkan anggota baru. Atau dengan cara memberikan sokongan dana pada situs-situs yang menurut mereka bisa dimanfaatkan, dimana sang pemilik situs tidak menyadari kalau para pelaku terorisme punya rencana jangka panjang.

Belum lagi ditambah dengan beragam aksi teror yang mengatasnamakan agama seolah membelah opini publik. Ada yang terang-terangan menghujat tapi ada juga yang diam-diam mendukung. Tentu karena alasan agama dan ketidakadilan aparat dalam menangani aksi-aksi teror di Indonesia sehingga kemudian ada juga yang diam-diam menaruh simpati pada aksi-aksi teror mengatasnamakan agama itu.

Akibatnya, banyak juga orang yang enggan membahas terorisme, risih karena aksi-aksi itu dianggap bagian dari membela agama, membela aqidah. Mengeluarkan pernyataan yang bernada menghujat bisa dianggap melawan agama sementara bila mengeluarkan pernyataan yang bernada simpati bisa dianggap melawan pemerintah. Serba salah, sehingga lebih baik diam.

Terakhir, alangkah bodohnya kita sampai tergiur untuk ikut meruntuhkan kedamaian yang sudah saban hari kita sesap ini. Alangkah ruginya kalau kita sampai ikut bersama mereka merusak kenyamanan hidup dalam perbedaan ini. Tak ada manusia normal yang betah hidup dalam kerusuhan, tak ada manusia normal yang tak senang kedamaian.

Khusus buat para pengguna dunia maya, ada sedikit pesan buat kalian. “Damai itu bisa dimana saja tanpa memandang tempat bahkan dimensi. Kenapa? Karena damai bukan untuk dunia nyata saja, tapi juga di dunia maya”.

Makassar, 15 Februari 2016

Catatan :
Di sadur dari blog saya yang ada di PORTAL DAMAI. Bagi yang mau berkunjung, klik saja url ini : http://arizona.damai.id

16 komentar:

  1. Walaupun dunia nyata dan dunia maya itu berbeda, etika yang berlaku tetap sama, dan lagi sikap kita di dunia maya adalah cerminan dari pribadi kita di dunia nyata. nice share, Mas, salam kenal :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju sekali, apa yang kita lakukan di dunia maya tanpa disadari menunjukkan bagaimana diri kita yang sebenarnya.

      Terima kasih untuk apresiasinya dan salam kenal juga.

      Hapus
  2. mereka yang demikian terhadap perdamaian memang begitu kang, rame lagi jika musim pemilukada...hadeuh kesempatan banget kayanya buat nggak damai...huh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selalu ada musimnya ya kang, plus ada kesempatan juga untuk melakukan serangan balik bagi para pelaku pemilu maupun pemilukada.

      Hapus
  3. Dunia maya lebih banyak bergolak daripada dunia nyata.
    Kadang pemicunya para anonim yg ternyata berpengaruh kuat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar, aku pun baru menyadarinya setelah mulai aktif di dunia menulis. Ternyata gejolak dunia maya begitu kuat, bahkan mampu mengalahkan dunia nyata.

      Hapus
  4. kita perlu memilah memang informasi yang masuk di dunia maya terutama medsos, kalo gampang terprovokasi bahaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harusnya begiu. Sayang, kenyataan membuktikan bahwa masih banyak yang gampang terprovokasi dan termakan isu hoax.

      Hapus
  5. Damai memang menjadi isu yang sedang hangat belakangan ini. Berbagai perseteruan di dunia nyata kadang berlanjut kepada dunia maya. Semua itu baik nyata dan maya tetap ada Undang undang yang mengaturnya. Apalagi sudah ada pasang pasang ITE yang siap menghadang pelaku daring (online) yang tidak bertanggung jawab

    BalasHapus
    Balasan
    1. Undang-undang ITE-nya masih ngambang meski udah ada yang pernah terjerat. Malah seperti menjadi sebuah dilema tersendiri bagi pelaku dunia, seperti blogger contohnya.

      Hapus
  6. Nah ini yang dikhawatirkan, penggunaan internet untuk mendoktrin radikalisme dan menebar kebencian ya mas.
    Ngerii..
    Palagi menjelang pilkada, selalu saja ada media yang lebay memberitakan sesuatu melebihi potsinya..kadang malah muncul media abak abal yang kepampang di fb, trus menyasar orang awam hingga jadi viral, huhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah... menjelang pilkada itu yang paling di waspadai, karena rawan sekali isu SARA, provokasi, dan propaganda lainnya digunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

      Hapus
  7. Maka dari itu sekarang ini kita wajib santun berinteraksi dalam dunia maya, jangan sampai nama kita menajdi buruk karena tingkah yang tidak kita sengaja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju, seharusnya di dunia maya pun kita harus bisa bersikap sopan dan santun.

      Hapus
  8. dunia maya & nyata sama-sama harus damai ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe... Iya. Apalagi keduanya sudah gak bisa di pisahkan lagi dalam kehidupan dunia modern ini.

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...