Rabu, 20 Januari 2016

Ini Alasannya, Kenapa Tarif Arsitek Itu Mahal?

www.shutterstock.com
Semenjak kuliah di jurusan Arsitektur, banyak orang awam bertanya-tanya, khususnya dikampung saya tentang tarif seorang Arsitek. Tak jarang pula yang meragukan masa depan seseorang yang kuliah di jurusan Arsitektur. Bahkan ada yang sampai meledek, ngapain kuliah tinggi-tinggi di jurusan Arsitektur kalau ujung-ujungnya dipanggil tukang gambar atau cuma jadi tukang gambar. Belum lagi ditambah dengan bahasa-bahasa negatif lainnya yang kadang membuat telinga menjadi panas. Dimana rasanya kurang lebih seperti saat sedang digerayangi seekor nyamuk.

Ketika mendengar suara-suara demikian, aku hanya bisa tersenyum dan memakluminya. Namanya juga orang kampung, maunya yang pasti-pasti saja masa depannya, seperti jadi guru, bidan, perawat, dan semacamnya. Bahkan tak jarang sampai mendewakan profesi tersebut dan menganggap profesi lain tidak begitu penting.
 
Kini, profesi yang mereka anggap sebagai tukang gambar tersebut mulai menjanjikan dan mulai sedikit dihargai. Namun demikian, penghargaan tersebut tidak sejalan dengan prakteknya dilapangan. Maksudnya begini, "Sadar atau tidak, diluar sana lebih banyak yang menganggap Jasa Arsitek itu mahal."
 
Padahal saat menggunakan jasa lain di luar jasa arsitek, tak jarang yang menganggapnya adalah sesuatu yang wajar. Sebut saja contohnya saat menggunakan jasa seorang Desainer. Ketika menggunakan jasa desainer, tak jarang yang berkata "Wajar mahal, ini kan fashion dan akan selalu dilihat banyak orang".

Pertanyaannya, emang bangunan yang didesain dan direncanakan oleh seorang Arsitek tidak dilihat banyak orang? Anehnya lagi, masih banyak yang tidak sadar kalau hasil karya seorang Arsitek bisa membuat nilai sebuah bangunan jadi tinggi. Semakin aneh lagi saat mendengar suara-suara sumbang yang sering berkata "Ah... cuma gambar kotak-kota juga, masa harganya mahal. Saya juga bisa kali gambar seperti itu!".
 
Maaf bagi yang merasa disinggung, karena ini fakta dan aku sering dengar ucapan demikian!

Hello...!!!

Sebelum mengucapkan suara-suara sumbang seperti diatas, ada baiknya pahami dulu bahwa "Menggambar dan Mendesain Itu Beda!".

Kenapa aku katakan demikian? Karena semua orang bisa menggambar, tapi tidak semua orang bisa mendesain. Bahkan anak kecil pun bisa menggambar, tapi ketika disuruh mendesain maka pasti akan bengong dengan sendirinya.
 
Sedikit Gambaran Saja
Sekadar untuk gambaran buat anda, ketika seorang Arsitek mendesain sebuah projek yang diberikan oleh seorang owner, banyak hal ia pikirkan. Dalam sebuah desain, seorang Arsitek memikirkan banyak hal, seperti sirkulasi, penghawaan alami dan buatan, yang mana akan bermanfaat buat kesehatan. Sisi ekonomi pun dipikirkan agar sesuai dengan kemampuan sang owner. Tak hanya itu saja, sisi legal pun dipikirkan atau dengan kata mengikuti peraturan dimana lokasi itu berada. Belum lagi ditambah dengan masalah keindahan, kenyamanan, dan estetika bangunan itu sendiri. Bahkan sampai masuk ke masalah agama, bagi yang menginginkan bangunannya sesuai dengan ajaran agamanya masing-masing.

Itu belum seberapa loh! Belum lagi dihitung dengan waktu yang dihabiskan untuk menghasilkan sebuah desain bangunan yang sesuai dengan apa yang di impikan seorang owner. Sebuah desain yang sesuai dengan kondisi lahan yang ada, baik luas maupun kontur tanahnya dan segala yang berhubungan dengan lahan tersebut.

Semakin menarik lagi, karena seorang Arsitek memerlukan waktu untuk berpikir sampai agar bisa menghasilkan sebuah ide yang bisa dituangkan ke dalam desainnya nanti. Dan kita semua tahu, yang namanya "IDEA" pasti mahal kan. Saya yakin semua setuju akan hal itu.

Setelah ide muncul, maka digabungkanlah dengan ilmu yang didapatkan selama menempuh pendidikan di jurusan Arsitektur. Dan bicara soal pendidikan pasti banyak waktu dan biaya yang dikorbankan. Semua orang pun tahu itu, meski kadang masih ada yang pura-pura tidak tahu!
 
Makassar, 20 Januari 2016

26 komentar:

  1. mantaaab'semoga kelak ga ketemu klien yang ga kredibel ya mas arif

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga saja dan trauma itu gak terulang lagi.

      Hapus
  2. menulis aja butuh berfikir apalagi menggambar ya karena kalo ga salah harus tepat ukuran2nya..kaka saya teknik sipil suka liat dia gambar2 desain saya mah liatnya ribet gitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selain ukurannya harus tepat, masih ada hal-hal lainnya yan g harus dipertimbangkan lagi. Misalnya kekuatan atau bangunan yang di desain bisa bertahan berapa tahun, dan lain-lain.

      Hapus
  3. iya bener, temanku kerjaannya jadi arsitek sebulan gajinya berasa setahun...mahal banget ya ternyata...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya gak terlalu mahal sih, karena tarif resmi arsitek itu sudah di atur sama pemerintah, baik yang untuk proyek pemerintah, swasta, maupun untuk individu.

      Hapus
  4. Persoalan mental ini, maunya murah kalau bisa gratis. Ujung-ujungnya begini, tidak menghargai profesi orang lain.
    Saya juga pengin suatu hari kalau mau bangun rumah desainnya pakai jasa arsitek karena saya nggak mudeng tuh gimana bikin sirkulasi udara dalam rumah baik, kalau siang cukup cahaya jadi nggak perlu pakai lampu, bisa adem kala siang walau gak pakai AC dll.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar bangad Mbak Ety Abdoel. Banyak yang selalu maunya gratis, padahal nge-print sja tidak gratis.

      Hapus
  5. Iya bener. Menggambar dan mendesain itu beda. Beda banget. Banyak yang dipertimbangkan demi kelangsungan bangunan itu ya. Sedih juga sih sama orang yang suka berpikir pendek kayak gitu :|

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lebih sedih lagi kalau kaga dihargai sama sekali. Sampai untuk ongkos ngeprint aja Arsitek keluarin uang pribadi.

      Hapus
  6. Saya bukan anak Arsitektur tapi semester pertama sempat dapat mata kuliah menggambar teknik. Itu saja sudah susyeehh, gimana mo gambar gedung, ruangan sampe bikin maketnya segala. Yaiyalah harus dihargai sepantasnya. Cuma memang orang yang belum pernah merasakan atau melakukannya paling menganggap, ah tarik garis kek gitu saya juga bisa. Hahahaha.. sabar aja. Ada harga ada kualitas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insya Allah, pasti sabar kok. Cuma kesal dikit doank kalau hasil karya gak di hargai. Apalagi nemu orang yang gak mau berkorban dikit aja alias pelitnya kebangetan. Padahal yang di minta cuma untuk harga print doank gak lebih.

      Hapus
  7. saya setuju, ide memang mahal banget
    kebetulan saya pernah hadir ke acara 55 tahun IAI di TIM, Jakarta, 2014 lalu
    waktu itu sempat ngobrol2 sama mereka tentang arsitek :)

    mas hebat euy jadi arsitek, semoga bisa membangun Makassar seperti Ridwan Kamil ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih jauh dari kata hebat dan masih dalam proses belajar. Semoga saja bisa menjadi penerus Ridwan Kamil.

      Hapus
  8. aristek itu idenya kreatif memiliki nilai seni, jadi wajar kalo mahal karena menemukan ide itu susah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seharusnya sih begitu, tapi kenyataannya jauh dari yang diharapkan.

      Hapus
  9. Keren gan

    Btw kunjungi juga blog ane:
    http://lantingrusak.blogspot.com/

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...