Kamis, 03 Desember 2015

Penghuni Baru Yang Malu-Malu, Tapi Ingin Dimanja

Hari ini, seperti biasanya aku kembali menjalankan aktivitasku seperti kebanyakan orang yang sudah bekerja. Setelah mengantar ibu pagi-pagi ke pasar untuk belanja pesanan orang di kampung, aku langsung menuju lokasi proyek untuk memastikan apakah para tukang dan buruh masuk kerja, atau ada lagi yang di alihkan ke tempat lain.

Entah kenapa, hari ini aku merasa ngantuk bangad. Aku pun jadi bertanya-tanya dalam hati, apakah karena pengaruh susu yang aku minum satu jam sebelum menuju lokasi proyek atau karena hal lain. Bahkan sempat juga berpikir begini : "Duh... hari ini kok berbeda dari hari-hari sebelumnya. Kok aku merasa ngantuk bangad, padahal hari-hari sebelumnya biasa begadang dan tidak merasa seperti ini. Ada apakah dengan hari ini?"

Meski demikian, aku tetap bertahan di lokasi proyek karena sudah menjadi tanggungjawab. Baru sekitar jam 12 siang atau dekat istrahat kerja, aku memutuskan untuk kembali ke rumah. Itu pun karena aku baru ingat bahwa harus menyiapkan bekal untuk ibu, yakni berupa nasi yang masih panas dan telur rebus untuk makan malamnya di kapal.

Maklum saja, sampai saat ini makanan di kapal hanya sedikit peningkatan dari yang sebelumnya berupa nasi dengan lauk, seperti sedikit sayur kaya ditempat orang jual lalapan, sepotong ikan kecil, atau telur dadar. Itu pun telur dadarnya gak utuh, dapatnya cuma 1/4 atau 1/5 doank. Gak kebayang kan, udah bayar mahal-mahal dapatnya segitu doank.

Kembali ke topik.

Sambil menunggu nasi masak dan telur rebus matang juga, aku mencoba untuk beristrahat sebentar. Lumayan buat nambah tenaga dan hilangin ngantuk sedikit sebelum jam 1 siang pasar sesuai permintaan ibuku untuk bertemu di sana, baru kemudian ke pelabuhan mengingat sesuai jadwal, kapal akan berangkat jam 4 sore.

Singkat cerita, nasi dan telur pun udah matang dan bekal sudah aku siapin semuanya ditempat yang sudah disediakan oleh ibuku sebelumnya. Setelah itu aku segera bergegas pasar dan juga toko dimana ibuku menunggu. Karena sedikit macet, aku baru sampai di lokasi sekitar 35 menit kemudian (berangkat jam 1.45 dan sampai 2.20 siang).

Gak perlu menunggu lama, aku dan ibu segera memanggil bentor atau becak motor untuk mengangkut barang belanjaan ke pelabuhan, tentunya kami juga ikut serta langsung. Sekitar 15 menit kemudian sampailah kami disana, itu pun sedikit terlembat karena kondisi jalanan dalam pasar yang berlobang alias banyak kubangan, penjual kebanyakan membuka lapak di pinggir jalan karena tempat menjula mereka masih dalam tahap renovasi dari pihak pengembang.

Karena waktu menunjukkan jam 3 sore, maka segera saja aku suruh ibu naik ke kapal. Tujuannya agar bisa dapat tempat tidur di kapal, mengingat banyak calo dalam kapal yang memperjual belikan tempat tidur dan juga kasur yang seharusnya gratis. Selain itu, sesuai jadwal kapal tinggal sejam lagi sudah mau melepas jangkar dan meninggalkan pelabuhan tentunya.

Setelah semuanya sudah selesai dan kapal sudah berangkat, aku pun memutuskan untuk balik ke rumah. Sesampainya di rumah, entah karena kecapean atau pengaruh masih ngantuk berat seperti yang aku ceritakan di awal, aku langsung menuju tempat tidur. Eh... gak taunya malah ketiduran sampai dekat magrib.

Saat bangun tidur, aku merasa ada yang lain di dalam rumah. Sore tadi, ada penghuni baru dalam rumah. Dengan sedikit malu-malu ia datang mendekat ke arahku dan berlagak ingin di manja. Karena aku gak ada kerjaan, tanpa berpikir panjang langsung ikut meladeninya dan hal itu membuatku jadi keasyikan serta happy. Ia pun melompat ke sana kemari bahkan sempat malu-malu dan menunjukkan wajah imut-imutnya saat aku coba mengabadikan dirinya.

Oh... Tuhan, ternyata benar apa yang aku sering baca selama ini. Bahagia itu ternyata gak perlu uang banyak, pergi keluar negeri, atau melakukan hal-hal besar. Cukup dengan hal-hal sederhana saja sudah bisa membuat kita bahagia, misalnya selalu bersyukur tiap hari atau seperti yang baru saja aku rasakan.

Eh.... pasti ada yang bertanya-tanya, siapakah sosok yang menjadi penghuni baru di rumah sore ini? Mau tahu seperti apa sosok yang aku maksud. Nih... aku kasih bocorannya saat mencoba mengabadikan dirinya ke dalam kamera smartphone. Oh iya, ade aku tadi ngasih dia nama, Misye.

Malu-malu saat di foto, Dok. Pribadi

Makassar, 3 Desember 2015

10 komentar:

  1. Kirain apaan tuh ternyata kucing toh

    BalasHapus
  2. Misye, nama yang cantik secantik penampakannya :) :)

    BalasHapus
  3. Pas lihat foto misye tiba-tiba saya merinding mas timur, serius, saya takut kucing, saya phobia kucing.... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah... baru tahu juga kalau mas Diar phobia sama kucing.

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...