Jumat, 18 Desember 2015

Menyusuri Kepingan Sejarah Yang Tersisa Di Benteng Somba Opu

Sumber : Facebook Komunitas Blogger Makassar, Angingmammiri
Materi demi materi telah kami terima. Tak terasa, waktu telah menunjukkan pukul 14.00 Wita sekaligus merupakan sebuah pertanda bahwa kegiatan hari itu akan memasuki puncaknya. Sedangkan disisi lain, juga sebagai sebuah sinyal kepada seluruh peserta “Workshop TravelNBlog 5” untuk mempraktekkan ilmu yang di curi dari para kakak-kakak pemateri hari itu, yang ibarat kata Syahrini “Kece Baday”. Uuuulalaaa....

Ya... sudah saatnya untuk mempraktekkan ilmu yang dibagikan oleh Kak Wira Nurmansyah (cara mengambil photo). Mumpung lagi angat-angatnya gitu, sekaligus untuk menghilangkan rasa kantuk yang menyerang akibat kelamaan berada dibawah AC. Apalagi kegiatan ini bisa dibilang moment yang paling aku tunggu-tunggu, karena selama dua bulan terakhir ini berhadapan dengan angka-angka, menggambar, dan membuat laporan progres pekerjaan lapangan. Atau dengan kata lain aku perlu refreshing agar pikiran tetap fresh.

Siang itu, sesuai dengan tema yang di angkat yakni “Makassar Heritage Tour”, maka kami pun segara menyiapkan peralatan yang dibutuhkan seperti kamera. Namun sebelum memulai petualangan, aku dan peserta lainnya dikumpulkan terlebih dahulu untuk menerima arahan mengenai tempat yang akan dikunjungi. Dari beberapa masukan yang ada, akhirnya terpilihlah dua tempat, yakni “Benteng Somba Opu dan Benteng Fort Rotterdam”. Dan sebelum meninggalkan Gedung DiLo Makassar, kami menerima arahan terakhir untuk berkumpul di Benteng Fort Rotterdam, mengingat sebagian dari peserta ada yang tidak membawa kendaraan.

Ketika melangkahkan kaki menuju parkiran, tiba-tiba cuaca yang tadinya sangat cerah menjadi sedikit mendung. Langit pun mulai nampak gelap. Sebagian dari kami bergumam, akankah turun hujan? Meski demikian, hal tersebut tidak menjadi halangan. Kami tetap bergegas dan menuju titik temu sesuai kesepakatan. Sekitar 20 menit kemudian, kami semua sudah berkumpul dan dari situlah petualangan dimulai, dengan lokasi pertama adalah “Benteng Somba Opu”.

Jujur saja, selama hampir 8 tahun berada di Makassar, hari itu untuk pertama kalinya aku akan menginjakkan kaki di Benteng Somba Opu. Lah... selama ini kemana saja? Gak kemana-mana kok, kebanyakan ngadem di kost, malah pernah tersesat sekali yang berakhir di depan jembatan menuju benteng, serta pernah juga beberapa kali lewat doang saat ngantar adikku ke kost temannya yang gak jauh dari jembatan menuju benteng.

Singkat cerita, mobil yang kami tumpangi pun kini memasuki mulut jembatan menuju benteng. Suara air Sungai Jeneberang terdengar begitu deras. Dari balik kaca mobil terlihat tanaman eceng gondok yang menyejukkan mata. Sayang, bunganya belum bermekaran. Padahal pengen selfie juga kaya anak alay yang lagi ramai diperbincangkan di media sosial gara-gara ngerusak bunga Amarilys.

Pelan tapi pasti, mobil yang kami tumpangi mulai memasuki kawasan benteng. Saat melewati jembatan dan tepat disamping kiri terdapat tulisan “Taman Burung”. Aku pun langsung teringat pada sebuah artikel yang pernah aku baca mengenai taman burung yang keren di Makassar. Dan aku baru sadar kalau taman yang di maksud ternyata berada di kawasan Benteng Somba Opu. Karena tujuan kami bukanlah tempat tersebut, maka kendaaraan tetap melaju. Namun lajunya sedikit dipelanin sebab jalanan masuk sedikit tidak rata dan cenderung berlubang dengan jarak kurang lebih 50 meter.

Sisa Tembok dan Peta Benteng, Dok. Pribadi
Tapi setelah semua itu terlewati dan mendekati pintu masuk, aku langsung takjub ketika melihat beberapa bangunan yang menggambarkan rumah adat beberapa daerah di Sulawesi Selatan. Salah satunya yang paling aku kenal adalah rumah adat Tana Toraja. Jika diperhatikan tata letaknya seperti membentuk sebuah taman mini. Dan ternyata memang benar, dari sejarahnya Benteng Sombu Opu sejak jaman dulu sudah dirancang untuk menjadi sebuah taman mini yang dikhususkan untuk memperkenalkan budaya Sulawesi Selatan. Hal itu aku ketahui saat bertanya pada seorang teman disampingku, yang berasal dari Tana Toraja.

Semakin ke dalam, nuansa budaya dan arsitektur tradisional serta peninggalan jaman kolonial semakin terasa. Hal ini bisa dilihat dari model bangunan yang masih menggunakan kayu, memiliki kolong tinggi, bentuk atap yang tinggi, dan terdapat beberapa peninggalan jaman dulu, contohnya seperti bangunan tembok dan meriam.

Tak berselang lama, kami pun sampai di parkiran. Satu persatu yang ikut tour keluar dari mobil dan semua langsung berkumpul di satu tempat untuk mendengarkan bagaimana sejarah Sulawesi Selatan, termasuk sejarah Benteng Somba Opu. Dan yang menjadi narasumber alias sejarawan siang itu adalah Kak Ipul (Daeng Gassing). Ia adalah seorang blogger yang tau sedikit banyak mengenai sejarah jaman dulu. Bahkan sempat juga dia menjelaskan mengenai asal usul panggilan andi, daeng, dan karaeng, yang ternyata tidak sembarang orang bisa mendapatkan panggilan demikian.

Setelah mendengarkan sedikit mengenai sejarah Sulawesi Selatan, Benteng Sompa Opu dan sekitarnya, kami pun memutuskan untuk berkeliling mengingat waktu yang terbatas, masih ada satu objek lagi yang harus dikunjungi, dan cuaca yang semakin gelap.
Dok. Pribadi
Mode Panorama, Dok. Pribadi
Saat sedang asyik-asyiknya mempraktekkan ilmu yang diajarkan oleh Kak Wira Nurmansyah di sekitar Museum Karaeng Pattingaloang, tiba-tiba gerimis turun. Kami pun memutuskan untuk berteduh di museum tersebut sambil melihat-melihat koleksi yang dipajang. Dari sekian banyaknya koleksi yang di pajang di dalam museum tersebut, ada beberapa yang menarik perhatianku, seperti : 

  • Lemari koleksi uang. Dimana di dalamnya terdapat beberapa uang kertas, mulai dari uang kertas tahun 1951 (uang kertas pertama) sampai cetakan saat Bj. Habibie masih jadi Presiden. 
  • Lukisan Benteng Somba Opu dan sekitarnya di ketinggian kurang lebih 7 meter dari lantai. Menariknya dibawah gambar tersebut terdapat cermin besar, yang bentuknya seperti meja gambar di studioku (Jurusan Arsitektur). Sehingga untuk melihat lukisan tersebut tidak perlu capek-capek untuk mendongak ke atas. Cukup berdiri di depan cermin tersebut jika ingin melihat lukisannya. 
  • Peralatan perang jaman dulu, seperti beberapa jenis tombak. 
  • Para tokoh tokoh Kerajaan Gowa–Tallo beserta nama lengkapnya. Sebut saja salah satunya Sultan Hasanuddin, yang ternyata memiliki nama lengkap lumayan panjang dan susah untuk di hafal. Berikut nama lengkapnya : I Mallombassi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape Sultan Hasanuddin.
Karena waktu yang lumayan mepet dan gerimis sudah berhenti, maka kami memutuskan untuk mengakhiri petualangan di Benteng Somba Opu dan bersiap-siap untuk menuju destinasi selanjutnya.
Lukisan dilihat dari cermin, Dok. Pribadi
 
Uang Kertas Rp. 25 (Tahun 1952), Dok. Pribadi
Koleksi Tombak, Dok. Pribadi
  
Makassar, 18 Desember 2015
 
Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog "Blog Competition #TravelNBlog5:Jelajah Sulsel" yang diselenggarakan oleh @TravelNBlogID 

12 komentar:

  1. kalo didaerah saya ada namanya benteng pendem, di Cilacap

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama bentengnya unik kalau menurut aku.

      Hapus
  2. Balasan
    1. Di tunggu kedatangannya Mas. Tenang aja, teman-teman blogger Makassar sipa nemenin.

      Hapus
  3. Pertama kali main ke blog ini.
    salam kenal yah bro^^.
    aaah, sayang wkatu ke Makassar Juni Kemaren gak sempet maen ke benteng sumba opu. cuma sempet belanja aja *eeeh*.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga Mbak Astari Ratnadya.
      Semoga bisa berkunjung di lain waktu lagi.

      Hapus
  4. benteng somba opu, sama kayak benteng kuto besak di palembang ya. disni malah jadi markas kodam mas, jadi agak susah masuknya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yah... Sayang donk, padahal kan bagus tuh dijadikan tempat refreshing sekaligus belajar sejarah.

      Kalau di Makassar bangun bersejarah gak boleh di ganggu lagi, meski itu dari pemerintah sendiri karena sudah ada undang-undang yang di buat pemprov untuk melindunginya.

      Hapus
  5. yeaaay! ayooo, keluar dari kost dan makin banyak jelajah kota/provinsi sendiriiii! hihihihi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe...
      Iya, perlu banyak refreshing lagi nih.

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...