Kamis, 10 Desember 2015

Kisah Seorang Istri Mencari Cinta Sejati

Percaya atau tidak, hidup itu penuh dengan misteri. Apa yang terjadi hari ini, esok, dan seterusnya tidak ada yang tahu. Selain penuh dengan misteri, tak jarang juga kita disuguhkan dengan berbagai kejutan yang tak terduga. Semua itu tentu atas ijin dari Yang Maha Kuasa, Sang Pencipta Alam Semesta ini. Karena tanpa DIA, apalah artinya semua usaha yang kita lakukan selama ini.

Berkat DIA, tidak ada yang namanya mustahil, selama kita mau memohon dan meminta kepada-Nya setiap kali memanjatkan do'a. Apapun itu, termasuk dalam urusan CINTA.

Kata orang tua, CINTA itu bisa hadir kapan saja tanpa bisa kita cegah. Bahkan bisa terbentuk dengan sendirinya meski awalnya kita tidak menginginkannya. Contohnya, banyak orang tua zaman dulu yang menikah karena di jodohkan. Seiring waktu berputar dan tanpa disadari perasaan itu tumbuh dengan perlahan-lahan hingga akhirnya mereka benar-benar merasakan seperti apa rasanya jatuh cinta dan hanyut di dalamnya.

Melihat apa yang di alami oleh orang tua kita zaman dulu, bisa dikatakan bahwa "CINTA" itu bisa hadir dalam berbagai berbentuk. Entah itu berawal dari hal-hal kecil, di sengaja, atau yang awalnya tidak terasa atau tidak disengaja. Bahkan cinta bisa hadir dalam bentuk yang membosankan, dengan kata lain tidak seperti yang kita harapkan atau khayalkan seperti yang selama ini terjadi di film-film.

Ya... begitulah cinta hadir dalam kehidupan kita. Dimana ia tak selalu hadir dalam bentuk yang indah seperti bunga mawar, moment-moment romantis, atau seperti kisah Romeo dan Juliet. Contohnya kisah di bawah ini, dimana merupakan pengalaman langsung dari seorang wanita yang bernama Rius Icha yang aku kutip langsung dari Facebooknya. (Di tulis tanggal 3 September 2015)

*  *  *

Suamiku berprofesi sebagai insinyur mesin, Aku mencintainya karena sifatnya yang tegar, dan perasaan hangat dan nyaman saat Aku bersandar di bahunya yang bidang. Tiga tahun berhubungan, dan sekarang sudah dua tahun kami menikah, aku harus mengakui, aku mulai lelah dengan semua ini. Alasan-alasanku mencintainya, sekarang telah berubah menjadi penyebab kelelahanku.

Aku perempuan yang sangat sentimental, dan sangat, sangat sensitif tentang hubungan cinta dan perasaanku, aku sangat mendambakan momen-momen romantis dalam hidupku. Suamiku adalah orang yang sangat berlawanan sifatnya denganku, dan ketidakmampuannya membuat momen romantis dalam pernikahan kami telah menghancurkan perasaan cintaku kepadanya.

Suatu hari, akhirnya aku memutuskan untuk menyatakan keputusanku kepadanya. Aku ingin bercerai.

“Kenapa?” tanyanya, kaget.
“Aku lelah. Gak semua hal di dunia ini harus ada alasannya kan!” Jawabku.

Suamiku hanya diam semalaman, sepertinya ia tenggelam dalam pikirannya, dan merokok sepanjang malam. Perasaan kecewaku hanya bertambah besar melihatnya seperti itu. Disana terlihat laki-laki yang bahkan tidak dapat mengekspresikan kekecewaannya, apa lagi yang aku harapkan dari dia?

Akhirnya suamiku bertanya kepadaku.
“Apa yang bisa Aku lakukan untuk mengubah pikiranmu?”

Sepertinya yang orang-orang bilang itu benar, susah untuk mengubah kepribadian seseorang, dan kurasa, aku telah kehilangan kepercayaan dan cintaku kepadanya.

Aku melihat dalam ke matanya, dan perlahan ku jawab: “Aku punya pertanyaan, kalau Kamu bisa menjawabnya, dan meyakinkanku, Aku mungkin mengubah pikiranku. Seandainya ada bunga yang terletak di tepi jurang, dan mengambilnya bisa membahayakan nyawamu, maukah Kamu mengambilnya untukku?”

“Akan Aku jawab besok” Jawabnya, singkat.
Harapanku hancur mendengar jawabannya.

Keesokan harinya aku terbangun, dan dia sudah tidak ada. Kutemukan sepucuk surat dengan tulisan tangannya yang jelek, dibawah segelas susu di meja makan dekat pintu depan. Aku baca perlahan kata-katanya.

“Sayangku, Aku tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi biarkan Aku menjelaskan alasanku..”

Baru kalimat pertama, tapi kekecewaanku semakin bertambah padanya. Kulanjutkan membaca.

“... Ketika kamu menggunakan komputer, kamu selalu bermasalah dengan program-programnya, kemudian Kamu menangis di depan monitor. Aku harus menjaga jariku, jadi aku bisa tetap membantumu memperbaiki programnya. Kamu selalu lupa membawa kunci pintu kalau keluar rumah, jadi Aku harus menjaga kakiku untuk berlari pulang agar Kamu bisa segera masuk ke dalam rumah. Kamu suka jalan-jalan, tapi Kamu selalu tersasar di tempat yang baru, jadi Aku harus menjaga mataku agar bisa memberitahu jalan yang benar. Kamu selalu keram setiap bulan saat “teman baikmu” datang, jadi Aku harus menjaga tanganku untuk mengelus perutmu dan meredakan rasa keram itu...”

“.....”

“... Kamu selalu suka untuk tetap di rumah, dan Aku khawatir Kamu tidak memiliki teman. Jadi Aku harus menjaga mulutku, agar bisa terus menceritakan cerita-cerita lucu untuk menghilangkan kebosananmu. Kau selalu suka menatap komputer, dan itu buruk untuk matamu. Jadi Aku harus smenjaga mataku, agar kalau kita tua nanti, aku bisa membantu memotong kukumu, dan membantumu menyibak ubanmu yang mengganggu, jadi Aku bisa memegang tanganmu, sambil memandang pantai berdua. Jadi kamu bisa menikmati sinar matahari, dan pasir yang indah... Jadi Aku bisa menceritakan kepadamu warna dari bunga-bunga, seperti rona wajahmu saat Kamu masih muda... Jadi, Sayangku, kecuali aku yakin ada orang lain yang mencintaimu lebih dari Aku... Aku tidak bisa memetik bunga itu, dan mati...”

Air mataku mengalir membasahi suratnya, dan merusak tinta di tulisannya sepanjang aku membaca...
“... Sekarang Kamu sudah selesai membaca jawabanku. Kalau kamu puas dengan jawabanku, tolong buka pintu depan, karena aku sedang berdiri menunggumu sambil membawa roti dan susu segar kesukaanmu...”

Aku bergegas menarik pintu, dan melihat wajahnya yang penasaran, memeluk erat botol susu dan roti dengan tangannya.

Sekarang aku sangat yakin, tidak ada orang yang bisa mencintaiku sebesar cintanya kepadaku, dan aku memilih untuk tetap bersamanya, meninggalkan bunga-bunga yang aku inginkan di belakang.

Begitulah hidup. Ketika seseorang dikelilingi oleh cinta, lama-lama perasaan bahagia itu pudar, dan dia tidak merasakan cinta sesungguhnya karena tertutup oleh kebosanan.

Cinta hadir dalam berbagai bentuk, bahkan dalam bentuk yang sangat kecil dan tidak terasa. Bisa jadi, cinta hadir dalam bentuk yang sangat membosankan. Bunga-bunga dan momen romantis hanya hal yang bisa dilihat dari kekuatan cinta. Namun dibalik itu semua, ada cinta yang sebenarnya.

Pandangi wajah pasanganmu jika Kau mulai merasa bosan. Pikirkan hal-hal yang membuatmu jatuh cinta kepadanya dulu.

Setuju!!!

Makassar, 10 Desember 2015

10 komentar:

  1. Balasan
    1. Terima kasih mas Erdi untuk apresiasinya.

      Hapus
  2. Wih ngliat ilustrasinya agak gimana gitu hehe

    Ini bisa jd diambil hikmah buat setiap pasutri ya mas arif

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya Mbak Gustyanita, ambil hikmahnya saja. Kali aja bermanfaat di masa yang akan datang.

      Hapus
  3. Balasan
    1. Terima kasih mas untuk atensinya. Alhamdulillah kalau artikelnya membawa manfaat.

      Hapus
  4. yeps, jika merasa bosan dengan pasangan lebih baik mengingat hal2 yang pernah membuat ia bahagia, tapi jangan mengingat hal2 yang pernah lo lakuin sama mantan bisa tambah berabe urusannya. hhe

    nice inpoh gan. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha... bisa perang dunia ke-3 tuh kalau yang di ingat malah si mantan.

      Terima kasih untuk apresiasinya mas.

      Hapus
  5. Hehehe, pernah baca ini tahun lalu, tapi di mana, ya? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di facebook mungkin, karena tulisan ini ramai di bagikan di copy ke status oleh banyak orang.

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...