Minggu, 22 November 2015

Sejarah Masuknya Freeport Ke Indonesia

Gak terasa, akhir pekan sebentar lagi akan berakhir dan esok masuk hari kerja lagi. Mumpung masih ada sedikit waktu, mendingan kita belajar sejarah saja. Kebetulan saat membuka facebook, aku menemukan sebuah sejarah yang menarik dan sayang jika dibiarkan lewat begitu saja.

Sejarah yang aku maksud adalah mengenai masuknya sebuah perusahaan besar yang mengeruk hasil bumi negeri ini. Yang mana berkat hasil bumi tersebut, negaranya menjadi kaya raya dan kita hanya kebagian sedikit saja dari hasil penjualan (dibawah 5%). Malah yang paling banyak kita dapatkan adalah limbahnya saja dan kerusakan alam (hutan) untuk jangka waktu yang panjang.

Perusahaan yang aku maksud tak lain dan tak bukan adalah FREEPORT.

Mau tahu sedikit sejarah masuknya Freeport ke Indonesia sampai bebas mengeruk hasil alam negeri ini untuk jangka waktu yang panjang. Berikut ulasannya yang aku dapatkan dari akun Facebook seorang teman bernama Muhammad Toha.

*  *  *

Mari kita buka buku sejarah Indonesia dan cuplikan beberapa peristiwa dunia di era sebelum 1970-an. Bisa jadi di belakang rentetan peristiwa di masa lampau itu, kita akan menyebut sebuah nama yang sama: Freeport!

Sumber Gambar : www.eramuslim.com
Sejarah memang tidak pernah tercipta oleh dalil tunggal, melainkan oleh serangkaian penyebab yang jamak. Namun, rasa-rasanya menilik sejarah Indonesia, Freeport sedikit banyak memberi warna atas serangkaian peristiwa yang terjadi di Nusantara

Agak berlebihan sepertinya…Tapi baiklah; inilah bualan saya!

Pasca menang di perang dunia kedua, Belanda yang bergabung dengan sekutu hendak kembali ke Indonesia sebagai penguasa. Namun, bekas wilayah jajahannya itu, ternyata telah menyatakan diri sebagai negara berdaulat. Belanda tentu saja tidak rela. Selama rentang masa 1945 hingga 1949, dengan kekuatan militernya, Belanda menduduki dan bercokol di beberapa wilayah Indonesia—dengan rentetan perlawanan bersenjata dari rakyat Indonesia.

Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag pada 2 September 1949 menjadi ujung dari kekuasaan Belanda di Indonesia. Belanda akhirnya mengakui Indonesia sebagai negara merdeka dengan wilayah seluruh bekas jajahannya, dengan pengecualian; Irian Barat. Irian Barat disepakati akan dibicarakan lebih lanjut, setahun setelah KMB ditandatangani.

Nah, disinilah tanda tanya layak diajukan? Mengapa Belanda bersedia mengakui seluruh wilayah bekas jajahannya sebagai wilayah Indonesia dengan pengecualian Irian Barat? Kenapa bukan wilayah Sunda kecil (NTB, NTT), Kalimantan atau Sulawesi yang dipertahankan?

Belanda memang menyembunyikan sejumlah alasan. Tapi harta karun yang teramat besar di perut bumi Irian Barat diyakini sebagai alasan utama. Belanda telah jauh-jauh hari mempunyai datanya. Pada 5 Desember 1936, di pegunungan Cartesz pada ketinggian 3.600 meter dpl, Geologis Belanda bernama Colijn dan Jean Jaques Dozy menemukan gunung setinggi 180 meter yang berisi tembaga dan emas. Mineral itu nampak terserak di permukaan, sehingga berkilau diterpa matahari. Gunung itu diberi nama Ersberg.

Kembai lagi ke KMB. Genap setahun setelah KMB, Belanda ternyata tak kunjung membuka pembicaraan soal Irian Barat. Bahkan secara sepihak, pada Agustus 1952, Belanda menjadikan wilayah Irian Barat sebagai salah satu propinsinya. Seorang Gubernur Jenderal dikirim dari Belanda sebagai penguasa wilayahnya.

Indonesia protes dan mengajukan keberatan. Berbagai upaya dilakukan Pemerintah, diantaranya dengan membawa masalah Irian Barat dalam sidang umum PBB. Tetapi posisi Belanda sebagai negara sekutu yang disokong Amerika, Inggris dan Australia, terlalu kuat untuk digoyang. Irian Barat tetap dikuasai Belanda.

Dalam masa penguasaan Belanda inilah, penyelidikan lebih lanjut soal harta karun yang terpendam di Irian dilakukan oleh Badan Geologi Kerajaan Belanda. Dan hasilnya, seperti yang diberitakan oleh New York Times pada 6 Maret 1959, Pemerintah Belanda mengkonfirmasi penemuan ladang Tembaga dan Emas yang melimpah di Ersberg.

Cerita tentang Irian Barat bergulir melintasi benua, dan menarik minat para pemburu rente di belahan bumi utara. Pada Agustus 1959, beberapa bulan setelah pemberitaan di New York Times, Forbes Wilson, salah satu petinggi Freeport Sulphur, perusahaan tambang Amerika skala sedang, bertemu dengan Jan Van Gruisen dari East Borneo Company. Pembicaraannya seputar temuan ladang tembaga dan emas di Irian Barat.

Freeport yang kondisinya sedang sekarat karena konsesi tambangnya di Cuba diambil alih oleh Pemerintahan Fidel Castro, menaruh minat untuk mengecek kebenarannya. Diceritakan dalam buku sejarah Freeport, bagaimana Forbes Wilson girang tak kepalang saat menginjakan kakinya di Ersberg. “Seharusnya gunung ini diberi nama Mountain Gold, bukan Ersberg.” begitu pengakuannya. Tembaga, emas dan perak di gunung itu berserak dan melimpah di permukaan, tinggal dikeruk tanpa harus membuat terowongan atau membelah gunung.

Bersambung....

4 komentar:

  1. jadi jika di telisik penjajahan dankembalinya Belanda di Irian Barat justru diharapkan oleh Amerika karena intrik terselubungnya ingin menguasai tanah subur makmur dan kandungan emas yag berlimpah di dalamnya...super cerdik emangnya ya...atau kitanya yang bloon yah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepertinya kitanya yang masih belum mengerti strategi dalam mengelola kekayaan alam negeri, sehingga negara lain yang melihat peluang tersebut masuk dengan memberikan janji-janji yang pada akhirnya hanya membuat kecewa.

      Hapus
  2. wah mash bersambung ya...kita selalu kecolongan kalau menyangkut harta terpendam kita justru orang lain yg lebih dulu tahu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, masih ada lanjutannya lagi Mbak soalnya terlalu panjang ulasannya. Benar bangad, setiap kali menyangkut masalah kekayaan alam, negeri tercinta ini selalu terlambat dan diperdaya oleh negara lain.

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...