Senin, 23 November 2015

Arsitek dan Drafter Itu Beda

Arsitek dan Drafter Itu Beda
Arsitektur Via news.indonesiakreatif.net
Hari ini, setahun yang lalu, di salah satu media sosial yang aku miliki tersimpan sebuah kenangan yang tidak bisa kulupakan. Sebuah kenangan yang membuatku jadi tersenyum jika mengingatnya kembali dan berkat hal tersebut, aku jadi sadar bahwa segala sesuatunya harus dimulai dari bawah, harus banyak belajar, tidak gampang mengeluh, dan juga tidak boleh membanding-bandingkan antara yang satu dengan yang lainnya.
 
Waktu itu, ada seorang yang membuat status di salah satu group yang berhubungan dengan dunia teknik yang aku ikuti. Status yang tulis berupa keluhan yang berhubungan dengan tempat ia bekerja. Isinya kalau gak salah kurang lebih seperti ini :
"Kenapa Arsitek ditempat saya kerja gajinya lebih tinggi dibandingkan dengan saya yang tiap harinya capek menggambar. Sedangkan sang Arsitek kerjanya hanya coret-coret dan selebihnya saya yang tuntaskan."

Akibat status tersebut, bermunculanlah komentar yang isinya berupa nasihat, penjelasan dan juga beberapa di antara ada yang bertanya. Pertanyaan yang diajukan pun tidak jauh dengan dunia kerja, seperti :
"Di tempat kerja, anda posisinya sebagai apa. Drafter, anak magang, mahasiswa, atau apa?"

"Sebelum kerja ditempat tersebut, anda kuliah dimana dan jika kuliah jurusan apa di ambil, atau anda hanya tamatan STM saja" 

Sang penulis status pun menjawab : "Di tempat kerja saya posisinya sebagai drafter dan bukan lulusan manapun atau dengan kata lain belajar menggambar otodidak."

Dengan jawabannya yang seperti itu, banyak anggota group yang sebelumnya mengapreasisasi keluhannya berubah menjadi geram, termasuk yang berprofesi sama dengannya. Bahkan tak ketinggalan juga yang sudah puluhan tahun menjadi seorang drafter ikut memberikan saran.

Beberapa di antaranya dan masih aku ingat kurang lebih seperti di bawah ini :
"Mas bro, sebelumnya saya mengapresiasi usaha anda yang belajar menggambar secara otodidak. Namun kritikan anda salah arah, karena secara tidak langsung anda tidak menghargai profesi Arsitek. Untuk menjadi Arsitek itu tidak gampang, harus sekolah dulu, melewati banyak rintangan, menghasilkan desain yang bisa dipertanggungjawabkan dan bermanfaat untuk jangka panjang, seperti rumah, bangunan bermassa (mall, kantor, dll), dan masih banyak lagi. Selain itu masih mereka harus mendapatkan pengakuan terlebih dahulu baru bisa dipanggil Arsitek dan lagi-lagi tidak gampang untuk mendapatkannya."

Bahkan ada juga yang memberikan komentar seperti ini :

"Jika niat anda kerja semata untuk mencari uang dan membanding-bandingkan saja bukan ilmu, maka saya sarankan untuk berhenti sekarang dari tempat anda kerja. Karena jika sikap anda seperti itu, maka saya yakin anda tidak akan bertahan lama. Entah anda yang meminta resign atau yang lebih parah lagi bos yang tidak suka dengan sikap anda dan berujung pada pemecatan tanpa pesangon."

Masih denga orang yang sama, tapi dengan komentar berbeda. Berikut isinya :
"Saya memberikan saran seperti ini karena saya sendiri sudah lebih 20 tahun menjadi drafter. Bahkan meski sekarang sudah punya perusahaan sendiri (berupa CV), saya masih juga menjadi drafter untuk membantu pekerjaan cepat selesai. Mau tahu darimana saya mendapatkan semua ilmu ini, dari seorang Arsitek yang dulu menjadi bos saya. Itu semua karena niat saya saat kerja bukan mengejar uang banyak, tapi ilmu dulu. Mengapa niat saya begitu? Karena ilmu pasti akan bermanfaat sampai kapan pun sedangkan uang akan cepat habis jika tanpa ilmu."

Tak lupa juga orang yang memberikan saran tersebut memperlihatkan hasil desainnya yang menurutku sangat bagus. Bahkan saya saja yang kuliah di jurusan Arsitektur belum mampu menghasilkan desain yang wah... seperti karya yang ia hasilkan.

Melihat banyaknya komentar yang masuk, akhirnya aku sendiri jadi gak tahan untuk ikut memberikan sedikit saran berdasarkan ilmu Arsitektur yang aku dapatkan selama kuliah dan juga dari buku yang aku baca, baik itu yang aku pinjam di perpustakaan maupun dengan membelinya di toko buku, seperti Gramedia, Dunia Ilmu, dan toko-toko lainnya yang aku tahu.

Lalu seperti apa komentar yang aku berikan. Karena status saya sebagai Mahasiswa Arsitektur, maka komentar yang aku berikan hanya berupa pencerahan saja. Isinya seperti ini :
"Sebelumnya saya minta maaf, karena sepertinya anda hanya mementingkan ego saja dan menganggap enteng profesi Arsitek. Seorang Arsitek tidak hanya sekedar coret-coret saja dalam merencanakan bangunan, tapi juga memikirkan banyak aspek, mulai dari aspek ekonomi, kesehatan, sirkulasi, penghawaan ruangan, yakni alami dan buatan, pencahayaan alami dan buatan, aspek legal atau hukum sesuai lokasi bangunan, bahkan tak ketinggalan juga aspek agama (untuk bangunan islami maupun yang meminta desain adalah orang paham agama). Bahkan kalau ada kesalahan dalam perencanaan, Arsitek yang disalahkan bukan drafter dan lisensinya sebagai Arsitek bisa dicabut."

Tak hanya itu saja, masih banyak aspek lain yang dipertimbangkan yang jika saya jelaskan disini bisa gak tuntas-tuntas. Dan jujur saja, saya yang masih kuliah di Jurusan Arsitektur sedang menjadi seorang drafter. Itu semua karena semata demi mendapatkan ilmu bukan mengejar uang lebih banyak.
 
Jadi, kritikan anda terhadap Arsitek kalau menurut saya salah sasaran, karena menjadi Arsitek tidak gampang, butuh dana banyak untuk bisa mendapat gelar Sarjana Teknik (Arsitek) dan itu beda-beda tipis dengan dana yang dikeluarkan Mahasiswa Kedokteran. Diluar itu butuh banyak pengalaman, butuh gelar profesi Arsitek, butuh pengakuan untuk dipanggil sebagai Arsitek dan itu membutuhkan waktu yang lama.

Terakhir, Arsitek dan Drafter itu beda. Hampir semua orang bisa jadi drafter, tapi tidak semua orang bisa jadi Arsitek. Mengapa saya katakan demikian? Karena dengan ikut kursus menggambar anda sudah bisa jadi Drafter. Tapi untuk jadi Arsitek harus menempuh banyak rintangan, mulai dari kuliah (tidak semua orang mampu menyelesaikan studinya) dan seperti yang saya jelaskan sebelumnya. Arsitek itu di umpakan seorang Desainer dan Drafter adalah tukang jahit. Perlu juga di ingat, Arsitek adalah seoang perencana bukan tukang gambar (Drafter)."

Setelah komentar saya tersebut, komentar lain pun menyusul dan jumlahnya semakin bertambah bahkan hampir mencapai 200 komentar dalam sehari. Komentar yang masuk ada yang memberikan pencerahan sesuai ilmu yang didapat, ada yang memberikan saran, dan ada juga yang memojokkan sang pembuat status. Sedangkan yang membuat status sendiri hilang entah kemana, entah karena kupingnnya panas akibat membaca komentar yang begitu banyak dan isinya penceraha, saran, sampai ada yang memojokkan.

Dengan adanya kejadian tersebut, saya memetik hikmahnya saja bahwa kita harus menghargai setiap profesi yang dijalani setiap orang, entah itu tukang sapu, tukang sampah, tukang bangunan, pekerja serabutan, atau pekerjaan lainnya termasuk Arsitek sekalipun.

Di sisi lain, mengingatkan saya agar tidak mudah mengeluh, tidak mudah menyerah, kerjalah dengan ikhlas bukan untuk mencari duit saja, dan juga tidak baik membanding-bandingkan antara yang satu dengan yang lain. Apalagi sampai merasa bahwa kita telah melakukan hal banyak tapi dibayar sedikit. 

Yang perlu di ingat adalah setiap usaha pasti akan ada balasannya, baik itu dibalas saat itu juga atau dilain waktu yang tentu kita sendiri tidak tahu seperti apa balasannya. Yang jadi pertanyaan, mampukah bersabar dan selalu bersyukur? Jawabannya hanya anda dan tuhan yang tahu.

Makassar, 23 November 2015

6 komentar:

  1. Kerereennnn aku pingin bisa ngedesain interior ni mas arif, tp klo sekolahnya mihil

    BalasHapus
  2. ilmu baru.. baru tau perbedaan arsitek dan drafter. terimakasih sharingnya mas. keren :)

    BalasHapus
  3. Balasan
    1. Dengan senang hati saya persilahkan di share.

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...