Selasa, 01 September 2015

Kisah Anak Gunung Pengguna BPJS

Sumber Gambar : www.kompasiana.com
Untung ada BPJS!!!
 
Bagiku, hanya itulah kalimat yang tepat untuk menggambarkan apa yang saya alami akhir Januari sampai minggu pertama Februari beberapa bulan lalu. Sebagai seorang mahasiswa rantau dengan kiriman yang pas-pasan, saya sempat dibuat pusing ketika mendengar kabar bahwa adik saya yang kuliahnya satu kota dengan saya masuk rumah sakit. Saat itu bukan masalah sakitnya yang membuatku pusing dan panik, tapi saran dari dokter yang mengharuskan adik saya untuk di rawat selama dua minggu di rumah sakit.

Menurut dokter yang memeriksa adik saya, cara itu merupakan jalan terbaik jika adik saya mau cepat sembuh dari penyakit types yang di deritanya. Alasannya lainnya juga karena dokter tersebut tidak yakin adik saya akan dirawat dengan baik oleh teman-temannya saat di kostan nanti, mengingat yang namanya anak kuliahan pasti punya banyak tugas, kepentingan masing-masing serta hal-hal lainnya yang harus dikerjakan juga.

Lalu, kenapa saat itu saya jadi ikutan panik dan pusing? Padahal sebelum-sebelumnya setiap kali penyakit types yang di derita adik saya kambuh lagi dan masuk rumah sakit 1 - 2 hari, saya merasa gak terlalu khawatir.

Jadi ceritanya begini, saat itu bapak saya yang merupakan tulang punggung keluarga baru saja pensiun dari PNS, satu bulan sebelumnya (bulan Desember 2014). Sedangkan yang harus di biayai bukan hanya saya saja dan adik saya yang sedang sakit, tetapi juga ada adik saya satu lagi yang sedang siap-siap untuk ujian skripsi. Kebetulan juga saat itu saya baru habis seminar proposal skripsi (Jurusan Arsitektur) dan sedang melakukan penelitian sekaligus mengejar target siapa tahu bisa ikutan masuk studio akhir (2,5 bulan) dan wisuda bulan April.

Nah, yang membuat saya pusing adalah dananya itu loh! Dimana yang harus dibiayai adalah tiga orang sekaligus dan sedang memasuki masa-masa membutuhkan dana semuanya. Gak di rinci pun pasti semua tahu kalaunya nantinya bakalan banyak dana yang harus di siapkan oleh kedua orangtua saya (pensiunan PNS dan ibu rumah tangga). Sebagai anak pertama, saya pun memikirkan hal demikian dan jadinya ikutan pusing karena pikiran dalam kepala seperti orang yang sedang perang saking berkecamuk. Terlebih lagi setelah ke esokan harinya baru saya ketahui bahwa adik saya di rawat di ruang VIP. Dalam bayangan saya saat itu, dana yang dibutuhkan pasti bakalan lebih banyak lagi.

Pikiran saya semakin berkecamuk lagi saat akan mengambil obat untuk adik saya, dimana dari daftar yang saya pegang ternyata obat yang harus di ambil di apotik rumah sakit lumayan banyak juga. Bahkan beberapa di antaranya sudah saya hafal harganya dan sepengetahunan saya lumayan mahal karena sudah sering beli di apotik, baik saat adik saya dirawat dirumah sakit atau di kost. Bagi saya yang masih mahasiswa, harga segitu sudah masuk kategori mahal dan harus berpikir berkali-kali dulu sebelum membelinya.

Untungnya, sebelum menebus obat pagi itu, saya menyempatkan waktu sebentar untuk mampir bertanya pada suster yang kebetulan sudah ada ditempat mereka biasa standby. Saya pun segera menanyakan disebelah mana apotik mengambil obatnya sekaligus menanyakan kira-kira berapa biaya yang harus saya siapkan untuk obat hari itu. Sebelum suster dan perawat menjawab, mereka malah bertanya balik kurang lebih seperti ini : “adik mas punya kartu BPJS gak?”. Karena masih bingung saya pun kembali dulu ke ruangan tempat adik saya dirawat dan menanyakan hal itu juga. Usai bertanya, saya kembali lagi ke tempat tersebut dengan sebuah jawaban “IYA”.

Kemudian salah seorang dari mereka memberikan penjelasan kepada saya kurang lebih seperti ini : “Berdasarkan pengalaman kami, biasanya untuk pengguna Askes (sekarang BPJS) tidak dikenakan biaya mas”. Karena saya orangnya gak gampang percaya, maka saya mencoba memastikan dengan baik-baik dan jawabannya pun tetap sama. Akhirnya, saya pun meminta izin untuk bergegas menuju apotik karena katanya apotik yang melayani BPJS antriannya selalu panjang dan banyak.

Setelah melewati beberapa lorong, akhirnya saya sampai juga di apotik khusus pengguna BPJS dan benar saja antriannya sudah mulai banyak pagi itu. Saya pun segera melengkapi persyaratan yang masih kurang seperti fotokopy kartu BPJS, dan lainnya sesuai dengan yang diberitahukan oleh perawat sebelumnya.

Saat sedang asyik-asyik menunggu, tiba-tiba ada seorang lelaki menghampiri dan bertanya : “Siapa yang sakit mas, pakai BPJS juga ya”. Saya pun segera menjawab “Adik saya yang sakit kena types” dan tak lupa juga menjawab “IYA”, yang artinya menggunakan kartu BPJS juga.

Kemudian lelaki itu lanjut bercerita bahwa enak pakai BPJS, semua biaya di tanggung dan tidak perlu takut lagi akan ini dan itu. Bahkan iya juga menceritakan pengalamannya ketika membawa ibunya yang sedang sakit dan lupa bawa kartu BPJS-nya. Katanya, saat itu iya menggunakan dana pribadi dulu sambil menunggu kartu BPJS-nya di antar oleh salah satu keluarganya ke rumah sakit dimana iya mengantar ibunya berobat dan menjadi pasien rawat inap juga.

Setelah kartu yang ditunggu tiba dan melengkapi semua berkas-berkasnya, ternyata dana pribadi yang sebelumnya ia gunakan akibat lupa bawa kartu BPJS diganti oleh pihak BPJS tanpa ada yang dikurangi. Semenjak saat itu, ia semakin yakin menggunakan BPJS dan selalu berusaha memenuhi setiap persyaratan yang dibutuhkan. Bahkan ia tidak keberatan harus bolak balik fotokopy berulang kali atau menyiapkan kelengkapan berkas lainnya. Baginya hal itu merupakan hal yang biasa dan tidak salahnya untuk berkorban demi mendapatkan pelayanan kesehatan yang maksimal dan lebih baik.

Lalu bagaimana dengan saya yang waktu itu sempat pusing dan panik? Alhamdulillah berkat adik saya menggunakan BPJS, tidak ada biaya sedikitpun yang saya keluarkan selama adik saya dirawat dua minggu di rumah sakit. Baik itu untuk membeli, obat, infus, syrup, pemeriksaan dan lain sebagainya. Dana yang saya keluarkan hanyalah biaya bolak balik kost, kampus, dan rumah sakit. Saya pun bersyukur dan berterima kasih pada BPJS. Untung saja waktu itu ada BPJS kalau gak, bisa dibayangkan deh!

So... masih berpikir untuk tidak menggunakan BPJS dan mengeluh dengan segala kerumitan serta tidak mau berkorban sedikit saja demi mendapatkan pelayanan kesehatan yang maksimal dan lebih baik seperti yang dirasakan oleh kalangan berduit.

Sampai di sini dulu ya cerita dari saya mengenai BPJS dan manfaatnya. Mohon maaf jika ada kata maupun kalimat menyinggung perasaan teman-teman pembaca. Tujuan saya hanyalah ingin berbagi pengalaman mengenai salah satu program pemerintah di bidang kesehatan yang di luncurkan Januari tahun 2014, di mana keluarga saya menjadi bagian dari program itu (sebagai anggota/peserta). Harap maklum, saya hanyalah seorang anak pedalaman yang dilahirkan di sebuah desa di atas gunung yang bernama Kayangan (sekarang Kahyanga).

Di Tulis Hari Minggu, 30 Agustus 2015

16 komentar:

  1. syukurlah adiknya bisa tertangani mas, ga kebayang berapa biaya yang harus ditanggung tanpa ada bpjs

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak, untung ada BPJS. Jadi gak pusing lagi soal biaya.

      Hapus
  2. BPJS kadang memang dibutuhkan orang2 seperti mereka..semoga BPJS selalu memberikan yg terbaik...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak, biar bagaimana pun BPJS tetap dibutuhkan juga.

      Hapus
  3. alhamdulillah semoga bpjs selalu amanah dalam memberikan layanannya

    BalasHapus
  4. bpjs itu sangat membantu banget mas
    memang sih, ga meng-cover seluruh biaya, terutama operasi
    setidaknya, kalo pake bpjs minimal 70% biaya perawatan dan obat ditanggung...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas Choirul, BPJS sangat membantu. Itu yang saya rasakan sebagai mahasiswa rantau dan ketika adik saya sakit. Setidaknya saya tidak perlu kebingungan lagi atau panik saat keadaan darurat seperti itu.

      Untuk operasi, ada juga mas yang tidak membayar sama sekali, kebetulan sebelum puasa ada keluarga yang mengalami hal demikian dan tidak membayar sama sekali.

      Hapus
  5. Di satu sisi memang sangat membantu, disatu sisi memang 'merugikan' yg bayar tanpa memakainya (siapa siih yang ingin sakit hihi...) Akad awalnya kudu dilurusin aja. Dokter jg ktnya dirugikan krn dibayar murah bingits hingga ada pengalaman sepupuku dokternya banyak cuap2 soal ini ke pasien dan pelayanannya jg jd kurang ok, hanya kasus sih... tp berarti mmg ada sesuatu yg harus dibenahi terus :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untung ruginya tetap ada, tapi semua kembali lagi kepada niat masing-masing maunya seperti apa. Sedangkan untuk pemerintah masih perlu lagi melakukan pembenahan agar bisa meminimalisir kerugian yang ada, baik itu dari pihak peserta, dokter maupun pemerintah juga.

      Hapus
  6. harus punya dulu sejak lama dong ya diurusnya, kalo enggak pasti bakalan bingung ngurus ini itunya , belum lagi ngurus adeknya.. Semoga cepet sembuh ya adeknya mas~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah gak perlu ngurus kartu BPJS lagi karena pengguna ASKES bisa di migrasi ke BPJS. Kebetulan juga orangtua selalu mengingatkan soal kartu tersebut agar selalu diperpanjang karena tidak selamanya kita akan sehat.

      Hapus
  7. Allhamdulillah BPJS membantu sekali ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah Mbak, malah sangat membantu sekali dan saya gak perlu panik lagi plus mikir segala macam mengenai biaya.

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...