Sabtu, 25 Juli 2015

Yuk, Luruskan Pemahaman Anda Mengenai Pemberitaan Speaker Mesjid Yang Heboh

"Penataan Speaker Mesjid Untuk Peningkatan Kualitas Umat."
 
Tim Pemantau

Kritik Slamet Effendy Jusuf mengenai kebijakan Dewan Mesjid Indonesia yang membentuk Tim pemantau loudspeaker, sepertinya karena tidak faham maksud dan tujuan dari kegiatan tersebut. Tim pemantau DMI adalah bagian terkecil dari sebuah proyek besar yang sedang dikerjakan DMI.

Dasar berpikir dan misi dakwahnya jelas dan strategis bagi pengembangan dakwah islam. Selama ini, para Dai berceramah atau khotbah di masjid-masjid, acap kali tidak terdengar dan dicerna dengan baik oleh jamaah akibat kualitas sound system, akustik dan cara penempatannya yang keliru. Sebuah masjid yang tampak megah dengan loudspeaker mahal dan bagus tapi pemasangannya tidak tepat, akhirnya tidak menghasilkan suara yang baik. Di saat seorang Ustad sudah berbusa-busa berceramah, menghabiskan waktu di mimbar namun pesannya tidak sampai berlalu ibarat angin, jamaah cuma ngantuk bahkan merasa bising karena sound system dalam mesjid yang tidak tertata dengan baik. Kalau begini jelas yang rugi adalah umat islam yang datang ke masjid buat sholat dan dengar ceramah tapi tidak tercapai misinya dengan baik.


Olehnya itu, di sinilah manfaat dari tim DMI, bukan cuma memantau yang di dalam tetapi juga loudspeaker luar untuk mengetahui kualitas suara dan jangkauannya, sehingga suara antara satu mesjid dengan masjid yang lain bisa terjadi harmoni.

Saat ini untuk keperluan tersebut DMI telah melatih 700 orang lebih teknisi dan menyiapkan 100 unit mobil teknis. Tiap mobil berisi 3 teknisi: elektrik, sound system dan kebersihan. Mereka akan keliling melatih pengelola pengelola mesjid. Sebaiknya selain mengeritik akan lebih bagus jika berpartisipasi memberi bantuan, sebab masih dibutuhkan ribuan tenaga relawan terlatih untuk melayani 800 ribu mesjid dan mushalla se-Indonesia.

JK Tidak Sendiri

Slamet Effendy Jusuf atau siapapun, juga keliru besar kalau menuduh Pak JK, tidak suka dengan pengeras suara. Yang benar Pak JK inginkan suara mesjid lebih harmoni, syahdu dan berkualitas agar dakwah bisa sampai dengan baik kepada ummat. Kalau ceramah dapat didengar dengan baik, maka kata Pak JK bisa jadi ilmu yang bermanfaat bagi jamaah. Bahkan secara tidak langsung masjid-masjid dapat berfungsi sebagamaina pesantren. Bayangkan saja kata Pak JK andaikan ceramah memiliki kurikulum yang jadi acuan para muballig untuk berimprovisasi, mungkin akan lahir kader kader islam yang terdidik dari mesjid layaknya dari perguruan tinggi.

Slamet Effendy Jusuf juga harus jujur dan objektif bahwa seruan penataan speaker mesjid bukan hanya datang dari DMI atau Pak JK sendiri, justeru upaya ini tidak henti hentinya disuarakan atau dipelopori ulama-aulama NU. Mari kita sesekali membuka situs situs resmi NU, semua juga menyerukan agar loudspeaker mesjid ditata. Bahhan Gus Dur sejak tahun 1982 sudah menulis di Tempo tentang pentingnya menata speaker mesjid agar tidak bising dan tumpang tindih. Aneh kalau Slamet Effendy Jusuf sendiri tidak melihat upaya tersebut justeru tumbuh dan diperjuangkan oleh kaum Nahdiyyin lingkungan di mana Slamet Effendy Jusuf dibesarkan. Upaya penataan loudspeaker ini pun punya landasan hukum, karena sejak tahun 1978 Dirjen Bimas Islam Depag telah mengeluarkan Instruksi Nomor KEP/D/101/1978 Tanggal 17 Juli 1978 Tentang Tuntunan Penggunaan Pengeras Suara di Mesjid, Langgar dan Mushalla. Artinya bukan barang baru di Indonesia dan memiliki dasar hukum.

Kalau Pak JK jangan lagi diragukan kecintaanya kepada mesjid termasuk untuk hal-hal kecil seperti loudspeaker. Di Indonesia ini belum pernah ada yang membangun menara mesjid untuk tempat loud speaker setinggi yang pernah dibuat Pak JK tahun 1994 silam yakni menara Mesjid Al Markaz yang tingginya mencapai 90 meter. Menara yang terinspirasi oleh menara Mesjid Nabawi di Medinah. Bahkan tidak banyak diketahui publik, jika setiap tahun Yayasan Kalla membagi bagikan ribuan speaker ke masjid-masjid dan mushallah agar kualitas soundnya bagus dan pembagian itu masih berlangsung sampai saat ini.

Tolikara

Soal pemicu insiden Tolikara, siapapun yang ditanya apa pemicu keributan di Tolikara pada saat kejadian, akan menyebut loudspeaker. Apakah dia Slamet Effendy Jusuf, Shodiq Mujahid atau Abdul Mu'ti, tentu akan percaya meyakini informasi aparatnya masing-masing di lapangan. Karena itulah laporan pertama dan tercepat yang diterima dari aparat terbawah di lapangan dan termasuk Kapolda Papua. Karena mereka yang dari Jakarta, belum satupun ke lokasi. Wartawan yang bertanya kepada Pak JK menyebutkan dalam pertanyaannya; bagaimana tanggapan Pak JK atas pernyataan Kapolda Papua bahwa pemicu keributan di Tolikara adalah suara loudspeaker? Lalu dijawab Pak JK, bahwa dirinya mendapat informasi jika loudspeaker. Kepada wartawan Pak JK menjelaskan selaku Wapres, itulah pentingnya untuk saling memahami dan menahan diri serta membuka dialog agar peristiwa seperti itu tidak terjadi. Dan Pak JK meminta agar penegakan hukum dalam penyelesaiannya di kedepankan.

Jakarta, 25/7/2015

Husain Abdullah
Jubir Wapres RI

8 komentar:

  1. oo jadi begitu pemahaman yang sebenarnya dari kontroversi ala JK itu teh ya kang...makanya kamu...hiyah...kamu...jangan keburu sibuk dulu atuh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, yang sebenarnya adalah seperti itu kang.

      Hapus
  2. perdebatan seperti ini ternyata masih ada ya...aku jadi pendengar aja..kadang kalau ngomong takut salah :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak malah yang mempermasalahkan hal ini. Semakin parah lagi ketika banyak ikut-ikutan marah dan menuangkan kekesalannya lewat komentar, seakan mereka paling mengerti.

      Hapus
  3. izin nyimak masa, lagi gaa fokus :)

    BalasHapus
  4. tapi mas, uda jadi angin topan tu potongan dari kata kata pak JK.
    pengen ngomong takut salah mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan angin topan lagi, tapi naik level dikit lagi jadi tornado. Banyak yang merasa pintar, tapi sayangnya termakan alias masih bisa tertipu sama kata-kata yang di buat media.

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...