Selasa, 14 Juli 2015

Pilih Aku, Atau Ibumu

Ilustrasi
Pagi-pagi sekali, Sarah mengetuk pintu rumah orang tuanya. Ia menggendong anaknya dan membawa satu tas besar di tangan kanannya. Dari matanya yang sembab dan merah, ibunya sudah tahu kalau Sarah pasti bertengkar lagi dengan Rafi suaminya.

Meski heran, karena biasanya Sarah hanya sebatas menelpon sambil menangis jika bertengkar dengan Rafi. Ayah Sarah yang juga keheranan, segera menghampiri dan menanyakan masalah yang di alami anaknya. Sarah pun mulai menceritakan awal pertengkarannya dengan Rafi semalam.

Dari ceritanya, jelas terlihat bahwa Sarah merasa kecewa karena Rafi yang telah membohonginya selama ini. Sarah menemukan buku rekening Rafi terjatuh di dalam mobil. Sarah baru tahu, Rafi selalu menarik sejumlah uang setiap bulan, di tanggal yang sama. Sementara Sarah tahu, uang yang Sarah terimapun sejumlah uang yang sama. Dalam benaknya muncul pikiran negatif, yakni "Berarti sudah 1 tahun lebih Rafi membagi uangnya, setengah untuk Sarah dan setengahnya lagi untuk yang lain. Jangan-jangan ada wanita lain?"

Ayah Sarah hanya menghela nafas, wajah bijaksananya tidak menampakkan rasa kaget atau pun marah. Sebagai seorang ayah yang bijaksana, segera ia mengingatkan dan masehati anaknya yang isinya kurang lebih sebagai berikut :

"Sarah..., yang pertama langkahmu datang kerumah ayah sudah dilaknat Allah dan para malaikat karena meninggalkan rumah tanpa izin suamimu". Mendengar kalimat ayahnya, sontak Sarah terlihat seperti orang yang kebingungan. Awalnya Sarah mengira akan mendapat dukungan dari ayahnya. Tapi kenyataannya yang terjadi malah di luar dugaan dan harapannya.

Nasehat ayahnya pun berlanjut.

"Yang kedua, mengenai uang suamimu kamu tidak berhak mengetahuinya. Hakmu hanyalah uang yang diberikan suamimu ke tanganmu. Itupun untuk kebutuhan rumah tangga. Jika kamu membelanjakan uang itu tanpa izin suamimu, meskipun itu untuk sedekah, itu tak boleh".

"Sarah.., Rafi menelfon ayah dan mengatakan bahwa sebenarnya uang itu memang di berikan setiap bulan untuk seorang wanita. Rafi tidak menceritakannya padamu, karena ia tahu bahwa kamu tidak suka wanita itu sejak lama. Kamu sudah mengenalnya dan kamu merasa setelah menikah dengan Rafi maka hanya kamulah wanita yang dimilikinya".

"Rafi meminta maaf kepada ayah karena ia hanya berusaha menghindari pertengkaran denganmu. Ayah mengerti karena sebagai orangtua (ayahmu) sudah mengenal watakmu" mata ayah mulai berkaca - kaca.

"Sarah..., kamu harus tahu, setelah kamu menikah maka yang wajib kamu taati adalah suamimu. Jika suamimu ridho padamu, maka Allah pun akan Ridho. Sedangkan suamimu, ia wajib taat kepada ibunya. Begitulah Allah mengatur laki - laki untuk taat kepada ibunya. Jangan sampai kamu, menjadi penghalang bakti suamimu kepada ibundanya".

"Suamimu, dan harta suamimu milik ibunya". Ayah Sarah mengatakan hal itu dengan menangis. Air matanya semakin banyak membasahi pipinya.

Seorang ibu, melahirkan anaknya dengan susah payah dan kesakitan. Kemudian ia membesarkannya hingga dewasa. Sampai anak laki-lakinya menikah, ia melepasnya begitu saja. Anak laki - laki itu akan sibuk dengan kehidupan barunya. Bekerja untuk keluarga barunya. Mengerahkan seluruh hidupnya untuk istri dan anak-anaknya.

Anak laki-laki itu hanya menyisakan sedikit waktu untuk sesekali berjumpa dengan ibunya. Satu bulan sekali, atau bahkan hanya 1 tahun sekali.

"Kamu yang sejak awal menikah tidak suka dengan ibu mertuamu. Kenapa? Karena rumahnya kecil dan sempit? Sehingga kamu merajuk kepada suamimu bahwa kamu tidak bisa tidur di sana. Anak-anakmu pun tidak akan betah di sana. Sarah.., mendengar ini ayah sakit sekali".

"Lalu, jika kamu saja merasa tidak nyaman tidur di sana. Bagaimana dengan ibu mertuamu yang dibiarkan saja untuk tinggal di sana?"

"Uang itu diberikan untuk ibunya. Rafi ingin ayahnya berhenti berkeliling menjual gorengan. Dari uang itu ibunda Rafi hanya memakainya secukupnya saja, selebihnya secara rutin dibagikan ke anak-anak yatim dan orang-orang tidak mampu dikampungnya. Bahkan masih cukup untuk menggaji seorang guru ngaji di kampung itu" lanjut ayah.

Sarah membatin dalam hatinya, uang yang diberikan Rafi sering dikeluhkannya kurang dengan alasan butuh banyak pakaian untuk mengantar jemput anaknya sekolah. Sarah juga sangat menjaga penampilannya untuk merawat wajah dan tubuhnya di SPA. Berjalan-jalan setiap minggu dan juga berkumpul sesekali dengan teman-temannya di restoran.

Bahkan ia menyesali sikapnya yang tak ingin dekat-dekat dengan mertuanya yang hanya seorang tukang gorengan. Tukang gorengan yang berhasil menjadikaan Rafi seorang sarjana, mendapatkan pekerjaan nyg di idamkan banyak orang. Berhasil mandiri, hingga Sarah bisa menempati rumah yang nyaman dan mobil yang bisa digunakan setiap hari.

"Ayaaah, maafkan Sarah", tangis sarah meledak. Ibunda Sarah yang sejak tadi duduk disamping Sarah segera memeluk Sarah.

"Sarah, kembalilah kerumah suamimu. Ia orang baik. Bantulah suamimu berbakti kepada orang tuanya. Bantu suamimu menggapai surganya dan dengan sendirinya, ketaatanmu kepada suamimu bisa menghantarkanmu ke surga". Ibunda sarah membisikkan kalimat itu ke telinga Sarah.

Sarah hanya menjawabnya dengan anggukan, ia menahan tangisnya. Batinnya sakit, menyesali sikapnya. Namun Sarah berjanji dalam hatinya, untuk menjadi istri yang taat pada suaminya.

Insyaa-a' Allah...

Makassar, 14 Juli 2015

Catatan :
*Cerita ini disadur dari sebuah status Facebook atas nama Dede Rusnandar yang isinya sedikit di modifikasi, mengingat bahasa yang digunakan kebanyakan di singkat*  

16 komentar:

  1. Ceritanya bagus dan sangat menyentuh hati ya gan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih untuk apresiasinya mas bro.

      Hapus
  2. Ceritanya bagus dan sangat menyentuh hati ya gan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dikit lagi dapat hadiah gelas plus piring cantik.

      Hapus
  3. cerita yang sangat bagus dan mendidik sekali kang.
    kang mau nanya nih kalo swami adalah haq ibunya. nah kalau yang ada tinggal bpknya. apakah "sarah boleh" berkata yang tertinggalkan cuman bpknya bukan ibunya. Jadi "sarah merasa lebih ha"
    Bner ga itu kang?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tetap salah, karena seperti kata Rasulullah Sallallahu Alaihi Wassalam setelah ibu, ibu, dan ibu, baru kemudian bapak yang harus di hormati.

      Hapus
  4. cerita ini mengingatkan saya, kadang saya juga seperti itu, suami itu masih milik ibunya ya walau kita sudah menikah dgn nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, masih milik ibunya. Bahkan Rasulullah pernah mengatakan hal ini, malah yang paling banyak adalah ibu (3x) baru kemudian ayah/bapak.

      Hapus
  5. terima kasih sudah diingatkan ya pak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama Mbak. Sudah menjadi kewajiban sebagai sesama untuk saling mengingatkan.

      Hapus
  6. mendingan pilih ibumu ajah dik....ngapain pilih dia...masih banyak yang lebih ganteng kok dik...saya misalnya..hehe

    Kami sekeluarga mengucapkan kepada kakak Admin dan segenap kru plus blogger yang lewat kemarih, pada:
    SELAMAT IDUL FITRI, TAQOBBAL ALLAHU MINNA WA MINKUM

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selalu, orangtua harus menjadi pilihan utama baru kemudian yang lain.
      Jiah... yang ganteng lagi lewat.

      Selamat Idul Fitri juga, Mohon Maaf Lahir dan Bathin.

      Hapus
  7. iya laki-laki yang sudah menikah itu tanggungannya banyak, ibu, istri, saudara perempuan, dan anak perempuan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju, tanggungjawab seorang lelaki malah bertambah ketika menikah.

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...