Senin, 27 Juli 2015

Filosofi Secangkir Kopi

Ilustrasi
Sekelompok alumni satu universitas yang telah mapan dalam karir masing-masing berkumpul dan mendatangi professor kampus mereka yang telah tua. Percakapan segera terjadi dan mengarah pada komplain tentang stress di pekerjaan dan kehidupan mereka.

Menawari tamu-tamunya kopi, professor pergi ke dapur dan kembali dengan poci besar berisi kopi dan cangkir berbagai jenis dari porselin, plastik, gelas, kristal, gelas biasa, beberapa diantara gelas mahal dan beberapa lainnya sangat indah dan mengatakan pada para mantan mahasiswanya untuk menuang sendiri kopinya.

Setelah semua mahasiswanya mendapat secangkir kopi di tangan, professor itu mengatakan : “Jika kalian perhatikan, semua cangkir yang indah dan mahal telah diambil, yang tertinggal hanyalah gelas biasa dan yang murah saja. Meskipun normal bagi kalian untuk mengingini hanya yang terbaik bagi diri kalian, tapi sebenarnya itulah yang menjadi sumber masalah dan stress yang kalian alami.”

“Pastikan bahwa cangkir itu sendiri tidak mempengaruhi kualitas kopi. Dalam banyak kasus, itu hanya lebih mahal dan dalam beberapa kasus bahkan menyembunyikan apa yang kita minum. Apa yang kalian inginkan sebenarnya adalah kopi, bukanlah cangkirnya, namun kalian secara sadar mengambil cangkir terbaik dan kemudian mulai memperhatikan cangkir orang lain.”

“Sekarang perhatikan hal ini : Kehidupan bagai kopi, sedangkan pekerjaan, uang dan posisi dalam masyarakat adalah cangkirnya. Cangkir bagaikan alat untuk memegang dan mengisi kehidupan. Jenis cangkir yang kita miliki tidak mendefinisikan atau juga mengganti kualitas kehidupan yang kita hidupi. Seringkali, karena berkonsentrasi hanya pada cangkir, kita gagal untuk menikmati kopi yang Tuhan sediakan bagi kita.”

Tuhan memasak dan membuat kopi, bukan cangkirnya. Jadi nikmatilah kopinya, jangan cangkirnya.

Sadarilah jika kehidupan anda itu lebih penting dibanding pekerjaan anda. Jika pekerjaan anda membatasi diri anda dan mengendalikan hidup anda, anda menjadi orang yang mudah diserang dan rapuh akibat perubahan keadaan. Pekerjaan akan datang dan pergi, namun itu seharusnya tidak merubah diri anda sebagai manusia. Pastikan anda membuat tabungan kesuksesan dalam kehidupan selain dari pekerjaan anda.

Semoga cerita kecil dan filosofi secangkir kopi ini bisa dijadikan pengingat bagi kita semua dalam menjalani kehidupan. Semoga bermanfaat.

Makassar, 27 Juli 2015 

22 komentar:

  1. kalau aku di ganti aja filosifo teh ya :)

    BalasHapus
  2. kalau aku diganti filosofi susu --"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silahkan di sesuaikan dengan kesukaannya.

      Hapus
  3. Kemasan yang baik dipilih lebih dulu ya mas. Bukan isinya.
    Saya pernah tulis soal Kopi juga di sini:

    http://catatanpikiranrandom.blogspot.com/2011/08/cappuccino-kehidupan.html

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau soal rasa memang harus pilih dulu kopinya. Tapi sebagai perumpamaan untuk dijadikan pijakan dalam menjalani kehidupan, soal rasa belakangan karena rasanya tetap rasa kopi dan gelas yang mahal pun gak mampun mengubah rasa kopi yang di minum.

      Hapus
  4. jadi pengen nonton filmnya deh :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Filmnya kan judulnya "Filosofi Kopi".

      Hapus
  5. Analogi kehidupannya sangat menginspirasi... seperti filosofi ruang... "...yang penting bukanlah wadah yang melingkupinya, tetapi volume yg dilingkupinyalah yang lebih utama..." salam arsitektur...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar, kurang lebih seperti itu maksud yang ingin ditunjukkan.

      Hapus
  6. Analogi kehidupannya sangat menginspirasi... seperti filosofi ruang... "...yang penting bukanlah wadah yang melingkupinya, tetapi volume yg dilingkupinyalah yang lebih utama..." salam arsitektur...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe... setuju mas. Salam Arsitektur Makassar

      Hapus
  7. artikel yg menarik. mengetuk orang yg larut oleh duniawi. :)

    BalasHapus
  8. filosopi secangkir teh bohay dah haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe... boleh-boleh, diganti sesuai selera juga gak apa-apa.

      Hapus
  9. keren mas filosofinya.. jadi intinya, harus menikmati hidup yaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih untuk apresiasinya. Ya intinya bisa seperti itu, artinya jangan terlalu juga ikut terbawa suasana sekitar kemudian melupakan kenyataan yang sebenarnya.

      Hapus
  10. aku tertohok, selama ini yang ada hanya mementingkan cangkir dan mencoba menanyakan takdir Tuhan yang tak adil tentang cangkir ini, namun kini saatnya menjadikan kopi biasa menjadi suatu kopi yang harum dan nikmat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju, sudah saatnya untuk melakukan sesuatu sesuai dengan kondisi yang ada dihadapan kita. Bermimpi boleh aja lebih tinggi, tapi jangan sampai lupa diri.

      Hapus
  11. Kopi ada kafeiinya. Ga baik buat mata heheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang penting gak minum kopi tiap. Kalau pun minum jangan berlebihan, sehari batasnya dua cangkir saja. Itu yang saya tahu dan infonya langsungn dari salah satu direktur di kementerian kesehatan, yang kebetulan juga program doktornya meneliti pecandu kopi dan menghubungkannya dengan kesehatan.

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...