Sabtu, 09 Mei 2015

Peran Ibu Dalam Menyiapkan Pemimpin Masa Depan

Generasi cerdas dan kuat serta bermoral baik harus lahir di bumi pertiwi untuk menepis kekhawatiran akan masa depan bangsa dan negara Indonesia. Generasi ideal seperti itulah yang akan mampu mengelola negara beserta sumber daya alamnya dan memimpin rakyat Indonesia yang majemuk serta menjadikan Indonesia sebagai negara adidaya dunia yang disegani.

Untuk melahirkan generasi ideal, maka sejak sekarang kita perlu mengupayakan peletakan pondasi ideal bagi anak sehingga nantinya anak-anak Indonesia (tanpa kecuali) menjadi manusia sehat dan kuat secara jasmani, cerdas dan kuat dalam berpikir, memiliki budi pekerti serta mental yang baik dan kuat.

Oleh karena itu, untuk mewujudkan generasi penerus bangsa perlu dilakukan pendidikan sejak usia dini agar melahirkan pemimpin-pemimpin masa depan handal di segala aspek. Maka dari itu, semua elemen bangsa harus dilibatkan dalam menyiapkan pemimpin masa depan. Salah satunya adalah dengan melibatkan orangtua calon pemimpin masa depan dan lebih khususnya dalam hal ini adalah melibatkan sang ibu.

Mengapa harus sang ibu? Karena sebagaimana kita ketahui bahwa sejak dari dalam kandungan, sadar atau tidak sang calon pemimpin masa depan yang dikandung oleh sang ibu secara alamiah sudah ada ikatan yang kuat dengan sang bunda. Maka dari itu, peran Sang Bunda sangat diperlukan sebab segala tingkah laku Sang Ibu baik atau buruk akan berpengaruh pada pertumbuhan Sang anak mulai dalam kandungan sampai dewasa nanti.

Di zaman modern ini, masih banyak orangtua yang berpikir bahwa membahagiakan anak adalah dengan menuruti semua kemauan serta perintah sang anak. Padahal, menurut saya hal ini akan berakibat fatal di masa yang akan datang karena hal tersebut akan menjadi bumerang bagi sang anak. Bagaimana pun keadaan kita, kedisiplinan perlu diterapkan pada sang anak walaupun dalam pelaksanaannya banyak anak tidak senang dengan kedisiplinan yang diterapkan oleh orangtuanya. Tetapi inilah proses agar sang anak kelak menjadi mandiri, bertanggung jawab dan bisa menjadi pemimpin masa depan seperti yang diharapkan.

Selain menerapkan disiplin pada sang anak, orangtua juga harus bisa menjadi yang baik kepada sang anak. Dengan menunjukkan sikap teladan kepada sang anak, hal tersebut tidak hanya berguna saat sang anak masih kecil tetapi akan bermanfaat juga saat mereka dewasa nanti.

Tidak bisa di pungkiri bahwa menjadi teladan yang baik bagi anak tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Tetapi bila perilaku positif sudah jamak dilakukan dalam kehidupan keseharian maka teladan bisa diberikan bahkan tanpa perlu bersusah payah. Orang tua dapat memberi contoh kepada anak bagaimana berperilaku yang baik seperti tidak suka berbohong, bersifat adil, mencintai sesama, tekun belajar, berdisiplin dan lain lain.

Dalam proses pendisiplinan, hindari menggunakan kekerasan, baik lewat tindakan fisik seperti memukul atau mencubit, atau pun memarahi dengan kata-kata kasar. Berikut ini beberapa tahapan-tahapan yang perlu dilakukan oleh orangtua dalam menerapkan kedisiplinan terhadap anak.

Memahami Anak

Kita semua tahu bahwa karakter atau kepribadian anak merupakan hasil perkawinan dari kedua orangtua. Dalam hal ini, pembawaan genetis anak adalah warisan dari orangtuanya. Untuk itu dalam mendidik dan membangun karakter anak, kita harus memahami, melakukan pendekatan yang bersifat personal dan mempertimbangkan kepribadian dasarnya. Dengan demikian, sang anak akan merasa dirinya diterima dan dimengerti serta akan mampu mengembangkan dirinya dengan baik.

Mulailah Dengan Hal-Hal Yang Mudah

Dalam menerapkan kedisiplinan kepada anak, orangtua harus menyesuaikan dengan perkembangan usia sang anak. Contoh hal-hal mudah yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari seperti mengatur waktu makan, kapan waktu belajar, bermain, istirahat dan lain sebagainya.

Jangan Terbiasa Menerapkan Kata “Tidak” dan Memukul Anak

Sebagai orangtua tentu mengharapkan anak yang santun, berakhlak mulia, cerdas dan lain sebagainya. Hal itu akan tercapai apabila orangtua dalam mendidik anak harus berhati-hati dan lebih teliti, salah satunya dalam tutur kata. Sadar atau tidak banyak orangtua dengan gampangnya mengatakan “tidak” untuk apa pun dengan yang anak lakukan saat masih balita. Akibatnya, hal tersebut akan membuat sang anak berpikir bahwa apa pun yang akan dilakukannya tidak akan pernah disetujui. Dan hal ini terbawa-bawa mulai dari balita sampai dewasa kelak. Untuk itu, biarkanlah anak anda melakukan apa yang mereka sukai asal tidak berbahaya dan tuntunlah ke arah yang lebih baik saat melakukan hal yang tidak di inginkan.

Selain itu, saat anak anda melakukan kesalahan, janganlah anda langsung menghukum sang anak dengan memukulnya. Jika anda terbiasa memukul sang anak, hal tersebut akan membuat sang anak takut kepada anda dan bukan tidak mungkin saat dewasa kelak akan memberontak serta melawan. Maka dari itu usahakanlah menegur, menasihati dan jika menghukumnya, berikanlah hukuman yang positif, yang kreatif dan bisa membuat kepribadian anak menjadi lebih baik.

Tetap Konsisten

Bereaksilah terhadap semua situasi dengan cara yang sama sehingga sang anak akan bertindak sesuai dengan hal tersebut. Mereka mungkin akan bingung, jika Anda tidak konsisten dan bertindak berbeda dalam setiap situasi.

Beritahu Konsekuensinya

Jangan hanya melarang atau mengatur anak, tetapi jelaskan pada mereka konsekuensinya jika melakukan hal tersebut. Anak juga perlu diajari memahami konsekuensi jika mereka tidak menaati aturan. Konsekuensi ditujukan untuk meningkatkan kesadaran.

Beri dorongan

Bila anak berperilaku positif dan disiplin, berikan penghargaan. Bisa berupa pujian, pelukan, atau mengijinkan anak melakukan aktivitas yang disukainya. Misalnya jika ia sudah mengerjakan PR-nya baru anak boleh menonton acara kartun kesukaannya.

Makassar, 09 Mei 2015

Catatan :
*Artikel yang saya tuliskan ini merupakan hasil pengalaman dan pengamatan saya sebagai sang anak*  

16 komentar:

  1. cukup bermanfaa infonya mas, :). nanti kalau udah berkeluarga dan anak. cocok ni saran dari mas timur

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe... bisa aja nih mas Fajar. Hanya sekadar menuangkan beban dalam kepala aja mas mengenai kehidupan berumah tangga yang saya amati selama ini.

      Hapus
  2. Saya masih terkadang gemes nyubit anak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha... kasian anaknya di cubit mulu sama maknya.

      Hapus
  3. Bismillah, semoga saya menjadi ibu yang baik buat anak-anak dan dijauhkan dari hal mencubit atau memukul.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin... Insya Allah do'anya akan di ijabah oleh Yang Maha Kuasa.

      Hapus
  4. saya sendiri mempunya watak yang lebih condong ke ibu. karena dari kecil ditinggal merantau oleh ayah, anyway peran ibu dalam mendidik anak2 tentu saja paling dominan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berarti lebih dekat ke ibunya ya. Seharusnya mang seperti itu mas, ibu harus lebih dominan. Tapi ayah juga tak boleh ketinggalan dalam mendidik anak-anak.

      Hapus
  5. tugas Ibu emang berat ya, semoga aku bisa jadi Ibu terbaik untuk anak-anakku ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berat bangad ternyata. Tapi selama dilakukan dengan ikhlas, Insya Allah semuanya menjadi terasa ringan.

      Amiiin.... Insya Allah do'anya pasti di kabulkan.

      Hapus
  6. Bener banget ni....tugas ibu memang menyiapkan generasi penerus.......dimulai sejak dini dan dilingkungan terkecil yaitu keluarga, makasih atas pencerahannya mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama mas Daniel Nagata.
      Alhamdulillah kalau bisa memberikan manfaat apa yang saya tuliskan, hanya ingin berbagi saja kepada sesama.

      Hapus
  7. Peran seorang ibu emang besar banget pengaruhnya ya.. :D

    BalasHapus
  8. pengamatan yang baik mas, hehe.. Tentunya peran ibu sangat besar sekali terhadap anaknya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mas Aldi untuk apresiasinya.

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...