Minggu, 31 Mei 2015

Nurdin Abdullah, Sang Pembawa Perubahan di Tanah Bantaeng

Nurdin Abdullah, Sang Pembawa Perubahan di Tanah Bantaeng
Saya, Teman-Teman Kompasianer, dan Bupati Bantaeng, Dok. Ambae
Di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, terdapat seorang sosok yang begitu mengagumkan. Seorang sosok yang berhasil mengubah wajah kabupaten yang dulunya tertinggal menjadi indah, rapi, bersih, hijau dan nyaman serta semakin maju. Semenjak ia di percaya untuk menjadi pemimpin, wajah Bantaeng secara perlahan-lahan berubah menjadi lebih baik. Berkat ilmu pengetahuan dan pengalamannya, ia mendedikasikan hari-harinya untuk mengubah Bantaeng menjadi lebih indah dan nyaman.

Sabtu, 30 Mei 2015

Cara Mengatasi Mabuk Perjalanan

Cara Mengatasi Mabuk Perjalanan
Cara Mengatasi Mabuk Perjalanan

Gak terasa, bulan ramadhan gak lama lagi akan datang menyapa kita semua. Biasanya, kita semua (umat muslim) menyambut bulan nan suci ini dengan wajah yang berseri-seri dan penuh suka cita. Bahkan berbagai ritual pun di lakukan sebagai sambutan untuk bulan yang suci ini, di mana penuh pengampunan serta pahala.

Jumat, 29 Mei 2015

Wakaf Untuk Ibu Tercinta

Ilustrasi
Ibu adalah orang yang paling berjasa bagi manusia di dunia ini. Darahnya telah menjadi sumber kehidupan di awal kehidupan kita, bahkan saat masih lemah tak berdaya. Kita semua pernah membebaninya selama 9 bulan lebih, mengambil nutrisi darinya untuk kehidupan kita. Lalu selama dua tahun beliau menyusui kita dengan sepenuh cinta. Ibu juga terus berada di sisi kita, temani perjalanan kehidupan kita sejak bayi, remaja bahkan hingga dewasa.

Kasih sayang Ibu terus mengalir dalam setiap doanya dan rasa khawatirnya tentang keadaan kita. Sepanjang hayat kasihnya itu tak kan terbalas dengan apa pun jua. Di setiap darah yang mengalir di tubuh kita saat ini, di setiap aktivitas yang kita lakukan kini, di dalamnya ada jasa Ibu.

Pernahkah terpikir untuk membalas jasa Ibu dengan balasan maksimal yang bisa kita berikan? Mengalirkan pahala untuknya sebagaimana beliau alirkan cinta dan kasihnya kepada kita sepanjang hayat.

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa beliau berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah Saw dan berkata, 'Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.'” (HR. Bukhari)

Kemudian Rasulullah Saw juga pernah bersabda dalam hadist, dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi Muhammad s.a.w bersabda: "Apabila seorang anak Adam mati putuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, atau ilmu yang memberi manfaat kepada orang lain atau anak yang soleh yang berdoa untuk kedua orangtuanya." (Hadits Sahih - Riwayat Muslim dan lain-lainnya)

Sedekah Jariyah dalam hadits tersebut kita biasa menyebutnya dengan WAKAF, yakni menyedekahkan harta untuk kepentingan umat. Harta wakaf tidak boleh berkurang nilainya, tidak boleh dijual dan tidak boleh diwariskan. Setiap aset wakaf yang dimanfaatkan untuk kepentingan umat akan mengalirkan pahala kepada mufakif (orang yang berwakaf) secara terus menerus selama manfaatnya masih dirasakan oleh umat.

Coba bayangkan! Jika harta Wakaf tersebut atas nama Ibu kita dan bermanfaat serta untuk kepentingan umat, maka wakaf tersebut Insya Allah akan mengalirkan pahala terus menerus kepada beliau.
Di saat Ibu menjalani usia senja, bukan sekadar rumah yang nyaman dan tenang yang beliau butuhkan, melainkan sebuah lahan pahala yang akan menjadi bekalnya kelak bertemu dengan Sang Khalik. Bahkan selama aset wakaf atas nama ibu masih terus bermanfaat bagi umat setelah beliau wafat, pahala itu akan terus mengalir mengangkat derajatnya.
 
Wakaf untuk Ibu tercinta adalah sebuah upaya terbaik membalas kebaikannya sekaligus sebagai ungkapan bakti dan cinta terbaik kita kepadanya.

Makassar, 29 Mei 2015

Catatan :
*Di sadur dari status yang ditulis oleh Dompet Dhuafa. Kembali saya tuliskan ke dalam blog pribadi saya sebagai bentuk bantuan, di mana mereka berharap artikel ini di share*  

Rabu, 27 Mei 2015

Tak Hanya Membuat Bahagia, Menulis Juga Dapat Membantu Orang Lain

Menulis Juga Dapat Membantu Orang Lain
Menulis Juga Dapat Membantu Orang Lain

Kebahagiaan adalah suatu hal yang semua orang dambakan. Ke mana pun dan di mana pun kita berada, jika bertanya pada orang kita temui pasti menginginkan hidup bahagia. Bahkan kebahagiaan selalu dijadikan tujuan hidup semua seseorang, tanpa memandang profesi yang dimiliki setiap orang. Begitu pula yang dirasakan seorang blogger.

Selasa, 26 Mei 2015

Sedekah

Ilustrasi
Bulan ramadhan, bulan yang penuh kemenangan. Bulan yang selalu dinanti kaum muslimin di seluruh dunia. Kedatangan bulan ramadhan setiap tahunnya yang tiada henti menjadi penghibur hati umat muslimin. Bagaimana tidak, bulan ini merupakan bulan yang istimewa dalam kalender umat muslimin. Banyak keutamaan ditawarkan pada bulan ini. Pahala di obral, semua amal shalih dilipat gandakan, baik wajib maupun sunnah, dan ampunan Allah bertebaran memenuhi setiap ruang waktu.
 
Sebagai seorang muslim, pasti tidak ingin semua terlewatkan begitu saja. Mengapa? Karena bulan ini hanya ada sekali dalam setahun. Di bulan ini begitu banyak berkah yang diberikan oleh Allah SWT, baik itu diberikan secara langsung maupun tidak langsung. Berkah yang secara langsung dapat kita liat setiap hari, seperti para pedagang dadakan yang selalu laris manis dagangannya diserbu para pemburu makanan atau istilah kerennya pemburu takjil.

Sedangkan berkah yang tidak bisa kita rasakan secara langsung adalah pahala dari Allah SWT. Berbicara mengenai berkah yang satu ini, tentu dapat kita lakukan lewat banyak cara seperti shalat, puasa, membaca ayat suci Al Quran dan masih banyak lagi.

Terus…. kalau puasa, sudah! Shalat wajib maupun sunnah, sudah! Membaca ayat suci Al Quran pun, sudah juga! Lantas, ibadah apalagi yang harus dilakukan di bulan Ramadhan? Nah….. salah satu pintu yang dibuka oleh Allah SWT untuk meraih keuntungan besar selama ramadhan adalah melalui sedekah. Islam menganjurkan umatnya untuk bersedekah dan amalan ini lebih dianjurkan lagi saat ramadhan tiba.

Rasulullah SAW sudah mencontohkan kepada kita semua sebagai umatnya untuk menjadi orang yang dermawan dan banyak memberi. Sebagaimana sabda Nabi SAW “Tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah. Tangan yang di atas adalah orang yang memberi dan tangan yang di bawah adalah orang yang meminta.” (HR. Bukhari)

Sedekah yang dianjurkan dalam bulan ramadhan adalah memperbanyak infaq, memberi bantuan kepada fakir miskin dan orang yang membutuhkan, memberikan santunan kepada anak yatim, memberi sedekah kepada orang-orang yang berbuka. Semua ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW “Seutama-utamanya sedekah adalah di bulan ramadhan.” (HR. Tirmidzi)

Sedekah merupakan sunnatullah bak air mengalir dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah, sehingga bila diabaikan maka air tersebut akan terbendung dan bisa menyebabkan bencana seperti banjir. Jadi dengan bersedekah akan membuat kita terhindar dari bencana dalam bentuk apa pun.

Bagi yang masih berpikir bahwa bersedekah akan membuatnya hartanya berkurang, Rasulullah SAW dalam sabdanya mengatakan : “Sedekah itu tidak akan mengurangi harta Allah SWT, melainkan akan menambah kemuliaan kepada hamba-hamba-Nya yang pemaaf. Dan bagi hamba yang tawadhu karena Allah Swt. akan mengangkat (derajatnya).” (HR. Muslim)

Sedekah tak selamanya harus membayar dengan uang alias duit. Ketahuilah bahwa setiap persendian tubuh kita juga memerlukan sedekah. Rasulullah SAW berpesan dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. yang artinya, Setiap persendian manusia diwajibkan untuk bersedekah setiap harinya mulai matahari terbit. Memisahkan [menyelesaikan perkara] antara dua orang [yang berselisih] adalah sedekah. Menolong seseorang naik ke atas kendaraannya atau mengangkat barang-barangnya ke atas kendaraannya adalah sedekah. Berkata yang baik juga termasuk sedekah. Begitu pula setiap langkah berjalan untuk menunaikan sholat adalah sedekah. Serta menyingkirkan suatu rintangan dari jalan adalah sedekah” [HR.Bukhari dan Muslim].

Amalan kebaikan yang dilakukan seorang muslim baik di bulan ramadan atau di bulan lainnya juga termasuk sedekah. Seperti konsep sedekah Nabi Muhammad SAW, Setiap amal yang baik adalah sedekah bahkan beliau bersabda tersenyum kepada saudaramu adalah sedekah. Jadi, patutlah kita untuk bersedekah tanpa harus memikirkan punya banyak duit dahulu. Apalagi di bulan ramadan, bulan yang penuh berkah dan segala amalan kebaikan yang kita lakukan akan di lipat gandakan pahalanya.

Akhir kata, semoga goresan yang sedikit ini bisa menjadi pengingat, khususnya bagi saya pribadi dan keluarga. Sedangkan di sisi lain, semoga meninggalkan bekas dan menjadi pengingat bagi kaum muslim di mana saja berada. Yuk, bersedekah agar harta yang di amanahkan Allah menjadi berkah.

Makassar, 26 Mei 2015

Senin, 25 Mei 2015

Sensasi Menyeruput Secangkir Kopi Di Atas Kapal

Sensasi Menyeruput Secangkir Kopi Di Atas Kapal
Sensasi Menyeruput Secangkir Kopi Di Atas Kapal
Kopi adalah salah satu minuman favorit yang sering di konsumsi oleh penduduk dunia, termasuk Indonesia. Bahkan bagi penikmat kopi, akan terasa kurang jika tidak menikmati secangkir kopi setiap harinya. Lebih-lebih lagi menjelang pagi hari, di mana bagi mereka sudah di anggap sebagai suatu keharusan alias fardhu ain. Seakan sudah menjadi sebuah tradisi atau ritual yang tak boleh di tinggalkan.

Sabtu, 23 Mei 2015

Di Gedung Bank Indonesia Mimpi Itu Akhirnya Terwujud

Duh, rasanya pagi ini seperti tinggal di desa terpencil. Padahal ini kan salah kota besar di Indonesia loh. Kok bisa ya, tiba-tiba saja berubah mendadak sepi. Rasanya gak seperti hari-hari sebelumnya yang selalu ramai, di mana warga sekitar setiap pagi sudah bersiap-siap untuk menjalani hari dengan berbagai aktivitasnya masing-masing. Dalam keadaan yang masih setengah sadar karena roh alias nyawa belum terkumpul sepenuhnya, aku pun bertanya dalam hati. Apakah gerangan yang terjadi dengan hari ini?

Sambil bertanya-tanya dalam hati, aku pun bangkit dari kasur empuk yang masih saja berusaha sekuat tenaga menggodaku untuk kembali ke dalam pangkuannya. Namun godaan tersebut aku tepis dan segera bangkit menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Setelah cuci muka dan nyawa hampir terisi penuh, aku baru sadar kalau hari ini adalah hari libur alias weekend lagi. Hhhmmm... benar-benar anak rantau yang gak bisa di andalkan plus masuk kategori payah dan sudah mendekati minta ampun.

Saat nyawa udah terkumpul semua dan sudah 100% persen sadar, segera saja aku menuju halaman depan rumah untuk melakukan sedikit pemanasan dan olahraga. Sesuai kebiasaanku, di mana untuk pemanasan aku melakukan gerakan-gerakan ringan seperti senam atau semacamnya dengan maksud untuk meregangkan otot-otot yang masih kaku. Sedangkan untuk olahraga, karena hari ini tidak jadi lari pagi maka sebagai gantinya aku melakukan push up, loncat-loncat, dan pull up alias bergelantungan (untung saja gak sambil makan pisang).

Oh iya, seperti yang aku katakan di awal memulai tulisan ini, yakni rasanya bagaikan tinggal di daerah terpencil. Pasti ada yang bertanya-tanya dan penasaran kan! Aku mengatakan demikian karena suasana pagi ini begitu menggambarkan suasana pedesaan yang kita semua tahu seperti apa. Kurang lebih seperti itulah suasananya, di mana jauh dari hiruk pikuk kendaraan, udara yang segar dan disambut dengan cuaca yang cerah ceria plus pemandangan pagi yang tak kalah indahnya. Sungguh anugerah yang patut di syukuri dan sayang kalau di biarkan lewat begitu saja.

Ketika sedang asyik-asyiknya menikmati suasana itu, aku baru teringat pada salah satu acara yang kebetulan lokasinya sama dengan daerah aku tinggal saat ini serta diselenggarakan di hari yang sama dengan hari ini, yakni Sabtu 23 Mei 2015. Sebuah acara yang menurut saya sayang bila terlewatkan begitu saja. Tak hanya itu saja, acara ini terbilang penting karena menyangkut masalah perekonomian sebuah negara. Di mana narasumbernya adalah orang-orang yang kompeten, berpengalaman serta mendedikasikan dirinya untuk kemajuan bangsa.
Moderator (Mas Nurulloh) dan Tiga Narasumber, Dok. Hajrah Dwi Anjani
Acara ini juga di sponsori oleh instansi yang sama, yakni Bank Indonesia yang bekerja sama dengan Kompasiana. Sebagai warga Kompasiana, saya sangat senang dengan diselenggarakannya acara ini. Apalagi ini merupakan acara yang ke-4 yang diselenggarakan oleh Kompasiana di kota Makassar dalam kurun waktu dua bulan terakhir ini. Perasaan senang itu semakin meningkat lagi karena saya pasti akan bertemu lagi dengan salah satu admin Kompasiana.

Singkat cerita, karena tidak ingin ketinggalan acara, saya segera bergegas menuju lokasi. Bahkan saking tidak mau ketinggalan, saya berangkat 45 menit sebelum acara di mulai. Jaraknya sih gak jauh-jauh amat karena bisa di tempuh dengan waktu 15-20 menit jika menggunakan kendaraan pribadi. Apalagi momennya pas bangad, yakni bertepatan dengan weekend, di mana kendaraan yang lalu lalang tak seramai hari senin-jum'at.

Sesampainya di lokasi, saya pun segera bertanya ke satpam mengenai perihal berlangsungnya acara. Dalam hal ini di ruangan mana dan lantai berapa? Karena ini merupakan yang pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Gedung Bank Indonesia wilayah Makassar. Usai bertanya dan benar-benar paham dengan penjelasan satpam, saya pun dengan segera bergegas menuju tempat yang di maksud.
Ternyata... untuk sampai di ruangan yang di maksud harus melewati beberapa pengamanan plus pintu metal detektor. Untung saja barang-barang yang berhubungan dengan dunia Arsitektur, seperti cutter gak ada di dalam tas, sehingga saya bisa melenggang masuk dengan santai tanpa rasa was-was akan di tahan oleh penjaga yang berada di dalam gedung.

Untuk mempersingkat waktu dan berhubung acaranya berada di lantai 4, saya pun memilih menggunakan lift sebagai alternatif. Saat sampai di lantai 4, saya segera menuju meja registrasi yang dijaga oleh seorang wanita cantik (sayang lupa di potret). Di meja itu ternyata terdapat 3 pilihan untuk registrasi, yakni untuk Kompasianer, Mahasiswa dan Komunitas juga (lupa namanya). Walaupun saya masih mahasiswa, tapi saat mendaftar menggunakan akun Kompasiana sehingga registrasinya harus di berita acara milik Kompasiana.
Peserta Nangkring GNNT Bareng Kompasiana & BI, Sumber Foto : Twitter BI
Bahkan yang mengejutkan dan sedikit membanggakan disertai sedikit senyuman, yakni saya di kira seorang dosen muda oleh si penjaganya . Ini dikarenakan mereka yang telah dulu datang sebelum saya rata-rata yang sudah memiliki karir, seperti bekerja di sebuah perusahaan, wartawan, dan dosen. Setelah melakukan registrasi, saya segera menuju ruangan dan ternyata di dalam sudah banyak yang hadir. Sambil menunggu acara dimulai, saya menyempatkan diri untuk menyeruput secangkir kopi yang telah disediakan oleh pihak Bank Indonesia sebagai hidangan pembuka dan kebetulan juga saya gak sempat sarapan. Hehehe...

Saya & Kang Pepih Nugraha (CEO Kompasiana), Dok. Pri
Ketika sedang asyik menyeruput secangkir kopi, tak sengaja melihat seorang sosok yang saya idolakan dalam dunia kepenulisan. Seorang sosok yang dalam kesehariannya selain sebagai penulis, juga merupakan seorang wartawan senior sekaligus CEO Kompasiana. Bagi saya, apa yang saya lihat sungguh merupakan berkah yang tak disangka-sangka. Mengapa? Karena dua hari sebelum acara ini, saya sempat mengomentari statusnya di facebook dan berharap bisa bertemu di acara nangkring tanggal 23 Mei yang di adakan di Makassar.

Siapa sangka, mimpi itu akhirnya terwujud juga di acara nangkring Gerakan Nasional Non Tunai bersama Kompasiana dan Bank Indonesia yang di selenggarakan di Gedung Bank Indonesia wilayah Makassar.

Kesempatan langka ini pun tidak saya sia-siakan, al hasil secangkir kopi yang sebelumnya saya seruput segera saya tinggalkan di atas meja dan bergegas menuju sang idola. Sebagai warga Kompasiana, tak lupa saya memperkenalkan diri sebelum ngobrol singkat dengannya karena sepertinya acara tak lama lagi akan di mulai.

Namun obrolan tak berhenti sampai di situ saja, karena saya masih sempat melanjutkan obrolan setelah acara selesai yang dilanjutkan dengan mengabadikan momen langka saat sedang bersamanya. Dari obrolan singkat itu, satu hal yang saya kagumi, yakni orangnya cerdas, ramah, rendah hati, suka bercanda dan tak sungkan untuk membagikan ilmunya kepada siapa pun.

Makassar, 23 Mei 2015

Catatan :
*Artikel ini saya tulis setelah pulang dari acara nangkring GNNT, lebihnya tepatnya selesai shalat ashar dan baru bisa di posting karena sesuatu hal yang tak bisa di tinggalkan*

Jumat, 22 Mei 2015

Cantik Itu Berani Memutuskan Sesuatu Dengan Tulus dan Ikhlas

Cantik Itu Ialah Berani Memutuskan Pilihan Dengan Tulus
Cantik Itu Ialah Berani Memutuskan Pilihan Dengan Tulus
Banyak orang menilai segala sesuatunya melalui tampang yang dilihatnya, misalnya mengatakan cantik pada seorang wanita hanya karena baru melihat wajahnya. Padahal tak selamanya yang terlihat baik dari luar akan baik juga di dalamnya. Sedangkan kecantikan yang sesungguhnya adalah terpancar dari lubuk hati yang paling dalam. Itu menurut saya pribadi, entah bagaimana dengan penilaian orang lain.

Kamis, 21 Mei 2015

Petasan, Antara Tradisi dan Kebiasaan Yang Susah di Hilangkan

Asyik... Sebentar lagi umat muslim di seluruh dunia akan kedatangan bulan yang bertabur kebaikan, keberkahan dan penuh pahala. Salah satu bulan yang dikenal penuh dengan pengampunan dan sangat disayangkan jika dilewatkan begitu saja tanpa melakukan apa-apa. Bahkan bagi mereka yang memiliki iman yang kuat, mengharapkan bulan ini ada terus sepanjang tahun. Kehadirannya selalu membawa kebahagiaan dan ketika akan berlalu kerinduan pun ikut menyertainya. Apalagi kalau bukan bulan ramadhan atau bisa kita sebut bulan puasa.

Bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah; berkah bagi penjual es, berkah bagi penjual pakaian, hingga berkah bagi penjual petasan. Di seantero negeri dengan berbagai ritualnya merayakan bulan suci ini. Umat Islam berlomba-lomba untuk mendapatkan kemenangan, baik pada Idul Fitri maupun nanti di hari kebangkitan.

Seperti halnya ibadah lainnya sebelum ramadhan tiba, kenyamanan beribadah pun sangat diperlukan. Namun, entah mengapa hal ini seakan sulit sekali terpenuhi jika bulan ramadhan tiba. Selalu saja ada yang mengganggu kenyamanan beribadah tersebut, terutama saat waktu ibadah di malam hari. Salah satu yang seringkali mengganggu ibadah tersebut adalah adanya bunyi petasan yang seakan tiada hentinya ketika memasuki malam hari, lebih-lebih sudah memasuki waktu shalat isya dan tarawih.

Ilustrasi, Sumber Gambar : www.merdeka.com
Berdasarkan pengalaman yang saya alami selama berada di perantauan, khususnya di kompleks saya nge-kost, ketika memasuki bulan ramadhan seringkali anak-anak di sekitar kompleks membunyikan petasan di saat memasuki waktu shalat, entah itu magrib maupun isya dan tarawih. Sebagai jamaah yang sering shalat di masjid kompleks tersebut, saya pribadi merasa terganggu. Mengapa? Karena rata-rata petasan yang dibunyikan adalah petasan yang daya ledaknya lumayan besar dan kadang-kadang dibunyikan di dekat masjid saat orang sedang melaksanakan shalat.

Entah karena tradisi yang sudah turun temurun atau kebiasaan yang susah dihilangkan, meskipun sudah dilarang tetap saja masih banyak yang melakukannya. Dan jika saya perhatikan, hampir semua usia pernah membunyikan petasan.

Setiap ramadhan tiba, pihak kepolisian sudah menghimbau agar selama bulan ramadhan para warga sadar dan menghargai orang yang sedang beribadah, terutama pada malam hari menjelang magrib sampai shalat tarawih selesai. Namun, himbauan atau larangan tersebut seperti angin yang berlalu begitu saja. Bahkan rasanya seakan memberikan himbauan kepada orang yang mengalami masalah pendengaran. Seperti kata pepatah "Masuk di telinga kanan keluar di telinga kiri". Yang bila di artikan sama saja dengan sia-sia alias tidak berbekas.

Perlu kita perhatikan baik-baik bahwa apakah petasan di bulan ramadhan atau bulan puasa itu sebagai tradisi Al-Quranniah atau tidak? Mengapa demikian? Karena menurut pengetahuan saya tradisi petasan di bulan puasa itu sebenarnya tidak jelas asal mulanya dan itu tidak cocok untuk dijadikan tradisi dalam bulan puasa.

Bagi saya, justru tradisi ini merusak makna puasa yang sebenarnya, yakni bulan penuh rahmat dan hikmat. Coba bayangkan setiap memulai bulan puasa selalu diserukan agar menghormati bulan ramadhan dan menghormati mereka yang menjalankannya, sampai harus mengatur jam operasi tempat hiburan, warung, rumah makan (sekelas restoran dan semacamnya) dan sebagainya. Tetapi yang sangat disayangkan adalah mereka yang tidak sadar ketika meledakkan petasan di bulan puasa. Mereka seakan tidak menghargai bulan puasa dan lebih detail lagi, yakni tidak menghargai orang-orang yang sedang menjalankan ibadah tersebut.

Bayangkan! Ketika di antara kita sedang menjalankan ibadah puasa atau ibadah lain seperti shalat dan melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an (Mengaji). Tiba-tiba saja ada yang membunyikan petasan dengan daya ledak yang lumayan menguncang kompleks di mana kita tinggal, otomatis kita yang mendengarkan akan kaget dan terkadang tanpa sadar atau mungkin latah, kita mengucapkan kata atau kalimat yang sebenarnya tidak kita harapkan.

Apa yang saya contohkan di atas hanya sebatas hal kecil. Namun bagaimana bila yang mendengarkan petasan tersebut adalah orang yang memiliki riwayat atau keturunan penyakit jantung, bisa jadi heboh dampak yang di akibatkan nantinya. Gak perlu di bayangkan lagi, pasti semuanya sudah pada tahu apa yang akan terjadi. Apalagi kalau bukan langsung pada resiko yang lebih fatal, yakni KO.

Entah bagaimana dengan pandangan orang lain, tapi bagi saya pribadi, petasan yang diledakkan lebih menjurus ke arah yang sangat menganggu.  Apalagi di bunyikan saat orang lain sedang menjalankan ibadah shalat. Dari yang saya perhatikan, selalu saja ada tangan-tangan usil yang meledakkan benda bernama petasan itu, walaupun sudah di ingatkan untuk tidak dibunyikan saat orang lain sedang menjalankan ibadah shalat, seperti di waktu magrib, isya dan tarawih, serta saat menjelang sahur dan waktu shubuh. Bahkan yang sangat disayangkan, hal ini kebanyakan dilakukan oleh umat muslim sendiri.

Makassar, 21 Mei 2015

Selasa, 19 Mei 2015

Aku Dan Kostku Dalam Sebuah Cerita

Ilustrasi
Bete, bosan, kesal, emosi bercampur amarah, itulah gambaran anak kost di mana aku tinggal. Sebuah gambaran yang menunjukkan selalu ingin di mengerti dan di perhatikan. Kurang lebih seperti itulah yang aku perhatikan dua hari ini. Maklum saja, namanya juga anak muda yang sedang mencari jati diri yang sesungguhnya.

Namun... reaksi yang ditunjukkan beberapa hari ini bukan hanya semata-mata ingin di mengerti serta di perhatikan juga, melainkan ada alasan lain yang lebih penting dan masuk akal. Penyebabnya pun seringkali di anggap sepele oleh pemilik kost, namun dampak yang dihasilkan terbilang luar biasa. Bahkan hal ini sudah terjadi selama 3 tahun terakhir ini dan dari yang aku pantau pemilik kost seakan tidak belajar dari kasus-kasus sebelumnya.

Minggu, 17 Mei 2015

Dari Kita Untuk Indonesia Yang Lebih Sehat

Dari Kita Untuk Indonesia Yang Lebih Sehat
Indonesia adalah negeri yang kaya raya. Untuk itu kita sebagai warga negara Indonesia harusnya bangga dengan negeri ini yang memiliki kekayaan alam yang melimpah. Potensi kekayaan alam yang sangat luar biasa, baik yang bersumber hayati maupun non hayati. Coba anda bayangkan, kekayaan alam negeri ini terbentang dari Sabang di ujung barat sampai Merauke di ujung timur. Dalam benak anda semua pasti setuju, jika kekayaan alam yang terkandung di dalam bumi Indonesia ini mungkin tidak bisa dihitung, baik dari kekayaan laut, darat, udara dan kekayaan lainnya.

SDM, Industri Dalam Negeri Dan Potensi Migas di Indonesia

SDM, Industri Dalam Negeri Dan Potensi Migas di Indonesia
Kita semua tahu bahwa Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah ruah yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Kekayaan tersebut tersebar di darat, laut, dan udara serta bentuknya pun beragam. Ada yang berbentuk minyak, gas, emas, dan masih banyak lagi bentuk lainnya, yang mana merupakan bagian dari kekayaan alam Indonesia.

Namun apalah artinya semua kekayaan alam tersebut bila tidak di kelola dengan sebaik-baiknya. Dengan kata lain dibutuhkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal agar kekayaan alam negeri ini dapat terkelola dengan baik dan lebih bermanfaat lagi bagi kelangsungan hidup masyarakat. Sehingga apa yang tertuang dan di amanatkan dalam UUD 1945 pasal 33 ayat 3 tidak menjadi sia-sia.

Sabtu, 16 Mei 2015

Resensi Buku Revolusi Dari Desa

Dokumen Pribadi
Judul buku : Revolusi dari Desa (Saatnya dalam Pembangunan Percaya Sepenuhnya Kepada Rakyat)
Penulis : DR.Yansen TP., M.Si.
Editor : Dodi Mawardi
Penerbit : PT Elex Media Komputindo
Tahun Terbit : Cetakan Pertama, 2014
Tebal Buku : xxviii + 180 halaman dan Lampiran 14 halaman
ISBN : 978-602-02-5099-1
Harga : Rp. 57.500,-

Saat pertama kali melihat judul buku ini, aku jadi teringat kembali akan kritikan yang di balut dalam sebuah lawakan. Kritikan seorang warga negara yang lahir di desa dan melihat belum meratanya pembangunan di negeri ini, khususnya di wilayah pelosok atau desa-desa. Lewat sebuah acara yang bernama Stand Up Comedy, dia mengutarakan kekecewaan, kritikan dan saran terhadap pembangunan di negeri ini.

Sebagai sesama anak desa, aku pun merasakan hal yang sama. Sejak kecil dan sampai saat ini, aku selalu bermimpi “kapan bisa merasakan apa yang orang kota rasakan”. Setidaknya bisa merasakan jalanan yang bagus, aliran air dari pipa PDAM, dan indahnya cahaya lampu saat malam hari. Tiga hal utama yang selalu di impikan oleh orang desa, bukan hanya aku seorang.

Namun apa daya dari tahun ke tahun, keberadaan desa seakan tersisihkan. Seringkali kemajuan dan perkembangan perkotaan dijadikan tolak ukur keberhasilan oleh kebanyakan pemerintah. Padahal tanpa disadari desa juga mempunyai andil dalam kemajuan bangsa ini. Tapi mau bagaimana lagi fakta mengatakan demikian, keberadaan desa seakan hanya sebagai pelengkap saja. Bahkan desa seringkali di identikkan dengan ketidak modernan, terpinggirkan dan keterbelakangan, serta masih menganut budaya yang di anggap sudah kuno alias ketinggalan zaman.

Akibatnya, kemajuan dan perkembangan di desa seakan berjalan di tempat dari waktu ke waktu. Hal ini pula yang menyebabkan kesenjangan sosial semakin jelas terlihat, yang kaya semakin kaya sedangkan yang miskin tetap dengan kemiskinannya. Sebuah kondisi yang sudah mengakar begitu lama. Kenyataan ini menimbulkan pertanyaan besar dan membutuhkan jawaban dengan segera. Sebuah kenyataan yang harus segera pula dicarikan solusi untuk mengatasinya.

Permasalahan-permasalahan di desa pun tidak kalah kompleks dengan masalah di daerah perkotaan. Tapi apa yang kita lihat, pemerintah lebih banyak memperhatikan masalah yang di hadapi di perkotaan dan seakan mengesampingkan permasalahan di desa. Akibatnya, hampir semua pemberitaan yang kita lihat di media adalah permasalahan orang kota. Bahkan sampai orang desa pun tahu semua permasalahan yang dialami di perkotaan. Sedangkan orang kota belum tentu tahu masalah yang di alami oleh orang desa.

Revolusi Dari Desa Ala DR. Yansen

Melihat persoalan di desa yang demikian kompleks, DR. Yansen TP, M.Si pun tertantang untuk mengatasi permasalahan yang sudah berpuluh-puluh tahun mengakar, terutama di Kabupaten Malinau yang beliau pimpin. Dengan berbekal pengalaman yang panjang dalam dunia praktik pemerintahan dan dekat dengan masyarakat, membuat beliau cepat memahami permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat desa, baik mengenai masalah pemerataan pembangunan maupun kemiskinan yang dari tahun ke tahun mengalami peningkatan.

Selama memimpin Malinau, Dr. Yansen TP, M.Si menawarkan gagasan baru agar pembangunan di negeri ini sebaiknya di mulai dari bawah. Dalam hal ini pembangunan yang berbasis pedesaan, yang mana bertujuan untuk membangun desa secara sungguh-sungguh dengan memberikan kepercayaan sepenuhnya pada masyarakat desa. Sebuah gagasan hasil pemikiran dan pengalaman yang kini di wujudkan dalam bentuk buku dengan judul “Revolusi dari Desa”.

Revolusi bila di artikan ke dalam bahasa indonesia memiliki makna perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung secara cepat dan menyangkut pokok-pokok kehidupan masyarakat. Melalui buku “Revolusi dari Desa” ini, DR. Yansen TP, M.Si ingin mengingatkan pemerintah dalam hal ini pemerintah pusat bahwa selama ini ada yang salah dengan konsep pembangunan kita, terutama dalam hal pembangunan di desa-desa. Sebagai contoh, di era reformasi saat ini pembangunan justru lebih banyak dilakukan di perkotaan. Salah satu penyebabnya karena masyarakat desa tidak memiliki akses ke para pembuat kebijakan publik.

Lewat buku ini, DR. Yansen TP, M.Si menunjukkan pengalaman nyata bukan sekadar toeri belaka lewat langkah-langkah yang di sebut “revolusioner” dalam dunia pembangunan. Sebuah konsep yang berbeda dari sebelumnya, yang mana dilandasi dengan semangat juang untuk menyatukan daya dan energi demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Bukan tanpa dasar DR. Yansen TP, M.Si menuangkan buah pikiran dan pengalamannya ke dalam bentuk buku. Hal ini dilakukan sebagai wujud tanggung jawabnya untuk generasi yang akan datang. Pengalaman-pengalamannya tidak perlu diragukan lagi. Beliau telah mengabdi selama dua puluh enam tahun sebagai seorang birokrat dan di awali sebagai seorang praktisi di daerah-daerah terpencil. Jabatan camat dan sekretaris daerah Kabupaten Malinau pun beliau pernah duduki, sehingga membuat beliau tahu apa yang dibutuhkan oleh masyarakat.

GERDEMA Sebagai Konsep Awal Revolusi dari Desa

Revolusi dari desa merupakan sebuah gerakan yang dimulai dari bawah, yang juga bisa diartikan sebagai gerakan dari rakyat untuk kesejahteraan rakyat. Melalui gerakan revolusi ini, DR. Yansen TP, M.Si mengajak kita untuk memikirkan kembali konsep pembangunan desa yang selama ini lebih banyak mengalami kegagalan dibandingkan keberhasilannya.

Lewat buku ini pula, DR. Yansen TP, M.Si mengajak kita untuk mengubah paradigma berpikir yang selama ini hanya terpaku pada kebijakan yang dibuat oleh pemerintah pusat. Padahal belum tentu kebijakan yang dibuat sesuai dengan karakteristik, potensi, dan permasalahan yang dihadapi masing-masing daerah.

Tanpa disadari, DR. Yansen TP, M.Si seakan memberikan peringatan bahwa tidak selamanya pemerintah pusat mengerti semua kebutuhan masyarakat pedesaan. Karena sesungguhnya hanyalah desa itu sendiri yang mengerti apa yang mereka butuhkan. Hal lain yang ingin disampaikan adalah agar masyarakat memiliki inisiatif, kreatifitas dan inovasi dalam membangun desa dan mengubah wajah desa masing-masing.

Untuk itulah, DR. Yansen TP, M.Si dengan ide revolusionernya yang menginginkan perubahan paradigma berpikir dalam pembangunan menggagas sebuah gerakan yang dinamakan “Gerakan Desa Membangun”. Sebuah gerakan yang lebih populer disebut GERDEMA, yang mana dilandasi dengan semangat berjuang untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Sebuah program yang tujuan utamanya dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Gerakan ini memiliki cara pandang yang spesifik dan difokuskan untuk mengatasi pembangunan, serta permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat desa.

Program GERDEMA sejalan dengan inti pembangunan, yang mana tujuannya adalah memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada rakyat, yaitu dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Alasan lain berdirinya GERDEMA karena saat ini semua masalah pembangunan terletak di desa, sehingga fokus pembangunan harus dimulai dari desa pula.

GERDEMA merupakan sebuah paradigma baru yang memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada masyarakat desa untuk mengelola dan membangun desa masing-masing. DR. Yansen TP, M.Si sangat menyadari bahwa masyarakat harus belajar untuk mandiri dan aktif berpartisipasi dalam pembangunan. Untuk itu, bimbingan, arahan dan dukungan diberikan oleh pemerintah daerah demi tercapai gerakan yang digagas oleh bupati Malinau. Ini dilakukan dengan tujuan agar masyarakat desa memiliki kreatifitas, inisiatif dan inovasi, sehingga menghasilkan pemerintahan desa yang mandiri.

Meskipun demikian, DR. Yansen TP, M.Si tetap membutuhkan dukungan peran pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk mensukseskan program yang telah beliau gagas. Dalam hal ini arahan dan masukan dari keduanya sangat bermakna, sehingga tujuan dan sasaran pembangunan tercapai.

Banyak hal positif dari program GERDEMA yang telah terbukti keberhasilannya, yang mana seperti dituangkan dalam buku ini. Melalui GERDEMA, kita diberikan gambaran bahwa dalam pembangunan pemerintah tidak boleh menyepelekan kekuatan rakyat. Kolaborasi antara pemerintah dan rakyat perlu ditingkatkan, sehingga kebijakan yang di ambil oleh pemerintah benar-benar berpihak kepada rakyat dan pembangunan yang diharapkan dapat tercapai.

Kelebihan dan Kekurangan Buku Revolusi dari Desa

Kelebihan 
Buku ini sangat menarik karena mengangkat tema “Revolusi dari Desa”. Sebuah tema yang mengangkat semua permasalahan yang sudah mengakar selama puluhan tahun dan disertai dengan solusi untuk menghadapi permasalahan yang ada. Mengajak kita untuk mengubah paradigma berpikir yang selama ini seakan tetap ditempat ke arah yang lebih baik lagi. Sedangkan kelebihan lainnya yaitu sampul buku yang menarik, isi buku yang mendetail, logis dan lengkap.

Kekurangan
Bahasa yang digunakan kebanyakan bahasa ilmiah, yang mana membutuhkan waktu berulang-ulang untuk membacanya. Butuh pemahaman yang lebih mendalam untuk mencernanya, sehingga membuat pembaca terlambat dalam menyerap isi dan maksud yang disampaikan oleh buku tersebut. 

Kesimpulan 

Buku “Revolusi dari Desa” bisa dijadikan referensi oleh daerah lain di seluruh Indonesia, baik mulai tingkat provinsi, kabupaten, kota madya, kecamatan, maupun pedesaan untuk dijadikan panduan dalam mengelola daerah masing-masing, sehingga kesejahteraan masyarakat yang di idam-idamkan dapat terwujud. Utamanya untuk daerah yang banyak memiliki permasalahan pembangunan.

Makassar, 16 Mei 2015
Catatan :
*Di sadur dari akun Kompasiana Saya dan di daur ulang kembali sekaligus memperbaiki beberapa kesalahan dalam penulisan, khususnya dalam penggunaan kata*
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...