Sabtu, 25 April 2015

Sebuah Renungan Kecil Di Hari Bumi

Sebuah Renungan Kecil Di Hari Bumi
Kurang lebih seminggu terakhir ini, banyak yang mengeluh akibat panasnya suhu udara di kota Makassar. Panasnya sangat menyengat dan menyakitkan, apalagi saat berada di tengah kemacetan ketika membawa kendaraan pribadi, seperti motor dan tanpa menggunakan jaket sebagai pelindung tambahan. Terasa bangat kulit bagaikan di tusuk-tusuk jarum, bahkan mereka yang menggunakan jaket saja masih merasakan panasnya sengatan matahari yang menerpa.
 
Sebenarnya, keadaan ini bukan lagi merupakan hal yang luar biasa bagi masyarakat Makassar. Mengapa saya katakan demikian? Karena selama hampir 5 tahun saya bolak balik dari kost sampai ke kampus, di sepanjang jalan masih minim sekali pohonnya. Malahan dari yang saya perhatikan lebih dominan oleh rumah warga dan ruko yang sebagian tidak mau menyisakan sedikit pun lahan kosong untuk tempat pepohonan atau lahan terbuka hijau. Kondisi ini menurut saya pribadi merupakan keadaan yang sangat memprihatinkan sekali untuk sebuah kota besar.

Entah sampai kapan hal-hal seperti ini akan terus berlangsung. Padahal sudah seharusnya kita sadar diri dan peduli terhadap lingkungan sekitar. Sifat egois masing-masing harus di buang jauh-jauh jika ingin bumi tempat berpijak ini tetap hijau dan tidak panas seperti sekarang ini.

Apa susahnya untuk menengok ke belakang dan sesekali belajar dari masyarakat suku-suku adat yang tersebar di seluruh pelosok negeri ini. Walaupun mereka tidak berpendidikan tinggi, tapi malah merekalah yang mengajarkan pada kita untuk berperilaku ramah terhadap lingkungan dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Bahkan kita yang katanya orang kota pada kenyataannya justru banyak yang bertindak kurang peduli terhadap lingkungan. Padahal jika kita mau belajar dan sadar diri, begitu banyak kearifan budaya lokal dari berbagai suku adat yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia yang patut kita contoh.

Sebagai masyarakat yang hidup di dunia modern, seharusnya kita merasa malu dengan perilaku dan kebiasaan kita yang masih acuh tak acuh. Apalagi sebagian dari kita masih minim akan kesadaran terhadap kelestarian lingkungan dan keselamatan bumi yang sebentar lagi memasuki ambang kehancuran. Sadar atau tidak, tanda-tanda akan kehancuran bumi sudah kita rasakan dan saksikan secara perlahan-perlahan.

Apa sih... susahnya untuk sedikit saja mengalah dan menghilangkan sifat egois serta perasaan gengsi yang begitu mendominasi di dalam diri demi bumi tempat kita berpijak ini? Padahal jika kita sadar akan kelestarian lingkungan dan ikut menjaga keselamatan bumi, ujung-ujungnya untuk kita juga serta akan menjadi salah satu warisan yang berharga bagi anak cucu kita kelak.

Untuk itu, sebelum terlambat dan menyesal di kemudian hari, tidak ada salahnya jika kita kembali merenungi apa saja yang telah di lakukan selama ini, khususnya pada bumi di mana kita berpijak dan melangsungkan berbagai aktivitas di setiap harinya. Meskipun tidak banyak lagi yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan bumi ini, setidaknya ada usaha untuk memperbaiki kembali sedikit demi sedikit daripada hanya berdiam diri ditempat tanpa melakukan apa-apa.

Tak usah menunggu instruksi dari pemerintah setempat di mana anda berpijak dan melakukan aktivitas sehari-hari. Yang diperlukan hanyalah kesadaran dari diri sendiri dan kemauan untuk berubah serta ikut berpartisipasi dalam menjaga kelestarian lingkungan sekitar. Saya yakin dan percaya, jika semua elemen masyarakat mau melakukan hal itu, maka secara otomatis dan pelan tapi pasti bumi tempat kita berpijak ini akan ikut terjaga pula kelestarian dan keselamatannya.

Menurutku, tak ada salahnya jika sifat egois dalam diri masing-masing dihilangkan secara perlahan-lahan demi menjaga kelestarian dan keselamatan bumi tempat kita berpijak. Bila perlu tanpa menunggu momen yang pas untuk melakukan perubahan tersebut. Contohnya seperti yang sedang ramai-ramai dilakukan hari ini, tepatnya Rabu tanggal 22 April. Hari di mana semua orang berlomba-lomba untuk berlaku baik pada bumi, yang mana semua orang mengenalnya sebagai Hari Bumi.

Alangkah baik dan bijaknya, bila semua orang mau menjadikan setiap waktu yang di lalui setiap harinya sebagai bagian dari Hari Bumi. Banyak hal yang dapat kita lakukan tanpa harus menunggu momen yang di peringati sekali dalam setahun tersebut. Tak usahlah berpikir jauh-jauh untuk melakukan sesuatu yang besar dengan harapan untuk mendapatkan sebuah pujian bahkan mungkin karena ingin di kenal banyak orang.

Cobalah untuk mulai melakukannya walaupun dari hal-hal sepele di sekeliling yang selama ini sering kita acuhkan. Saya yakin semua bisa dan tahu apa yang harus dilakukan tanpa perlu di beritahu terlebih dahulu. Entah mau memulainya dari lingkungan rumah sendiri atau masyarakat di mana anda tinggal. Semua jawabannya ada pada diri anda sendiri dan saya hanya mengingatkan saja.

Makassar, 25 April 2015

21 komentar:

  1. memang terkadang orang tidak mau melakukan hal kecil, padahal bisa jadi dampaknya besar sekali. Orang kota memang minim terhadap kelestarian lingkungan, motor dan mobil dimana-mana. Jika saja setiap orang menggunakan kendaraan umum, pastinya kendaraan dijalan raya akan berkurang drastis. Kemudian menanam pohon di pekarangan rumah dan sebagainya. Global warming sudah mulai terjadi di beberapa belahan dunia, termasuk di Indonesia. Hutan di Indonesia, lama-kelamaan sudah mulai berkurang, karena habis ditebang, dan hasilnya dijual ke luar negeri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maklum saja, kebanyakan mengharapkan pujian setinggi langit. Makanya sangat sedikit yang mau memulai segala sesuatunya dari hal-hal kecil dan tanpa disadari justru hal-hal kecil itulah yang kadang mampu memberikan dampak lebih besar.

      Hapus
  2. Banyak yg mengucapkan selamat hari bumi tp tak membuat perubahan untuknya. Boros air, listrik, bahan bakar......
    Atau misalnya menanam 1 pohon. Just share & done. Gitu ya mas.
    Saya takut mengucapkan selamat hari bumi, kartini, dan buku krn tahu tak berbuat banyak untuk apa yg saya ucapkan di hari itu.
    Terima kasih untuk bahan renungannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar sekali bu. Banyak yang antusias mengucapkan hari bumi, tapi sayang sekali banyak juga yang tidak mengerti dan memahami apa arti dari yang mereka ucapkan tersebut. Apalagi yang menyangkut dengan implementasinya dalam aktivitasnya sehari-hari.

      Hapus
  3. iya bener, sudah jarang lahan kosong untuk tumbuh pepohonan sekarang, padahal itu bermanfaat buat kita semua.
    alhamdulillah di pandeglang, tempat saya, masih banyak pepohonan hijau, pernah waktu itu akan ada pembangunan pabrik "mayora" tapi di demo rame-rame, alesannya, biar pandeglang tetap hijau, dan ada alasan lainnya juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semua kembali lagi pada kepentingan masing-masing mas. Kalau memiliki kesadaran akan lingkungan pasti bakalan berpikir dahulu sebelum melakukan pengrusakan, misalnya seperti yang mas Erdi ceritakan.

      Hapus
    2. nah, kepentingan masing-masing. itu!!

      Hapus
    3. Selalu jadi penghambat ya mas erdi dan susah untuk di hilangin dari muka bumi ini ya. Apalagi hal demikian sudah menjadi bagian dari kebiasaan yang tidak bisa di pisahkan.

      Hapus
  4. ya yah
    kurang perduli
    hati pada mati
    salam knal
    @guru5seni8
    penulis di www.kartunet.or.id dan http://hatidanpikiranjerbih.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. aduh typo jernih harusnya. Maaf

      Hapus
    2. Mau bagaimana lagi Mba Tyaseta, sebagian orang maunya yang instan dan enggan bergerak untuk memulai dari diri sendiri.

      Hapus
  5. Percuma hari bumi cuma diucapkan dari mulut doang. Hehe :))

    Dikota gue sekarang juga gitu. Jalanan diperlebar, yang tadinya 2 jalur sekarang jadi 4 jalur. Efeknya pohon dikanan kiri ditebang. Err kerasa panasnya sekarang...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Begitulah mas, orang Indonesia kebanyakan bisanya "Omong Doang alias Omdo" yang di gedein, tapi ternyata gak ada yang di kerjakan.

      Hapus
  6. hiks, di daerah rumah aku aja yg dulunya banyak kebun/sawah2 sekarang mulai geser jadi perumahan/ruko2 :( gimana ngga makin panas kan yah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gitu lah kalau yang di utamakan kepentingan dan keinginan, serta ego masing-masing.

      Hapus
  7. Hari Bumi tapi pakek AC.. Kasian kan buminya.. Sama aja boong :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yah.... gitu deh sebagian orang Indonesia, ngucapin selamat tapi gagal paham dengan apa yang di ucapinnya.

      Hapus
  8. hari bumi?

    saya justru udah lama alpa :(
    tapi ada benernya sih, untuk mencoba berlaku efisien pada teknologi agar tidak merusak lingkungan
    hanya, emang sulit banget...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setidaknya tetap berusaha secara perlahan-lahan untuk mencoba mengurangi kebiasaan yang dapat merusak kelestarian bumi.

      Hapus
  9. Bukan karna ego masing2 itu sangat manusiawi jika pohon2 ditebang untuk ruko2 dan yang lainnya. Karna si indonesia lebih banyak yang ingin tersohor tidak pernah memikirkan bagaimana nantinya jika pohon ini ditebang, jika kalian melihat perubahan pada pohon menjadi ruko. Seharusnya jangan membeli barang yang ia jual. Biar dia tau rasa bagaimana rasanya telah merusak pohon. Jika memang dia menebang lalu menanam itu bagus. Tapi jika cuek itu sangat bodoh dan tidak mau perduli akan lingkungan. menurut saya pemerintah di Indonesia kurang memerhatikan kebwrsihan jalanan/tukang sampah. Diluar negri saja "tukang sampah Gajinya melebihi orang berpendidikan" karna memang diluar negri mengutamakan kebersihan. Lalu? Indonesia? Lebih baik uangnya dimakan sendiri dari pada dikasih untuk tukang sampah. Saya hanya berpendapat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Indonesia memang "BEDA" ya. Lebih mengutamakan egoismenya sendiri dibandingkan melakukan yang terbaik untuk kemaslahatan orang banyak.

      Jangan ditanya, di pemerintahan lebih banyak oknum-oknum yang melakukan hal-hal tidak terpuji tersebut, yang pada akhirnya mengakibatkan kurang kepercayaan masyarakat kepada mereka.

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...