Kamis, 30 April 2015

Cerita Tentang Sebuah Smartphone

Ilustrasi
Hampir sebulan lamanya terkatung-katung gara-gara smartphone kesayangan yang aku beli dua tahun lalu tiba-tiba aja rusak. Rasanya tuh... dunia ini seperti kembali ke zaman tempo doeloe, di mana segalanya jadi serba terbatas, serba manual, dan serba susah. Dunia pun seakan ikut menjauh, gak seperti biasanya yang selalu berada dalam genggaman. Semuanya berubah dengan begitu cepat, bahkan segala sesuatunya yang tadinya gampang kini menjadi ribet dan susah. Jangankan untuk mengecek perkembangan dunia, yang di depan mata saja jadi susah di cerna. Pokoknya gak banget deh....

Namun kini semua telah kembali normal seperti sedia kala. Bahkan dunia pun telah ikut kembali ke dalam genggaman dan siap untuk memberikan warna baru, serta menemani diri ini ke mana pun kaki melangkah. Rasanya seperti terbebas dari dalam penjara terkejam di dunia, walaupun sempat membuatku terkatung-katung hampir sebulan lamanya.

Kini, aku tak perlu takut lagi untuk menjalani segala aktivitas yang sempat aku tinggalkan hampir sebulan lamanya. Tak hanya itu saja, semangat yang sebelumnya hampir padam secara perlahan-lahan mulai bangkit lagi menemukan jalannya. Senyum sumringah pun ikut terpancar dan raut wajah yang sebelumnya sedikit murung telah berubah menjadi cerah ceria. 

Bahkan hampir saja melompat dan teriak sekencang-kencangnya ketika akhirnya aku memiliki smartphone lagi. Apalagi smartphone baru yang aku miliki naik satu tingkat dari smartphone sebelumnya yang dipastikan rusak parah dan gak bisa digunakan lagi. Kalau pun bisa di perbaiki, biayanya pun bakalan mendekati harga smartphone yang rusak itu sendiri. Sayang banget kan kalau ongkos perbaikannya sama dengan smartphone baru! Mending uangnya buat beli yang baru aja sekalian, hehehe...

Berawal dari pertimbangan tersebut, aku pun melakukan survey ke beberapa toko elektronik dan tak lupa juga mencari informasi tambahan lewat Mbah Google. Selama masa pencarian dan survey tersebut, mau gak mau aku harus bisa bertahan tanpa memiliki Handphone pintar. Sedangkan di sisi lain, aku tidak ingin gegabah dan salah dalam memilih smartphone idaman. Semuanya harus aku pertimbangkan, mulai dari kualitas, fitur-fitur yang tersedia, kapasitas memory, kamera, dan masih banyak lagi. Dan yang paling utama adalah harus sesuai dengan budget yang aku sediakan.

Alhamdulillah, tantangan yang aku buat sendiri bisa dilalui dengan aman. Bahkan gak terasa kalau hampir sebulan lamanya waktu terlewatkan begitu saja, hanya karena ingin mendapatkan smartphone idaman dan tentu saja sesuai budget yang telah aku siapkan.

Kurang lebih seperti itulah usaha yang aku lakukan demi mendapatkan sebuah Smartphone baru sebagai pengganti ponsel pintar sebelumnya yang rusak parah. Itulah ceritaku kali ini, tentang sebuah smartphone sekaligus pemberi semangat dan warna baru dalam hidupku.

Makassar, 30 April 2015

Selasa, 28 April 2015

Celotehan Ibu Kost Di Akhir Pekan

Celotehan Ibu Kost Di Akhir Pekan
Celotehan Ibu Kost Di Akhir Pekan
Akhir pekan selalu menghadirkan cerita tersendiri bagi siapa pun yang menjalaninya, tak terkecuali saya sendiri. Entah cerita tersebut berhubungan dengan kebahagiaan, kesenangan, kisah unik, menyeramkan dan lain sebagainya. Kesemuanya tergantung situasi yang di temui oleh masing-masing individu. Salah satunya contohnya seperti yang aku alami akhir pekan baru-baru ini.

Sabtu, 25 April 2015

Sebuah Renungan Kecil Di Hari Bumi

Sebuah Renungan Kecil Di Hari Bumi
Kurang lebih seminggu terakhir ini, banyak yang mengeluh akibat panasnya suhu udara di kota Makassar. Panasnya sangat menyengat dan menyakitkan, apalagi saat berada di tengah kemacetan ketika membawa kendaraan pribadi, seperti motor dan tanpa menggunakan jaket sebagai pelindung tambahan. Terasa bangat kulit bagaikan di tusuk-tusuk jarum, bahkan mereka yang menggunakan jaket saja masih merasakan panasnya sengatan matahari yang menerpa.

Jumat, 24 April 2015

Kisah Mistis Dibalik Malam Jum'at Kliwon

Kisah Mistis Dibalik Malam Jum'at Kliwon
Kisah Mistis Dibalik Malam Jum'at Kliwon
Alhamdulillah, akhirnya bisa istirahat juga setelah melewati malam yang sedikit mencekam dan melelahkan. Namun sebelum diri ini termakan oleh rayuan empuknya tempat tidur dan di kalahkan oleh rasa ngantuk yang begitu kuat, tak ada salahnya jika aku menengok blog terlebih dahulu yang sempat tak ku tengok selama satu hari. 

Selasa, 21 April 2015

Dua Wanita Tangguh Yang Menginspirasi

Selamat Hari Kartini
Jika ditanya, siapakah sosok Kartini yang menjadi pilihanmu saat ini? Maka jawabannya akan lebih dari satu. Namun jika disuruh memilih, maka aku akan menjatuhkan pilihan itu kepada dua orang aku sayangi. Pilihan pertama tentu saja adalah Ibuku, sedangkan pilihan kedua adalah sang kekasih yang setia menemaniku selama sembilan tahun terakhir ini.

Senin, 20 April 2015

Memotret Kabut Di Atas Kayangan

Awal April tahun lalu, tepatnya setelah sepulang dari KKN yang telah aku lalui selama hampir dua bulan, aku menyempatkan diri untuk mencari suasana baru sekaligus meliburkan diri dari segala aktivitas perkuliahan. Padahal waktu itu proses perkuliahan masih berjalan dan belum memasuki masa liburan semester. Tapi aku tetap saja memutuskan untuk berlibur dan rehat sejenak dari semua hal yang berhubungan dengan kuliah.

Hal itu aku lakukan karena sudah menyelesaikan semua mata kuliah yang aku program di jurusan Arsitektur. Dan saat itu tinggal mengajukan judul skripsi dan memperbaiki beberapa mata kuliah yang nilainya masih standar alias C. Karena jadwal mata kuliah perbaikan belum keluar dan nilai KKN sebagai syarat untuk mengajukan judul belum keluar juga, maka aku semakin memantapkan diri untuk berlibur sejenak. Jadwal liburan yang aku agendakan pun tidak lama, yakni hanya seminggu dan paling lama sekitar dua minggu saja.

Karena tekad sudah bulat untuk berlibur dan euforia KKN masih saja terasa, maka aku memutuskan untuk berlibur di kampung halaman saja. Saat itu aku memilih kampung halaman untuk berlibur karena sudah hampir 4 tahun tidak ikut mudik. Di sisi lain sekalian untuk menengok orangtua sekaligus melihat perkembangan kampung halaman yang konon katanya sudah banyak mengalami perubahan.

Dari Atas PELNI, Dokumen Pribadi
Berbekal rasa penasaran tersebut, aku pun akhirnya pulang kampung juga. Dan seperti biasanya untuk sampai ke kampung harus melakukan perjalanan panjang dengan kapal. Bukan hanya itu saja, aku harus dua kali naik kapal baru sampai ke kampung halaman. Yang pertama naik kapal PELNI dengan tujuan Makassar ke Bau-Bau, setelah itu dari Bau-Bau melanjutkan perjalanan dengan naik kapal kayu yang kapasitasnya sampai 100 orang ke kampung halaman. Untung saja aku sudah terbiasa dengan perjalanan jauh tersebut, sehingga gak kaget lagi dan bisa menyesuaikan antara jadwal kapal PELNI dengan kapal yang menuju kampung halaman.

Singkat cerita, aku pun telah sampai di kampung halaman dan benar saja banyak perubahan yang terjadi selama 4 tahun aku tidak mudik. Namun yang paling menyenangkan bagiku adalah ketika sampai di rumah. Suasananya masih tetap sama dengan banyak pohon yang mengelilingi, seperti pohon jeruk, nangka, sirsak, pepaya dan di belakang rumah masih penuh dengan pohon bambu.

Keadaan tahun 2010 (Potret dari Laptop Compac), Dokumen Pribadi
Hanya ada sedikit perubahan, yakni depan rumah sudah di aspal dan saat itu kampungku sedang mengikuti lomba kebersihan yang di adakan provinsi, yang mana pemenangnya akan menjadi wakil provinsi dalam lomba keberhasilan tingkat nasional. Tapi sayang seribu sayang, setelah berhasil menjadi pemenang lomba tidak jadi di ikutkan sebagai wakil provinsi dan konon katanya pihak provinsi lebih memilih daerah yang masih berada di wilayah kelahiran sang Gubernur.
Selama di kampung halaman, banyak hal yang aku temui dan semua itu membuat senang serta bahagia. Apalagi bisa merasakan makanan khas kampung halaman yang sudah lama tidak aku rasakan. Entah itu kasoami, kapussu nosu, maupun ikan yang selalu dalam keadaan segar ketika di beli bahkan tak jarang ikan yang dijaula masih bergerak alias hidup.

Di satu sisi, aku bisa berkunjung ke rumah sanak saudara yang dekat maupun yang jauh jaraknya dari rumah. Mengunjungi nenek yang kini sudah memasuki usia renta dan mulai pikun. Sesekali juga aku menyempatkan diri untuk berkumpul dengan teman-teman. Dan kebetulan saja waktu itu berdekatan juga dengan acara pesta demokrasi, yakni pemilu legislatif sehingga suasana kampung semakin ramai setiap harinya. Bahkan suasananya seperti hari raya besar saking ramainya setiap hari sampai hari H pemilihan.

Namun tak hanya itu, masih ada hal lain yang membuatku senang lagi ketika berada di kampung, yakni  kabut yang sering menyelimuti kampung ketika hujan datang. Entah itu ketika hujan dengan intensitas kencang maupun ringan. Dan bagiku pemandangan itu sungguh menakjubkan serta sayang bila di sia-siakan. Beberapa di antara berhasil aku abadikan ke dalam kamera Handphone meskipun hasilnya mungkin gak sebagus jepretan kamera DLSR.

Ketika itu, aku sedang menelpon di atas bukit yang merupakan asal mula kampungku berdiri sebelum sedikit demi penduduk bergeser ke lembah di bawahnya yang akhirnya bertahan menjadi pemukiman sampai saat ini. Oh iya, aku menelpon dibukit tersebut karena jaringan seluler hanya sampai di situ saja. Dan bila sedikit saja bergerak menuruni bukit, maka jaringan di pastikan perlahan-lahan akan menghilang dari peredarannya.

Konon bukit tempat aku menelpon saat itu memiliki nama yang keren dan sering membuat orang kaget ketika mendengarnya. Dan nama yang aku maksud adalah Kayangan (Desa Kayangan). Karena setiap pendatang sering kaget ketika mendengar nama itu, akhirnya kepala kampung (saat itu belum ada yang namanya kepala desa) mencoba mengubah nama tersebut menjadi Kahyanga atau Kahianga.

Di situlah aku mengabadikan kabut ke dalam kamera Handphone yang aku miliki. Ketika itu hujan mendadak deras dan angin kencang, namun tidak berlangsung lama. Setelah itu hujan hanya dalam intensitas rendah dan saat itulah kabut terbentuk secara perlahan-lahan. Beberapa di antaranya bisa di lihat di bawah ini :



Itulah ceritaku kali ini tentang kampung halaman dan kabut yang berhasil aku abadikan ke dalam kamera Cross A18 yang aku miliki.

Makassar, 20 April 2015

Minggu, 19 April 2015

Selamatkan Hutan Tropis Indonesia dan Belajarlah Dari Kearifan Budaya Lokal Yang Ramah Lingkungan

Indonesia adalah negeri yang terkenal akan kekayaan alamnya. Negeri yang memiliki kekayaan alam berlimpah, yang di amanatkan oleh Sang Pencipta kepada kita semua untuk dijaga dengan sebaik-baiknya. Salah satu dari sekian banyak kekayaan alam yang harus kita jaga dengan sebaik-baiknya, yaitu adalah Hutan.

Hutan adalah sebuah kawasan yang ditumbuhi oleh pepohonan dan tumbuhan lainnya. Hutan merupakan suatu kumpulan tumbuhan dan juga tanaman, terutama pepohonan atau tumbuhan berkayu lain, yang menempati daerah yang cukup luas.Hutan berfungsi sebagai penampung karbon dioksida, habitat hewan, pelestari tanah, serta merupakan salah satu aspek biosper bumi yang paling penting.

Kita dapat menemukan hutan di daerah beriklim tropis, daerah beriklim dingin, di daerah dataran rendah, dataran tinggi (pegunungan), di pulau besar, dan bahkan di pulau kecil sekali pun. Dalam hal ini, bisa dikatakan bahwa hutan bisa kita temukan di mana saja.

Namun, hutan yang dulunya begitu indah, sejuk dan nyaman, kini kebanyakan hanya tinggal sebuah cerita dan kenangan saja. Saat ini, hutan di seluruh dunia terancam punah. Lantas bagaimana dengan hutan di negeri kita yang tercinta ini? Sebuah pertanyaan yang jawabannya sering kita saksikan di media cetak maupun elektronik hampir setiap hari, salah satunya setiap musim hujan dan kemarau datang.

Kondisi hutan-hutan di Indonesia saat ini dalam keadaan krisis. Banyak tumbuhan dan binatang yang hidup di dalamnya terancam punah. Selain itu, masih banyak manusia dan kebudayaan yang menggantungkan hidupnya dari hutan juga ikut terancam. Tapi tidak semuanya merupakan kabar buruk.

Suatu kenyataan pahit, yang bisa kita lihat dari keadaan hutan tropis kita: pembalakan hutan secara liar (ilegal logging) dan kebakaran hutan baik disengaja atau pun tidak. Pembalakan liar yang masih terus  terjadi di hutan sekitar Riau, Sumatera. Pertanyaan yang langsung terlintas adalah, bagaimana nasib hewan endemik Harimau Sumatera yang sekarang semakin langka? Apakah akan punah menyusul nasib Harimau Jawa dan Bali yang sekarang tinggal cerita?  Tidak hanya di Pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan, di Papua pun hutan tropis kita sudah mulai banyak yang berubah fungsi menjadi hamparan perkebunan kelapa sawit.

Entah sampai kapan hal-hal seperti ini terus berlangsung dan merusak tatanan ekosistem hutan serta mengancam keberadaan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Tidak hanya para penghuni di hutan, tatanan sosial budaya masyarakat adat di sekitar pun menjadi turut terganggu. Dengan hilangnya hutan berarti hilang juga sumber kehidupan bagi sebagian rakyat Indonesia, karena hutan merupakan tempat mencari makanan, obat-obatan serta menjadi tumpuan hidup bagi sebagian besar rakyat khususnya yang bermukim di dekat hutan.

Manusia perusak lingkungan masih saja berkeliaran. Sudah saatnya segenap jajaran kementerian lingkungan hidup, para polisi hutan beserta peran masyarakat di sekitar hutan di optimalkan jangan sampai peristiwa ini terus terulang lagi dan terulang lagi.

Coba kita tengok dan pelajari banyak suku-suku adat yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia, mereka pada umumnya sudah bertindak sangat ramah lingkungan melalui kegiatan hidupnya sehari-hari, dan kita yang katanya orang kota, faktanya justru banyak yang bertindak kurang peduli terhadap lingkungan.

Begitu sangat banyak kearifan budaya lokal dari berbagai suku adat yang banyak tersebar di seluruh pelosok Indonesia yang patut kita contoh. Harusnya kita sebagai orang kota, yang katanya sudah modern tidak kalah dengan mereka dari pelosok yang kental dengan budaya adatnya. Harusnya kita bisa menunjukkan ke mereka, bahwa walaupun tinggal di daerah yang sudah modern, kita tetap bisa melestarikan lingkungan seperti yang mereka lakukan.

Pentingnya Hutan Kota Bagi Alam dan Lingkungan Sekitarnya

Hutan seakan lenyap di masa modern akhir-akhir ini. Dahulu hutan menjadi sarana bagi umat manusia untuk mencari makan. Namun sekarang terbalik, hutan malah dianggap sebagai penghalang bagi masyarakat kota untuk membangun tempat tinggal atau bangunan tinggi.

Di kota-kota di Indonesia jarang kita menemukan hutan kota. Pembangunan kota selama ini cenderung lebih mengutamakan pembangunan fisik dan tidak dibarengi dengan lahan hijau di sekelilingnya. Adapun lahan kosong di sekitar bangunan hanya digunakan untuk parkir tanpa disertai pohon-pohon yang hijau. Jadi bukan hutan kota yang kita temukan, melainkan hutan beton.

Pemandangan ini tampak dari bertebarannya gedung-gedung pencakar langit. Sepanjang mata kita memandang hanyalah gedung tinggi menjulang dan kawasan terbuka hijau yang semestinya 30% dari luas kota seakan-akan terabaikan begitu saja dengan alih-alih pembangunan.

Akibatnya, setiap tahun kota-kota besar di Indonesia mengalami berbagai masalah ketika musim hujan tiba. Mulai dari banjir di mana-mana, kualitas lingkungan dan udara menjadi buruk karena polusi yang dihasilkan kendaraan bermotor tidak mampu ditampung dan di saring oleh pepohonan yang ada. Keberadaan ruang terbuka hijau mempunyai manfaat yang tidak bisa kita abaikan dan berperan dalam mengatasi itu semua.

Jadi, tunggu apa lagi. Keberadaan hutan kota adalah kebutuhan kita semua. Mari kita mulai dari diri kita sendiri, mulai dari lingkungan rumah kita dengan menyisakan ruang kosong 2-3 meter untuk penghijauan. Selain itu, mari dorong pihak berwenang untuk menciptakan lebih banyak lagi hutan kota di tempat yang kita tinggali. Dan yang tidak kalah penting, jangan lupa untuk saling mengawasi, baik sesama warga atau pun mengawasi pihak yang berwenang dalam menjalankan aturan yang mereka buat.

Semoga apa yang saya tuliskan lewat artikel ini bisa menggugah para pembaca dan mengubah pola pikir pembaca yang semula acuh tak acuh terhadap lingkungan menjadi peduli terhadap lingkungan, minimal untuk lingkungan sekitar tempat tinggal dahulu. 

Semoga bermanfaat!

Makassar, 19 April 2015

Sabtu, 18 April 2015

Yuk, Belajar Melestarikan Dan Ramah Pada Objek Wisata Yang Di Kunjungi

Gunung Rinjani dari Udara, Sumber : www.tanyoe.com
Indonesia merupakan salah satu negeri yang kaya akan objek pariwisata. Wisata Indonesia sangat terkenal karena memiliki keindahan alam yang membuat para wisatawan domestik dan mancanegara takjub. Beberapa objek wisata di Indonesia antara lain : Danau Toba, Candi Borobudur, Pulau Wakatobi, Raja Ampat Papua, Pulau Dewata Bali, Pulau Komodo, Pulau Sipora di Mentawai dan masih banyak lagi.

Semua objek wisata tersebut di atas memiliki daya tarik dan keunikan tersendiri, sehingga bisa memikat dan membuat para wisatawan takjub, bahkan berulang kali datang kembali ke objek wisata tersebut untuk menikmati keindahannya.

Jumat, 17 April 2015

Gara-Gara Pasar Sore, Aku Jadi Kepo

Masih teringat jelas kenangan saat pulang kampung setahun yang lalu, tepatnya akhir bulan tiga sebelum pemilu legislatif berlangsung. Waktu itu aku hanya kurang lebih dua minggu berada di kampung halaman. Namun selama berada di kampung halaman, aku tidak menyia-nyiakan setiap waktu yang ada. Entah itu mengunjungi sanak saudara, mengunjungi kakek dan nenekku, bermain dengan sepupu aku yang masih kecil-kecil dan lucu, membantu pekerjaan di dapur, bahkan mengantarkan ibu ke rumah-rumah warga yang ingin memesan horden.

Pasar Sore Waitii, Sumber : amelaholic.blogspot.com
Kadang-kadang juga aku mengantarkan ibu ke pasar untuk berbelanja. Di kampungku hari pasar hanya ada pada hari minggu, rabu dan jum’at. Setiap hari pasar pengunjung selalu ramai, baik yang akan berbelanja kebutuhan sehari-hari, belanja pakaian, bahan bangunan, bahkan ada pula yang datang ke pasar hanya untuk sekadar refreshing saja. Kurang lebih seperti itulah aktivitas masyarakat ketika menyempatkan diri berkunjung ke pasar.

Kamis, 16 April 2015

Cara Bijak Menghemat Listrik Dari Dalam Rumah

Penahkah anda merasa kaget hingga dada sesak akibat tagihan listrik membengkak? Atau anda merasa terbebani ketika tarif listrik per Kwh-nya di naikkan, khususnya buat para pelanggan non-subsidi. Sehingga secara perlahan-lahan pengeluaran pun ikut merangkak naik bagaikan timbangan badan, yang mana berdampak pula pada kondisi keuangan.

Berbagai reaksi pun di tunjukkan ketika melihat tagihan listrik membengkak. Yang pertama tentu saja anda kaget, setelah itu langsung sewot yang di barengi dengan nada marah-marah yang gak jelas dan entah di tujukan kepada siapa. Ujung-ujungnya muncullah perasaan berburuk sangka, entah itu di tujukan kepada PLN sebagai penyedia listrik atau kepada sang juru potret meteran listrik yang belum tentu juga salah. Bahkan tak jarang pula yang berpikir bahwa meteran listriknya telah di sabotase, misalnya telah di pasangi alat yang dapat menaikkan angka meteran secara otomatis.

Namun pernahkah anda berpikir bahwa bisa saja hal itu di sebabkan oleh anda sendiri. Entah hal itu anda lakukan dengan sengaja atau bukan. Misalnya menggunakan barang-barang elektronik yang memiliki daya tinggi, menyalakan televisi meskipun tidak ada yang menonton, tetap menyalakan lampu ketika hari sudah siang, membiarkan kran air tetap jalan walaupun tidak ada yang menggunakannya bahkan sampai-sampai meluber keluar dari penampungan, dan masih banyak lagi contoh sederhana lainnya.

Tahukah anda bahwa pemakaian energi di dalam rumah juga termasuk ke dalam golongan besar, terutama yang berhubungan dengan energi listrik dan air. Tak jarang loh... kita temukan pemborosan energi listrik di dalam rumah. Beberapa contoh sederhananya seperti yang saya tuliskan di paragraf sebelumnya. Jika gaya hidup demikian tetap di pertahankan, percaya atau tidak akan menimbulkan pemborosan energi yang sangat luar biasa, termasuk di dalamnya yang berhubungan energi listrik.

Akibatnya, bukan hanya energi seperti listrik saja yang akan habis. Namun akan berdampak pula pada kondisi keuangan anda seperti yang sudah saya katakan di awal paragraf ini. Yang mana mau gak mau, siap gak siap anda harus menyediakan anggaran yang lebih untuk menanggung biaya tagihan bulanan yang mendadak menjadi besar.

Padahal, pemerintah sudah secara intens melakukan sosialisasi kepada masyarakat, termasuk anda yakni dengan menghimbau agar membudayakan berhemat dalam penggunaan energi. Entah itu mengenai pengunaan listrik, bahan bakar minyak, maupun gas sekali pun. Melalui sosialisasi yang di sertai himbauan tersebut, pemerintah berharap sekaligus menuntut kita semua untuk bijak dalam menggunakan energi dengan segala cara yang kita miliki.

Hal ini dilakukan bukan tanpa alasan atau pun tanpa tujuan. Dengan menggalakkan gerakan hemat energi secara nasional, pemerintah bermaksud untuk mencegah timbulnya krisis energi yang mana sangat mungkin terjadi di masa mendatang. Berdasarkan hasil penelitian, survey dan telah di hitung secara matang, pemerintah memprediksi Indonesia akan mengalami krisis energi sekitar tahun 2025 atau paling lambat tahun 2030 nanti.

Bahkan tanpa menunggu pun, gejala krisis energi sudah mulai terlihat beberapa tahun belakangan ini. Contoh sederhananya yakni sering terjadinya pemadaman listrik yang hampir terjadi di seluruh daerah di wilayah tanah air yang kita cintai ini. Kelangkaan bahan bakar minyak pun sering terjadi, yang pada akhirnya membuat pemerintah mencabut subsidi BBM, dan masih banyak lagi contoh lainnya yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk itu, sebelum krisis energi tersebut benar-benar terjadi, maka kita semua harus segera melakukan antisipasi sejak saat ini. Dalam hal ini kita harus bisa melakukan penghematan energi, misalnya dalam penggunaan listrik. Sebagai masyarakat sudah sepatutnya memiliki kesadaran diri untuk berperilaku hemat energi dengan menunjukkan aksi nyata untuk mengurangi konsumsi energi dan menggunakan secara efisien, tanpa harus menunggu imbauan, sosialisasi dan peringatan dari pemerintah.

Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mendukung pemerintah dalam mewujudkan gerakan hemat energi secara nasional. Tidak perlu jauh-jauh kok! Kita bisa memulainya dari dalam rumah sendiri. Kita semua bisa memulainya dari hal-hal yang terlihat sepele, tapi jangan salah sangka meskipun sepele bisa memberikan hasil yang luar biasa kok.

Daripada anda semua penasaran, yuk simak beberapa hal di bawah ini yang konon katanya bisa mendukung gerakan hemat energi, khususnya dalam pemakaian energi listrik. Adapun di antaranya, yakni :
1.  Cobalah secara bertahap untuk mengganti lampu pijar yang selama ini anda gunakan dengan lampu terbaru yang berteknologi LED. Saat ini lampu LED sudah banyak di jual di pasaran dan bisa anda temukan di berbagai toko. Harganya mungkin sedikit lebih mahal, tapi lampu berteknologi LED bisa menghemat pengeluaran biaya listrik anda.

Berdasarkan pengalaman saya, lampu LED menghasilkan warna yang lebih terang dari lampu lainnya meskipun kapasitas lampu tersebut memiliki watt yang lebih kecil. Lampu LED juga telah tersedia dalam berbagai warna cahaya dan ada juga yang menggunakan sensor gerak. Ini sangat cocok bagi yang dikategorikan orang malas bergerak ketika menginginkan lampu padam tanpa perlu menyentuh saklar yang ada di dinding.

2. Kurangi penggunaan mesin cuci karena merupakan salah satu penyebab biaya listrik anda membengkak. Jika anda masih sehat dan kuat, tidak ada salahnya untuk mencuci pakaian secara manual. Selain mengurangi biaya listrik, anda juga bisa memperoleh tubuh yang sehat karena sekalian bisa melakukan olahraga ringan. Dengan mencuci secara manual, secara tidak langsung kalori dalam tubuh anda bisa terbakar dalam jumlah yang lumayan.

3.   Gunakanlah setrika yang memiliki pengatur panas otomatis. Ketika ingin menyetrika lebih baik dalam jumlah yang banyak bukan 2-3 lembar saja. Jangan lupa untuk mengatur tingkat kepanasan setrika anda sesuai dengan bahan pakaian yang ingin di setrika. Jika ingin lebih hemat lagi, saat menjemur pakaian lebih baik menggunakan hanger sehingga pakaian tidak terlalu kusut dan menyetrika pun tidak susah payah lagi.

4. Aturlah suhu AC anda ke suhu yang pas. Tutup baik-baik pintu anda dan jendela saat menggunakannya, serta matikan kembali saat anda tidak menggunakannya atau ketika akan bepergian. Sebenarnya dalam dunia arsitektur, penggunaan AC sangat di hindari karena dapat merusak lapisan ozon yang akhirnya menjadi salah satu penyebab global warming.

5.   Tidak ada salahnya mencabut colokan peralatan elektronik saat tidak digunakan. Mengapa harus di cabut? Karena meskipun tidak di pakai, ternyata tetap saja menyerap daya listrik meski dalam jumlah kecil. Akan tetapi, kita semua tahu bahwa di dalam rumah banyak sekali peralatan elektronik yang di gunakan.

6.  Bagi anda yang suka menggunakan hair dryer, cobalah untuk menguranginya bahkan bila perlu meninggalkannya karena memiliki watt yang lumayan yang besar. Di sisi lain, secara perlahan-lahan rambut indah anda akan rusak akibat keseringan menggunakan alat tersebut.

7.   Jika sampai saat ini anda masih bertahan dengan TV Tabung jadul anda, saya sarankan untuk beralih ke TV LED karena tidak banyak menarik daya listrik.

8.  Cobalah sesekali untuk memasak air dan menyimpannya di termos, sehingga saat anda ingin membuat kopi, teh, menyiram mie tidak perlu lagi menyalakan dispenser yang kapasitas watt-nya lumayan gede.

9.  Bila menggunakan tower air sebagai penampungan air anda, saya sarankan untuk pemanti otomatis pada toren air, sehingga pompa air anda bekerja sesuai dengan kebutuhan. Yang artinya selain listrik tidak terbuang percuma, air pun tidak tumpah ruah kaya habis terkena banjir bandang yang ujung-ujungnya meluber ke mana-mana.
Cara menghemat lainnya yakni dengan menggunakan timba alias manual seperti di kampung halaman saya.

Selain beberapa cara di atas, anda juga bisa mencoba dengan melakukan pengaturan desain rumah yang ramah lingkungan dan hemat energi. Cara ini cocok bagi anda yang sedang berniat untuk membangun atau merenovasi rumah. Anda mungkin bisa memilih rancangan bangunan yang hemat energi. Salah satunya dengan memasang banyak bukaan atau jendela-jendela besar agar sinar matahari dapat masuk ke dalam rumah secara optimal. Hal ini juga memungkinkan sirkulasi udara menjadi lapang, sehingga udara di dalam rumah tidak terlalu panas dan pengap. Dengan ini, anda mungkin tidak lagi memerlukan AC atau kipas angin.

Di samping itu, anda bisa juga memasang panel surya pada atap rumah Anda. Sistem ini sudah mulai populer di terapkan di rumah-rumah di Indonesia dan saya pun sudah merasakan manfaatnya di rumah saya di kampung. Panel surya ini mampu menyimpan cadangan energi yang didapat dari panas sinar matahari. Perangkat ini pun berguna untuk menyuplai listrik pada beberapa lampu, serta dapat memanaskan air yang ada di bak mandi anda. Meskipun harganya masih agak mahal, melihat kemampuannya dalam mengurangi konsumsi energi dan menyuplai energi cadangan untuk rumah anda, rasanya tidak akan rugi untuk menggunakan alat ini.

Semoga apa yang saya tuliskan ini bisa memberikan manfaat bagi siapa saja yang membacanya dan bisa di terapkan dalam lingkungannya masing-masing. Tidak ada salahnya untuk mengganti alat-alat elektronika anda dengan model yang ramah lingkungan dan hemat energi. Mungkin awalnya agak mahal, tapi saya yakin setelah anda mencobanya malah akan membuat anda bahagia dan tidak akan menyesal.

Semoga bermanfaat! Salam

Makassar, 16 April 2015

Catatan :
*Tulisan ini di ikutkan dalam lomba blog competition yang di adakan oleh Total yang bekerja sama dengan media Bisnis Indonesia. Jika berkenan sempatkan waktunya untuk memberikan vote dan sharenya di link yang saya garis tebal berikut ini (Writing Contest Total)*
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...