Minggu, 29 Maret 2015

Memotret Jakarta Dari Ketinggian 115 Meter


Akhir Maret tahun 2012, aku menyempatkan diri untuk berlibur ke ibu kota negeri ini. Gak terasa, hari ini sudah memasuki tahun kedua waktu itu berlalu. Selama di sana, banyak pengalaman yang aku lalui. Semuanya masih tersimpan dengan rapi dalam memory ini dan setiap kali aku mengingatnya, membuatku rindu akan masa-masa tersebut. Entah kapan lagi diri ini akan menginjakkan kaki di kota megapolitan tersebut. Kota yang terkenal dengan kehidupannya yang begitu keras.

Monumen Nasional, Dok. Pribadi
Namun entah kenapa, hampir setiap orang selalu ingin mengunjungi ibu kota Indonesia tersebut. Seperti ada sebuah magnet besar yang menarik semua orang untuk menginjakkan kaki di sana. Bahkan kehidupannya yang dikenal keras seakan menjadi sebuah daya tarik tersendiri, baik bagi orang-orang di sekitar daerah tersebut maupun yang berasal dari daerah lain. Aku sendiri merasakan hal demikian dan menjadikannya sebagai sebuah tantangan yang patut untuk di coba. Entah bagaimana dengan orang lain yang memiliki hasrat besar untuk bisa menginjakkan kaki di ibu kota negara tersebut.

Waktu itu, aku sama sekali tidak mengenal seluk beluk Jakarta. Bagiku, menginjakkan kaki di kota megapolitan tersebut merupakan pengalaman yang baru. Namun satu yang pasti, aku harus bisa menyesuaikan diri secepatnya dengan suasana kota di mana aku berada. Sebagai orang baru, aku pun memulai petualangan dan mencoba menyelami kehidupan kota yang juga terkenal akan kesibukannya. Saking sibuknya, aktivitas yang terjadi saat siang dan malam seperti gak ada bedanya.

Selama dua minggu di Jakarta, aku menyempatkan diri untuk mengunjungi banyak tempat. Bagiku, sangat disayangkan bila waktu yang ada tidak digunakan dengan sebaik mungkin. Salah satu tempat yang sempat aku kunjungi adalah Monumen Nasional. Monumen yang dibangun untuk dijadikan icon Indonesia dan saat ini menjadi salah tempat wisata yang sering dikunjungi warga Jakarta.

Sebagai wisatawan, aku pun tidak menyia-nyiakan keindahan Monumen Nasional serta pemandangan di sekitarnya yang dipenuhi taman dan pepohonan yang menghijau. Aku juga tidak mau kalah dengan wisatawan lainnya ketika menyusuri setiap lorong yang ada di dalam Monas. Mulai dari pelataran sampai ke dalam monumen di mana terdapat berbagai lukisan yang menggambarkan sejarah perjuangan rakyat Indonesia. Tak lupa pula mengabadikan setiap momen yang aku lewati ke dalam kamera yang kubawa.
Moment Yang Tak Akan Terlupakan, Dok. Pribadi
Setelah puas menikmati keindahan yang ada di dalam Monas, aku pun bergegas menuju pelataran atas di mana lift menuju puncak Monas berada. Sambil menunggu antrian, aku menyempatkan diri untuk menikmati makanan ringan yang aku bawa. Gak berselang lama, aku pun mendapatkan giliran untuk menuju puncak Monas. Sesampainya di atas aku pun tak menyia-nyiakan kesempatan yang langka tersebut. Segera saja aku menyewa koin yang di khususkan untuk pengguna teropong atau periskop.

Dengan menggunakan teropong atau periskop, aku bisa menyaksikan pemandangan kota Jakarta dari ketinggian 115 meter. Sensasi yang di dapatkan pun berbeda bila dibandingkan dengan melihat biasa tanpa menggunakan periskop. Dari ketinggian tersebut, semua yang berada di bawah Monas terlihat seperti miniatur. Sambil menikmati pemandangan kota Jakarta, aku juga menyempatkan untuk mengabadikan keindahannya dari segala arah. Dan untuk hasil jepretan aku yang menggunakan kamera smartphone Samsung Galaxy Young, bisa anda saksikan di bawah ini :
Bank Indonesia, Dok. Pribadi
Mahkamah Agung, Dok. Pribadi
Pertamina, Dok. Pribadi
Masjid Istriqlal, Dok. Pribadi

 Makassar, 29 Maret 2015



Catatan :
*Semua foto-foto di atas merupakan dokumen pribadi*

30 komentar:

  1. Wah ini calonnya ya..hihi imut banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha... bisa aja Mba Gustyanita Pratiwi

      Hapus
  2. Saya terakhir kali ke Monas waktu masih SD. Waktu itu belum sempat nyobain periskopnya.Jadi pengin ke sana lagi, hihi.

    Btw, salam kenal ya, Mas Arif *eh, benar kan namanya Arif?* :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pakai periskop lebih bagus lagi melihat pemandangannya dan bisa menjangkau jarak yang lumayan jauh serta lebih jelas lagi objek yang ingin di lihat.

      Iya, nama pena saya Arif.

      Hapus
  3. Saya yang deket sama jakarta malah belum pernah ke Monas lagi. Terakhir waktu masih kecil :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Orang Depok ya Bu. Itu yang di samping saya di foto orang Depok juga. Semakin ramai kalau sekarang pengunjungnya, banyak bule juga yang berkunjung ke sana.

      Hapus
  4. Ms tim, belakang poto kalian bedua, ada gue tuh, di atas tulisan "monumen nasional" :') haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha.... itu kan patung. Lupa deh nama patungnya, yang jelas patung seorang pangeran. Antara Pangeran Diponegoro sama Pangeran Antasari tuh nama patungnya.

      Hapus
  5. oh iya, liebster award (lagi) noh mas di postingan teranyar gue :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ntar Aku liat mas di postingannya.

      Hapus
  6. wow, ternyata gedung-gedung yang selama ini bisa diliat di tv, bisa diliat di monas, kereeen.
    belum pernah ke jakarta, jadi iri -,-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mba Iilajah, yang saya hafal ada gedung Bank Indonesia, Menara BNI, Menara BCA, Gedung Pertamina, Terminal Kereta (lupa namanya), Masjid Istiqlal, MNC Group, Wisma Nusantara (tempat TV One), Menara disampingnya Hotel International, dan masih banyak lagi.

      Hapus
  7. Njirrr keren juga yaa main main di monas.... Gue kira nggak ada terepong di monas. Cuma kayak gedung galeri hahaha....

    Oh iya, itu lapangan apa ya? Dari atas keliatan bagus banget hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lupa nama lapangannya, tapi sering di pakai tuh sama TNI untuk latihan. Kebetulan di sampingnya Pertamina ada markas besarnya TNI.

      Hapus
  8. Njirrr keren juga yaa main main di monas.... Gue kira nggak ada terepong di monas. Cuma kayak gedung galeri hahaha....

    Oh iya, itu lapangan apa ya? Dari atas keliatan bagus banget hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga tadinya mikir gak ada persikop, tapi pas sampai di atas baru tahu juga kalau ternyata ada periskop yang bisa di gunakan untuk melihat pemandangan lebih detail lagi.

      Hapus
  9. aku belum pernah ke Monas...mau banget kesini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh tuh Mba sekali-sekali, biar tahu juga kaya gimana suasana Icon Indonesia yang menjadi kebangggaan warga Jakarta.

      Hapus
  10. Aku belum sempet ke puncaknya itu,, rame banget kalo weekend..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku berkunjungnya bukan weekend, tapi lumayan ramai juga pengunjungnya. Gak tau deh kalau weekend seramai apa.

      Hapus
  11. biasanya kalau ke Jakarta pasti ada kegiatan, jadi belom sempet-sempet maen ke Monas :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe...... pasti lagi sibuk ya Mba Gustu Indah Primadona, makanya belum sempat ke sana.

      Hapus
  12. terakhir saya ke monas 4 tahun yang lalu, Agak aneh saat di ruang yang ada biorama diapkai pengunjung untuk tidur2an. gak ok banget, apa sekarang masih seperti itu ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama mbak,saya juga terakhir ke monas 4 tahun yang lalu,dilihat dari atas monas kota jakarta memang begitu mas,hehe dokumentasinya detail juga mas. :)

      Hapus
    2. Kalau waktu saya berkunjung gak nemuin kaya gitu. Tau deh kalau hari-hari lainnya kaya gimana.

      Hapus
    3. Terima kasih untuk apresiasinya Mba Devina Putri.

      Hapus
  13. Desember dan januari lalu ke Jakarta, tp tak ke monas krn direnovasi. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yah... harus nunggu lain waktu lagi dunk.

      Hapus
  14. monas makin apik aja sebagai ikon kota jakarta.
    dulu setiap ada kunjungan wisata waktu sd, sekolah saya pasti tujuannya selalu ke monas...
    kalau enggak ke tmii.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, saya juga baru pertama kali ke sana.

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...