Senin, 30 Maret 2015

Kuliner Khas Buton dan Wakatobi, Sederhana tapi Mengundang Selera


Kuliner Indonesia, Sumber (http://blog.kompasiana.com)
Indonesia memiliki beraneka ragam masakan dan makanan yang begitu nikmat dan enak. Jika di uraikan satu persatu, tentu tidak akan ada habisnya. Mengapa? Karena Indonesia memiliki kuliner khas masing-masing di setiap daerah dan itu menjadi salah satu daya tarik bagi para pelancong untuk berkunjung ke daerah tersebut.

Salah satu daerah di Indonesia yang memiliki kuliner khas yaitu di Pulau Buton dan Wakatobi. Pulau Buton dan Wakatobi memiliki kuliner yang sama sebab merupakan satu pemerintahan sebelum adanya pemekaran dan otonomi daerah.
 
Jika anda berkunjung ke Pulau Buton dan Wakatobi, anda akan menemukan kuliner yang berbeda dari daerah lainnya di Indonesia. Mengapa saya katakan demikian? Sebab masyarakat Buton dan Wakatobi, Sulawesi Tenggara, memiliki kebiasaan mengkonsumsi olahan singkong, jagung sebagai makanan pokok dan tentu saja ikan yang masih segar. Pangan non-nasi ini bahkan tetap nikmat ketika disantap tanpa tambahan lauk dan sayur.

Sebagian besar makanan (kuliner) tersebut pembuatannya terlihat sederhana. Mulai dari pemilihan bahan-bahan, cara memasak, hingga penyajian tidak begitu rumit. Karena, bahan utamanya memanfaatkan komoditas yang banyak ditemui di sana. Seperti ketela pohon (singkong) dan berbagai jenis ikan yang melimpah di perairan Buton dan Wakatobi.
Makanan Khas Sehari-hari
Di antara kuliner kedua pulau ini, yakni: kasoami, kapussu, hugu-hugu dan otak-otak (dari ikan). Makanan tersebut merupakan suguhan utama yang diberikan masyarakat Buton dan Wakatobi kepada tamu. Semuanya merupakan makanan sehari-hari masyarakat kedua daerah tersebut. Wisatawan yang berkunjung ke Buton dan Wakatobi pun, tidak perlu khawatir untuk mendapatkan makanan khas kedua daerah tersebut. Makanan tersebut gampang dijumpai mulai dari tingkat rumah makan atau warung-warung pinggir jalan. 

Kasoami dan Hugu-Hugu 

Kedua makanan ini sama-sama terbuat dari singkong. Biasanya di sajikan dengan ikan, baik itu ikan asin, ikan bakar atau pun yang di masak. Untuk jenis ikannya bisa apa saja, cuma sebagian besar dibakar. Makanan ini terasa lebih nikmat saat di santap menjelang malam hari dengan lauk ikan bakar. Warga di sana, biasanya sambil kumpul-kumpul dan dibarengi minum teh saat menikmati makanan khas tersebut.

Kasoami & Hugu-Hugu
Untuk proses pembuatan kasoami dimulai dengan pemilihan singkong yang bagus. Setelah dibersihkan, singkong itu di parut kemudian diperas. Saat pemerasan dibutuhkan peralatan khusus, walau masyarakat umum biasa menggunakan tangan saja. Bantuan peralatan intinya berfungsi untuk bagaimana agar ubi yang diperas bisa cepat kering.

Setelah dipastikan ubi sudah kering maka proses berikutnya adalah pekerjaan pengukusan. Media pengukusan biasanya terbuat dari daun kelapa yang sudah dianyam dan berbentuk topi seperti piramida/kerucut. Ditambah kacang merah dan kelapa lalu dimasak dengan cara di kukus, kasoami bisa dikatakan mirip getuk, namun rasanya agak tawar dengan sedikit gurih.

Sedangkan Hugu-Hugu juga dibuat dari singkong kukus yang ditambah parutan kelapa, mirip urap singkong. Namun, makanan yang satu ini memiliki keunikan karena singkongnya berwarna hitam. Warna ini didapat karena singkong yang telah dicincang kasar dijemur lebih dulu selama berhari-hari hingga berwarna hitam. Masyarakat Buton dan Wakatobi menjadikan makanan ini sebagai pengganti nasi. Dan setiap wisatawan domestik dan mancanegara yang pernah ke sana mengatakan seperti makan roti saat menikmati Kasoami dan Hugu-Hugu. 

Kapussu Nosu 

Makanan khas lainnya yang cukup terkenal di wilayah Buton dan Wakatobi, yakni Kapussu Nosu. Bahan utama makanan ini berupa jagung tua yang memang mudah didapatkan di sana. Masyarakat Buton dan Wakatobi, biasanya memiliki ladang yang di tanami singkong atau jagung. Jadi seperti membuat kasoami yang berbahan baku singkong, pembuatan kapussu nosu pun tidak terlalu sulit, karena bahan dasarnya mudah didapatkan.

Kapussu Nosu
Makanan kapussu nosu menjadi salah satu favorit selain kasoami. Cari membuatnya pun sangat sederhana. Pertama perlu dikumpulkan bahan-bahan berupa jagung tua, santan kelapa dan garam secukupnya. Jika takaran jagung tua banyaknya 1 kg, maka santan kelapanya cukup 750 cc.

Proses pembuatannya dimulai dengan menumbuk jagung terlebih dahulu. Biar lebih gampang bantu dengan sedikit air. Jagung yang sudah ditumbuk kemudian direbus hingga terlihat lunak. Air rebusan jagung kemudian dibuang. Sebelum dimasak, campur santan kental bersama jagung. Sambil menunggu proses masak aduk terus dan beri garam secukupnya. Setelah terlihat mengental, baru diangkat. Kapussu Nosu lebih nikmat disantap bersama ikan kering dan sambal terasi. 

Otak-otak 

Kuliner yang satu ini di jamin membuat anda ketagihan jika sudah mencobanya. Menurut saya otak-otak khas Buton dan Wakatobi adalah otak-otak paling enak. Otak-otak kedua daerah ini dibuat dari ikan atau sotong (cumi) yang masih segar karena baru ditangkap dari laut.  Tekstur otak-otak di sini tidak kenyal tetapi agak lembut karena tidak terlalu banyak memakai tepung sagu. Dengan dibungkus daun kelapa dan daun pisang, aroma otak-otak khas Buton dan Wakatobi yang telah dipanggang sangat khas dibandingkan dengan otak-otak-otak dari daerah lainnya. Harum baunya langsung menyergap hidung begitu pertama kita membuka bungkusnya. Hhhmmm… 

Ikan Parende 

Jalan-jalan ke Kab. Buton dan Wakatobi jangan lupa mencicipi juga masakan yang bernama ikan parende. Jenis makanan ini cukup terkenal di sana. Wilayah perairan Buton dan Wakatobi yang cukup panjang, sangat kaya akan berbagai jenis ikan. Namun, untuk membuat Ikan Parende, masyarakat di sana biasanya menggunakan ikan kakap merah.

Ikan Parende
Melihat sajiannya, masakan ikan parende lebih mirip sop ikan yang biasa ditemui di daerah Jawa. Mungkin yang menjadi spesial untuk menu ikan parende, yakni memilih ikan kakap merah. Pada tradisi zaman dahulu, ikan kakap merah merupakan makanan masyarakat kelas atas. Tidak heran jika para nelayan Buton dan Wakatobi, jika mendapatkan tangkapan ikan kakap merah diserahkan kepada sultan. Namun sekarang ikan kakap merah sudah menjadi makanan masyarakat umum. Selain itu, ikan Parende pun bisa dari jenis ikan lainnya.

Bahan yang perlu dikumpulkan untuk pembuatan ikan parende, yakni ikan kakap merah 500 gram dipotong menjadi enam bagian, 1.500 ml air putih, dua batang daun sereh, satu lembar daun salam, empat buah jeruk nipis (peras dan ambil airnya). tiga batung daun kemangi yang sudah diris-iris, tiga butir bawang merah (iris tipis), tiga buah belimbing wuluh, dua buah tomat hijau, satu batang daun bawang (iris tipis), enam buah cabai rawit, merica, garam, dan gula secukupnya.

Pembuatan ikan parende diawali dengan memasak air hingga mendidih, kemudian ikan kakap merah di masukan. Bersamaan dengan itu di masukan pula sereh dan daun salam  di dalam air mendidih tadi. Setelah ikan terlihat matang.baru tambahkan tomat,  bawang merah, daun kemangi, belimbing wuluh, jeruk nipis, daun bawang, cabai rawit, garam, merica dan gula. Untuk menambah kenikmatan bisa pula ditaburkan bawang goreng, setelah masakan tadi sudah matang.

Itulah sebagian kuliner khas Buton dan Wakatobi yang sederhana tapi mengundang selera. Masih banyak kuliner lain khas kedua daerah tersebut. Nanti di lain kesempatan akan saya bahas lebih detail lagi. Bagi yang penasaran dengan kuliner khas kedua daerah tersebut, wisata kuliner khas Buton dan Wakatobi patut dicoba dan di masukan dalam daftar rencana liburan anda.

Untuk ke sana sudah bisa di tempuh dengan perjalanan darat (untuk wilayah sulawesi), laut dan udara. Jika anda  suka perjalanan menantang, rute perjalanan laut bisa dijadikan sebagai alternatif dari tiga rute pilihan yang ada. Semoga apa yang saya tulis ini bermanfaat bagi para pembaca dan bisa dijadikan sebagai salah satu referensi bagi anda yang merencanakan liburan jauh-jauh hari sebelumnya. 

Selamat Menikmati…

Makassar, 30 Maret 2015

Catatan :
*Tulisan ini di ambil dari akun Kompasiana saya dan terpilih sebagai pemenang kedua lomba tentang kuliner yang di adakan oleh Kemenprarekraf* 

24 komentar:

  1. waduh...bener2 mengundang selera deh...dan sukses bikin aku lapar :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha.... luamayan tuh buat makan siang Mba Dwi Puspita.

      Hapus
  2. :v itu kapusu kayak bubur jagung sama mutiara kalau dijawa. Apa sama yaa? Haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau bubur jagung bisa jadi, tapi gak pakai sagu mutiara. Kalau di tempat saya seperti yang ada di penjelasan di atas.

      Hapus
  3. Wah pokoknya kapan2 kalo main ke sulawesi harus mainke rumah bang timur matahari nih. Biar di kasih otak-otak dan makanan khas sulawesi yg lainnya hehehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha..... Boleh-boleh, di terima dengan senang hati.

      Hapus
  4. Luar biasa ya, citra rasa masakan Nusantara. Sayangnya saya belum pernah mencoba yang ini, Mas! Jadi pengen nyoba deh nanti, kalo ada kesempatan. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kapan-kapan di coba mba kalau ada kesempatan. Enak loh makanannya.

      Hapus
  5. mmm ikannya rasanya gimana ya? agak kurang suka ikann

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ikannya enak karena di kampung saya rata-rata ikan yang di jual masih segar alias baru di tangkap. Malahan kadang masih bergerak, beda dengan di kota yang lebih lama matinya daripada hidupnya dan sudah tercemar limbah kapal dan lain sebagainya.

      Hapus
  6. ikan parende wih seger kayaknya.... ya bener di jawa juga kayak ada tapi gak tau aku namanya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau di jawa lebih dominan berminyak ikan masaknya dan di tambah bawang dikit. Kalau parende gak.

      Hapus
  7. Parende Ikan Kakap, mas itu kayak ikan gangan ya dari daerah saya . ikan nya apa tuh. menggoda banget harumnya

    BalasHapus
  8. Kapusu Nosu sepertinya enak buat sarapan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, enak. Pas buat sarapan sekaligus pengganti nasi.

      Hapus
  9. saya bangga bangat jadi penduduk wakatobi....
    teman2 mari kita jaga makanan khas daerah kita, jangan sampai hilang di telan waktu....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju, mari kita jaga dan lestarikan makanan khas Wakatobi agar tetap bertahan sampai kapan pun.

      Hapus
  10. rasanya pengen pulang ke wakatobi....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mang sekarang tinggalnya dimana. Ayo sesekali pulang ke Wakatobi, kasihan kampung halaman kalau kelamaan di tinggalkan.

      Hapus
  11. nda ad kah penjelasan makanan sira,,,,,
    biar nanti buat di rumah, wkwkwk....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nanti saya coba carikan mengenai makanannya. Saya baru dengar juga soalnya sama makanan yang satu ini.

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...